Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Parung Panjang: Surga Truk Tambang, tapi Neraka bagi Komuter

Janzuar Ramadhany oleh Janzuar Ramadhany
12 Oktober 2025
A A
Parung Panjang: Surga Truk Tambang, tapi Neraka bagi Komuter

Parung Panjang: Surga Truk Tambang, tapi Neraka bagi Komuter

Share on FacebookShare on Twitter

Macet Parung Panjang yang tidak masuk akal selama beberapa bulan terakhir bikin saya akhirnya angkat tangan. Terutama sejak proyek perbaikan jalan dimulai pertengahan Juni lalu. Jalanan menyempit, arus kendaraan dibuat bergantian, antrean bisa berjam-jam. Pilihan paling waras untuk tetap bisa ke kantor di Jakarta ya cuma satu: naik KRL dari Stasiun Parung Panjang ke Palmerah.

Saya tidak tiba-tiba jadi penggemar transportasi massal. KRL penuh sesak, desak-desakan, kadang bikin kemeja lecek sebelum sampai kantor. Tapi setidaknya waktu tempuh bisa diprediksi. Bandingkan dengan jalan raya, di mana hidup warga rasanya seperti eksperimen kesabaran kolektif.

Sebenarnya masalah ini bukan baru kemarin sore. Sejak era Ridwan Kamil menjabat Gubernur Jawa Barat, persoalan tambang Parung Panjang sudah jadi sorotan. Tahun 2020, Emil bahkan pernah menjanjikan pembangunan jalur khusus tambang. Janjinya terdengar manis, tapi hingga sekarang jalur sepanjang 13 kilometer dari Cigudeg ke Rumpin itu belum juga selesai. Warga keburu bertahun-tahun jadi korban macet dan debu, sementara truk tetap melintas setiap hari.

Tonase truk berbobot hingga 40 ton jelas mustahil bersahabat dengan jalan umum. Fakta dari Dishub Jawa Barat mencatat, rata-rata ada sekitar 1.600 rit melintasi Parung Panjang setiap hari. Bayangkan: aspal biasa yang mestinya menampung motor, mobil keluarga, atau angkot, dipaksa menanggung beban industri tambang. Sudah tentu cepat rusak, bolong di sana-sini, lalu sekarang ditambal dengan proyek perbaikan yang justru bikin jalan makin sempit. Warga pun harus menanggung “pajak sabar” harian di jalur ini.

Truk, penyumbang kemacetan terbesar di Parung Panjang

Yang bikin tambah naik darah, truk-truk ini bukan hanya sumber kerusakan jalan, tapi juga penyumbang macet dengan caranya sendiri. Mogok seharian di pinggir jalan sudah biasa. Kadang karena patah as roda, mesin mati total, atau kerusakan rem. Tapi anehnya, truk itu bisa dibiarkan berjam-jam tanpa ada tindakan berarti.

Saya sendiri pernah berangkat kerja jam tujuh pagi, melihat satu truk mogok di pinggir jalan Parung Panjang. Pulang jam sepuluh malam, truk itu masih ada di tempat yang sama, seperti artefak. Pertanyaannya: ngapain aja pihak berwenang sepanjang hari?

Ada juga pemandangan absurd tiap malam. Menurut Peraturan Bupati Bogor Nomor 56 Tahun 2023 Pasal 5 ayat (1), kendaraan tambang hanya boleh beroperasi pukul 22.00 sampai 05.00 WIB. Maksudnya jelas: supaya aktivitas warga di siang dan sore tidak lumpuh total.

Tapi praktiknya, sejak pukul 9 malam atau bahkan sebelumnya, truk-truk sudah antre berkilometer di depan plang larangan operasi. Setengah badan jalan dipakai untuk parkir massal. Supirnya santai: mesin dimatikan, mengobrol, merokok, jajan di warung. Jalan umum pun berubah jadi terminal dadakan. Mungkin mereka berdalih: selama roda tidak berputar dan truk tidak melintasi plang, berarti belum “beroperasi”. Celah bahasa hukum inilah yang membuat jalan warga disulap jadi garasi gratisan raksasa.

Baca Juga:

Konten tidak tersedia

Kerugiannya nyata. Pedagang bisa rugi karena terjebak macet berjam-jam di jalan menuju pasar. Pekerja kehilangan kesempatan wawancara kerja karena telat datang. Ada yang ketinggalan pesawat, rugi jutaan rupiah hanya karena perjalanannya menuju bandara terhenti total. Semua ini hanya segelintir contoh. Kalau ditotal, kerugian ekonomi akibat “pajak sabar” Parung Panjang mungkin bisa mencapai miliaran rupiah setiap hari.

Kecelakaan sudah seperti rutinitas

Lebih parah lagi, risiko nyawa pun ikut dipertaruhkan. Media lokal mencatat, kecelakaan di jalur Parung Panjang sudah seperti rutinitas. Dari yang ringan, seperti motor terserempet spion truk, hingga yang berat, menelan korban jiwa. Mojok bahkan menyebut kecelakaan di jalur ini sebagai “fenomena sehari-hari”. Truk tambang yang rem blong, menabrak mobil pribadi, atau menggencet pengendara motor—itu bukan berita langka, melainkan pemandangan berulang. Warga hidup dalam bayang-bayang maut setiap kali melintasi jalur ini.

