Pantai Semilir Tuban menunjukkan bahwa kawasan industri dan ruang wisata alam tidak selalu harus saling meniadakan
Libur sekolah selalu punya efek berantai di keluarga saya. Yang pertama senang tentu adik saya yang masih duduk di bangku sekolah. Yang kedua, istri saya. Sebab meskipun statusnya sudah bukan pelajar lagi, ia tetap ikut menikmati libur panjang karena profesinya adalah guru.
Maka ketika kalender menunjukkan masa libur sekolah telah tiba, saya seperti mendapat tugas sebagai sopir keluarga. Adik saya mulai menyusun daftar tempat yang ingin dikunjungi, sementara istri saya diam-diam sudah mencari referensi wisata di media sosial. Saya sendiri cuma kebagian satu peran: memastikan mobil cukup bensin untuk diajak jalan jauh.
Tradisi pulang kampung ke Blora pun kembali kami jalankan. Selain untuk menjenguk keluarga, momen liburan selalu menjadi alasan yang pas untuk sedikit kabur dari rutinitas pekerjaan yang belakangan terasa menumpuk.
Namun kali ini kami tidak ingin hanya berdiam diri di rumah. Setelah beberapa hari menikmati suasana Blora yang tenang dan menyusuri kawasan hutan jati yang membentang di berbagai sudut kabupaten, kami memutuskan mencari destinasi lain yang menawarkan pemandangan berbeda.
Pilihan itu akhirnya jatuh pada Pantai Semilir Tuban. Jaraknya memang tidak terlalu dekat dari rumah keluarga saya di Blora, tetapi rasa penasaran kami jauh lebih besar daripada keinginan untuk rebahan di rumah.
Lagi pula, setelah berhari-hari ditemani hijaunya hutan jati dan panasnya jalanan Blora, rasanya tidak ada obat yang lebih mujarab untuk melepas lelah selain duduk di tepi pantai sambil mendengar suara ombak.
Menyusuri jalan perbatasan di Hutan Blora
Menuju Pantai Semilir, saya sengaja mengambil rute melalui Kecamatan Bogorejo, Blora. Pilihan ini sebenarnya bukan satu-satunya. Kalau ingin jalan yang lebih ramai, saya bisa saja mengarah ke timur melewati jalur nasional Cepu–Bojonegoro, lalu melintas Purwosari, Kalitidu, sebelum akhirnya tiba di Kota Bojonegoro dan melanjutkan perjalanan ke Tuban.
Namun, perjalanan liburan rasanya kurang afdal kalau hanya bertemu deretan truk dan kendaraan besar. Oleh karena itu, saya lebih memilih rute Bogorejo. Jalannya memang didominasi jalan pedesaan yang membelah kawasan hutan jati. Terlebih lalu lintasnya jauh lebih lengang, udara lebih segar, dan pemandangan yang tersaji benar-benar khas perbatasan Blora.
Sepanjang perjalanan, saya dan bapak bergantian memegang kemudi. Sesekali kami berpapasan dengan sepeda motor warga, truk pengangkut kayu, atau petani yang baru pulang dari ladang.
Selebihnya, yang menemani hanyalah barisan pohon jati yang berdiri rapat di kanan-kiri jalan. Tidak heran kalau Blora dijuluki sebagai salah satu kabupaten dengan kawasan hutan jati terluas di Pulau Jawa. Di beberapa titik, pepohonan itu bahkan membentuk lorong hijau yang membuat perjalanan terasa teduh sekaligus sunyi.
Suasana seperti ini memang amat menenangkan, tetapi lama-kelamaan juga menghadirkan rasa jenuh. Setelah puluhan kilometer melihat pemandangan yang nyaris seragam, saya mulai berharap segera melihat sesuatu yang berbeda.
Dan bagi saya, “sesuatu” itu adalah laut. Mungkin itulah alasan mengapa ketika akhirnya aroma air asin mulai tercium dan semilir angin pantai menyapa, rasa lelah selama perjalanan seolah langsung luruh begitu saja.
Pantai Semilir Tuban mengobati rasa jenuh dan lelah setelah menyusur hutan
Begitu memasuki kawasan Pantai Semilir, hal pertama yang saya rasakan bukan rasa takjub, melainkan rasa lega. Akhirnya perjalanan panjang yang didominasi hamparan hutan jati benar-benar terbayar.
