Patjar Merah, Festival Literasi, dan Melawan Mitos

Patjar Merah

Patjar Merah

Tidak seperti hari biasa. Sebuah gedung di samping SMA Panjura Malang terlihat ramai. Ada yang mengangkat kardus, ada yang menempel poster bermacam ukuran, ada yang membawa aneka makanan dan minuman pula. Apa sebab dari keramaian tersebut?

Rupanya akan digelar festival literasi. Begitu mereka menyebutnya. Ada yang menyebutnya bazar buku, karena banyak buku murah. Ada yang menyebut pameran buku, karena buku-buku yang mereka bawa, ditunjukkan kepada khalayak ramai. Kalau ada yang membeli, tentu rejeki bagi mereka.

Festival itu bernama Patjar Merah. Nama dengan ejaan lama. Namun, bukan patjar sebagaimana muda-mudi saling memadu kasih. Saya pun tak peduli juga kenapa namanya seperti itu. hehe

Festival Patjar Merah digelar untuk kedua kalinya, dengan kota Malang sebagai tuan rumah. Sebelumnya, Jogja didapuk sebagai shohibul hajat. Nampaknya kota Malang dipilih karena iklim literasinya yang kondusif, begitu kata sebagian teman.

Adanya festival diatas nampaknya sebagai usaha melawan mitos. Mitos tentang literasi Indonesia yang dianggap rendah dan generasi sekarang yang suka ‘menunduk’. Sebagai tambahan, festival literasi ini dihelat pada tanggal 27 Juli sampai 4 Agustus kemarin. Bila kebetulan tulisan ini naik tayang, acara tersebut sudah usai. hehe

Patjar Merah hadir karena ingin mendekati generasi ‘menunduk’. Istilah generasi ‘menunduk’ banyak dialamatkan pada generasi milenial jaman sekarang. Sebuah kebiasaan memandang gawai masing-masing dengan menunduk. Bahkan hal itu masih sempat dilakukan sembari berjalan kaki.

Memang, banyak orang tetap ‘menunduk’ di Patjar Merah. Tapi mereka tidak menunduk dengan gawai. Mereka menunduk dengan buku. Membaca sinopsis buku. Melihat desain kover buku. Mungkin juga menunduk untuk melihat harga buku. Lalu dipinanglah buku idaman. Memang terlihat banyak orang menunduk, tapi keramaian terdengar sayup-sayup. Pandangan mata, pikiran pengunjung, fokus pada buku yang mereka tuju.

Mungkin keramaian yang ada hanya berasal dari suara pengeras suara. Karena ada bedah buku, talkshow, dan acara lain yang butuh pengeras suara. Selebihnya, hanya suara keranjang pengunjung yang diseret mengitari stan-stan buku. Kalau cocok, lempar ke keranjang. Hingga tak terasa keranjangnya penuh buku.

Lalu, melawan mitos literasi Indonesia yang rendah. Pengunjung festival Patjar Merah bisa dibilang antusias. Secara kasat mata, nampak ratusan orang setiap hari masuk keluar lokasi festival. Tidak hanya membeli buku, mereka antusias dengan acara-acara yang digelar festival tersebut. Dari bedah buku hingga pemutaran film pendek. Apalagi ditambah faktor banyak kampus di Malang sedang libur, bila dilihat dari kalender akademik.

Beberapa narasumber juga diundang mengisi acara di festival tersebut. Seno Gumira Ajidarma, Ivan Lanin, Kalis Mardiasih, Ach. Dhofir Zuhry, Puthut EA, dan masih banyak lagi. Para narasumber berkumpul untuk saling berbagi hal ihwal penulisan, pembuatan konten, yang tentu diakhiri dengan acara inti, berfoto bersama.

Hal demikian sangat perlu mendapat apresiasi. Dengan usaha diatas, setidaknya ada perlawanan terhadap mitos literasi Indonesia yang dianggap rendah. Tetaplah menyebar literasi kemana pun diri berada, walau dalam bentuk sekecil apapun. Berjuang demi si doi saja siap hingga berdarah-darah, berjuang sedikit demi literasi, apa sudah tak punya gairah? Wallahu a’lam. (*)

 

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) yang dibikin untuk mewadahi sobat julid dan (((insan kreatif))) untuk menulis tentang apa pun. Jadi, kalau kamu punya ide yang mengendap di kepala, cerita unik yang ingin disampaikan kepada publik, nyinyiran yang menuntut untuk dighibahkan bersama khalayak, segera kirim naskah tulisanmu pakai cara ini.

Exit mobile version