Pengalaman Ajaib Menggunakan Tisu Jepang – Terminal Mojok

Pengalaman Ajaib Menggunakan Tisu Jepang

Artikel

Avatar

Tisu diciptakan untuk memudahkan kita untuk membersihkan sesuatu. Saat ini tisu menjadi alternatif daripada menggunakan kain. Konon tisu mulai digunakan orang Tiongkok pada abad ke-14. Kalau sekarang sih, kita mengenal macam-macam tisu kayak tisu makan, tisu toilet, dan tisu basah. Yah, walau tidak jarang orang Indonesia kebanyakan menempatkan tisu tidak sesuai fungsinya dengan alasan harga. Pasti pernah kan menjumpai tisu toilet yang berupa gulungan di warung makan? Sejauh ini sepertinya kita baik-baik aja sih sama disfungsi tisu ini, hahaha.

Ngomong-ngomong saya pernah mendapati salah satu tisu yang unik yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Kamu tidak akan menemui jenis tisu ini di toilet, di warung makan, atau di saku karena fungsinya bukan buat cebok atau lap mulut. Namanya tisu Jepang dan harganya sangat mahal. Pengalaman saya menggunakan tisu Jepang ini saya alami di tempat magang yang saat ini saya jalani.

Kira-kira tempat magang seperti apa yang memiliki benda sejenis tisu? Warung makan? Restoran? Ah, salah besar. Tempat magang saya saat ini adalah salah satu institusi milik pemerintahan yang lumayan terkenal di Kota Surakarta. Hal yang mengejutkan, tisu ini memiliki harga Rp7 juta untuk satu gulungan sepanjang 50 meter.

Saya juga tidak tahu bagaimana reaksi Anda melihat angka ini. Mungkin biasa saja atau terkejut. Jika kita umpamakan, tisu Jepang yang seharga Rp7 juta itu akan setara 700 bungkus tisu biasa yang akan membuatmu terlihat seperti pedagang tisu.

Baca Juga:  Skenario yang Terjadi kalo Dilan dan Milea Tidak Putus Asmara

Harga tisu Jepang yang terbilang mahal itu disebabkan oleh kegunaan tisu itu sendiri yang bukan untuk keperluan sehari-hari, melainkan untuk keperluan konservasi benda-benda lama yang terbuat dari kertas.

Sebagai orang awam yang baru mengetahui jenis tisu ini, tisu Jepang sangat ajaib bagi saya. Sebab, benda-benda yang terbuat dari kertas, seperti koran lama yang sudah hampir sobek, dapat disatukan kembali menggunakan tisu Jepang.

Sebagai contoh, institusi tempat saya magang ini memiliki fungsi salah satunya menjaga, melestarikan, serta memanfaatkan benda-benda lama yang ada, seperti koran yang berumur puluhan tahun. Koran yang sudah berumur puluhan tahun ini cenderung rapuh atau mudah sobek. Tisu Jepang merupakan jawaban atas masalah bagi koran yang mudah rapuh atau sobek tersebut.

Lalu, bagaimana tisu Jepang dapat membuat kertas-kertas yang sudah sobek atau rapuh tersebut kembali pada kondisi yang baik?

Menurut pengamatan saya, tisu ini harus ditempelkan pada kertas yang rapuh atau sobek, lalu direkatkan menggunakan lem khusus yang berbahan dasar kimia bernama CMC 1500 CPS, yaitu sejenis bubuk yang mampu mengentalkan larutan dan aquades (air murni tanpa kandungan mineral).

Kedua bahan yang sudah dicampurkan tersebut digunakan untuk bahan dasar lem guna merekatkan tisu Jepang. Namun, larutan yang menjadi lem ini tidak lengket sama sekali ketika tersentuh oleh kulit.

Baca Juga:  Diusir dari Kantor Polisi karena Pakai Sandal Jepit. Emang Ada Aturannya?

Tisu Jepang dan lem ini menjadi kombinasi untuk merekatkan kembali benda rapuh atau sobek yang terbuat dari kertas. Dengan mudahnya, kertas yang berusia puluhan tahun mudah dikembalikan pada bentuknya walaupun tidak mirip kondisi awal.

Bagi kamu yang suka melihat arsip-arsip berupa koran atau majalah yang berusia puluhan tahun dan masih terlihat bagus, mungkin saja hal itu tertolong oleh tisu Jepang.

Sekedar informasi dan saran, tisu Jepang yang berkombinasi dengan larutan CM 1500 dan Aquades tidak dapat memperbaiki hati dan hubunganmu dengannya yang sudah mulai rapuh.

Photo by Марьян Блан | @marjanblan on Unsplash

BACA JUGA Nggak Cuma Bikin Tahan Lama, Tisu Magic Diklaim Bisa Jadi Obat Pereda Nyeri 

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
6


Komentar

Comments are closed.