Jika sebelumnya sudah disambut pemandangan hijau pepohonan yang mendominasi sepanjang perjalanan maka perlahan berganti dengan birunya laut dan langit yang seolah menyatu di kejauhan.
Yang membuat saya semakin senang pun tenang, biaya masuk ke Pantai Semilir Tuban amat ramah di kantong. Kami hanya membayar karcis kendaraan sebesar Rp10.000 untuk satu mobil. Tidak ada lagi tiket masuk tambahan per orang.
Bagi saya yang datang bersama keluarga, tarif seperti ini terasa sangat bersahabat. Terlebih uang yang tidak jadi keluar untuk membeli tiket bisa dialihkan untuk jajan es kelapa muda atau membeli camilan di sekitar pantai, jan syahdu poll.
Meski tiketnya murah, fasilitas yang tersedia terbilang cukup lengkap. Ada musala yang memadai bagi pengunjung yang ingin menunaikan salat, area parkir yang luas, warung makan, hingga beberapa titik kamar mandi yang bisa dipakai untuk membilas badan setelah bermain air laut atau sekadar menunaikan “panggilan alam”. Untuk ukuran destinasi wisata keluarga, fasilitas seperti ini jelas menjadi nilai tambah.
Antre lama di kamar mandi
Hanya saja, ada satu konsekuensi yang harus siap diterima jika datang saat musim liburan. Pantai Semilir ternyata cukup ramai. Keramaiannya paling terasa di area kamar mandi. Saya sendiri harus rela mengantre sekitar 10 sampai 15 menit hanya untuk bergantian membilas badan.
Jadi, kalau berencana bermain air sampai puas, jangan berharap bisa langsung mandi begitu selesai. Siapkan sedikit kesabaran, karena kemungkinan besar Anda akan menghabiskan beberapa menit berdiri di depan pintu kamar mandi sambil menunggu pengunjung lain selesai.
Namun, antrean itu rasanya masih masuk akal mengingat jumlah pengunjung yang datang memang tidak sedikit. Saya justru melihatnya sebagai tanda bahwa Pantai Semilir Tuban memang menjadi salah satu tujuan favorit warga sekitar Blora, Tuban, hingga Bojonegoro untuk menghabiskan akhir pekan atau musim liburan sekolah dengan harga ekonomi.
Suburnya sektor industri di sekitar Pantai Semilir
Kalau hanya melihat foto-fotonya di media sosial, mungkin tidak banyak yang menyangka bahwa Pantai Semilir Tuban berdiri berdampingan dengan salah satu kawasan industri terbesar di Jawa Timur.
Saya pun baru menyadarinya setelah datang langsung untuk berkunjung. Di balik semilir angin laut dan ramainya wisatawan, kawasan ini ternyata dikelilingi aktivitas industri yang menjadi penggerak ekonomi Kabupaten Tuban.
Pantai Semilir berada di Desa Socorejo, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban. Lokasinya bersebelahan dengan kawasan operasional PT Semen Indonesia (SIG). Bahkan Pantai Semilir sendiri merupakan kawasan wisata yang dibina melalui program tanggung jawab sosial (CSR) SIG.
Tidak jauh dari sana, Kecamatan Jenu juga berkembang sebagai pusat industri strategis nasional dengan hadirnya proyek kilang minyak dan petrokimia, termasuk proyek Grass Root Refinery (GRR) Tuban.
Barangkali di situlah letak daya tarik Pantai Semilir Tuban. Ia menunjukkan bahwa kawasan industri dan ruang wisata alam tidak selalu harus saling meniadakan. Selama pengelolaannya dilakukan dengan baik, keduanya justru dapat berjalan berdampingan.
Di satu sisi, kawasan industri menjadi penggerak ekonomi daerah. Di sisi lain, Pantai Semilir menyediakan ruang bagi masyarakat baik lokal maupun pendatang untuk beristirahat sejenak, menikmati aroma laut, sekaligus menghidupkan usaha-usaha kecil milik warga sekitar.
Yah itulah sekelebat kisah pengalaman saya berlibur di Pantai Sumilir Tuban. Kalau kebetulan Anda tinggal di sekitar Tuban, Blora, Bojonegoro, atau daerah sekitarnya, lalu sedang suntuk tetapi enggan melihat saldo rekening ikut menyusut setelah liburan, Pantai Semilir layak masuk daftar tujuan. Gass agendakan yok!!!
Penulis: Dimas Junian Fadillah
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