Hari ini, saya membaca kabar terbaru: Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi akhirnya memutuskan menutup sementara operasional tambang Parung Panjang. Katanya, ini demi memberi napas bagi warga yang sudah bertahun-tahun tercekik macet, debu, dan bising mesin. Di KRL yang penuh sesak, kabar ini sempat membuat saya sedikit lega. Bayangan jalan kosong tanpa antrean truk terasa seperti mimpi indah.

Tapi penutupan ini rasanya seperti jeda iklan, bukan akhir cerita. Tanpa jalur khusus tambang yang benar-benar berfungsi, tanpa pengawasan ketat aparat, besar kemungkinan truk-truk itu akan kembali dengan pola lama. Mungkin lebih diam-diam, tetap saja kucing-kucingan. Warga pada akhirnya masih harus menanggung akibatnya.

Parung Panjang ini akhirnya terasa seperti toxic relationship: bikin sengsara, tapi sulit ditinggalkan. Saya sudah memilih pindah ke KRL, meski penuh sesak, setidaknya waktunya lebih bisa ditebak. Harapan saya sederhana: aturan ditegakkan lebih tegas, jalur khusus benar-benar dibangun, dan jalan warga tidak lagi jadi korban industri tambang. Sampai hari itu tiba, Parung Panjang akan tetap jadi ironi: surga bagi truk tambang, tapi neraka bagi komuter.

Penulis: Janzuar Ramadhany
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Penambang Pasir Sembrono Bikin Resah Warga Lereng Gunung Merapi

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 14 Oktober 2025 oleh

Tags: galian tambangkemacetan di parung panjangparung panjangtruk tambang
Janzuar Ramadhany

Janzuar Ramadhany

Penulis adalah praktisi yang bekerja di bidang manajemen risiko industri teknologi finansial. Menaruh perhatian atas isu-isu infrastruktur dan sosial.

ArtikelTerkait

Konten tidak tersedia
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Warga Pasar Minggu Jaksel Adabnya Nol Besar di Jalanan, Pantas Menyandang Gelar Paling Nggak Taat Aturan Lalu Lintas Mojok.co

Warga Pasar Minggu Jaksel Adabnya Nol Besar di Jalanan, Pantas Menyandang Gelar Paling Nggak Taat Aturan Lalu Lintas

6 April 2026
Suzuki Katana Adalah Mobil yang Menyalahi Logika, Banyak Orang Menyukainya walau Jadul dan Kerap Bikin Sakit Pinggang Mojok.co

Suzuki Katana Adalah Mobil yang Menyalahi Logika, Banyak Orang Menyukainya walau Jadul dan Kerap Bikin Sakit Pinggang

1 April 2026
7 Indikator Purwokerto Salatiga Daerah Terbaik di Jawa Tengah (Unsplash)

Purwokerto Nyaman, tapi Salatiga yang lebih Menjanjikan Jika Kamu Ingin Menetap di Hari Tua

1 April 2026
Warung Makan Padang di Jawa Banyak yang Ngawur. Namanya Saja yang “Padang”, tapi Jualannya Lebih Mirip Warteg Mojok.co

Warung Makan Padang di Jawa Banyak yang Ngawur. Namanya Saja yang “Padang”, tapi Jualannya Lebih Mirip Warteg

5 April 2026
Sebagai Buruh Pabrik, Saya Juga Ingin WFH Seperti ASN (Shutterstock)

Sebagai Buruh Pabrik, Saya Juga Ingin WFH Seperti ASN

3 April 2026
Hidup di Desa Nggak Selamanya Murah, Social Cost di Desa Bisa Lebih Mahal daripada Biaya Hidup Sehari-hari karena Orang Desa Gemar Bikin Hajatan

Pindah ke Desa Bukan Solusi Instan Saat Muak Hidup di Kota Besar, apalagi bagi Kaum Introvert, Bisa-bisa Kena Mental

5 April 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Kuliah Kebidanan sampai “Berdarah-darah”, Lulus dari World Class University Masih Sulit Cari Kerja dan Diupah Nggak Layak
  • Makin Muak ke Ulah Pesilat: Perkara Tak Disapa Duluan dan Beda Perguruan Langsung Dihajar, Dikasih Fakta Terang Eh Denial
  • Terpaksa Kuliah di Jurusan yang Tak Diinginkan karena Tuntutan Beasiswa, 4 Tahun Penuh Derita tapi Mendapatkan Hikmah Setelah Lulus
  • Deles Indah, Bukti Klaten Punya Harga Diri yang Bisa Kalahkan Jogja dan Solo sebagai Tempat Wisata Populer
  • Orang Jakarta Nyoba Punya Rumah di Desa, Niat Cari Ketenangan Berujung Frustrasi karena Ulah Tetangga
  • Kuliah di Jurusan Paling Dicari di PTN, Setelah Lulus bikin Ortu Kecewa karena Kerja Tak Sesuai Harapan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.