Pantai Blimbingsari Banyuwangi itu ibarat surga bagi pecinta kuliner ikan bakar di Banyuwangi. Jaraknya dekat dengan bandara, suasananya yang syahdu dengan angin laut selatan yang jadi daya tarik wisatawan untuk datang. Belum lagi aroma bakaran ikan yang menggoda iman. Sebab sepanjang bibir pantai ini berderet warung-warung penjual ikan bakar yang menjadikannya destinasi favorit pendatang.
Namun, di balik keindahan itu, ada sisi gelap yang sering membuat pembeli pulang bukan dengan perut kenyang, melainkan dengan kekecewaan dan dompet yang ambyar. Berdasarkan pengamatan saya berikut adalah 3 dosa besar oknum pedagang ikan bakar di Pantai Blimbingsari Banyuwangi yang bikin pembeli kapok untuk kembali.
#1 Nama baik Pantai Blimbingsari yang tidak dijaga penjualnya
Entah sejak kapan Pantai Blimbingsari jadi ikon destinasi wisata kuliner ikan di Banyuwangi. Sejauh ingatan saya saat kecil dulu, saya sesekali diajak ke sini. Hingga tumbuh dewasa nama Blimbingsari selalu masyhur bagi wisatawan yang datang. Setidaknya itu yang saya dengar sebelum akhirnya memutuskan datang setelah lama tidak pernah sambang.
Nah ternyata kemasyhuran nama Pantai Blimbingsari tidak di jaga sepenuhnya oleh pengais rezeki di sana. Sebab saat saat datang bersama rombongan aktivitas getok tarif sangat kentara. Fyi, sebelum saya ke Pantai Blimbingsari saya sempat singgah untuk menikmati olahan ikan laut di Pantai Mandar, Banyuwangi Kota.
Herannya, untuk jenis ikan yang sama dan berat yang tidak jauh berbeda, bisa-bisanya harganya bak bumi dan langit. Niat mencari untung malah berakhir buntung, sebab pembeli kapok buat kembali.
#2 Bukti pembayaran manual cuma coretan kertas ala kadarnya
Entah ini hanya di satu warung saja atau semuanya. Tapi yang paling membuat saya dan beberapa teman sejawat janggal saat buka bersama di Pantai Blimbingsari Banyuwangi adalah struk pembayaran yang ditulis manual dengan pulpen dan harganya bikin kepala geleng-geleng. Ya motif memang satu, aji mumpung. Mumpung lagi puasa mumpung banyak agenda orang yang berbuka jadi dimanfaatkan semuanya. Tapi ya lagi-lagi, aji mumpung yang dipakai malah bikin pembeli urung kembali.
Padahal jika dibandingkan dengan olahan ikan laut di Pantai Mandar, Banyuwangi Kota semua pedagang di sana sudah kompak menggunakan struktur pembayaran yang terintegrasi dengan Bappeda Banyuwangi lewat program Sijakawangi. Di mana setiap makanan yang dibeli tentu sudah termasuk pajak 10%. Namun anehnya harga makanan yang sudah kena pajak dan yang belum malah justru mahalan yang belum karena ulah pedagang nakal di Pantai Blimbingsari yang lagi-lagi bikin kapok pembeli.
#3 Minim perhatian Pemda jadi membuat pedagang bebas getok tarif
Saya percaya Pemda Banyuwangi punya atensi lebih jika keluhan yang muncul beririsan langsung dengan pariwisata. Selain ceruk ekonomi yang besar, persoalan kecil dari ketidaknyamanan pembeli bisa menjadi bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Tentu Pemda tidak ingin itu terjadi bukan. Sehingga ada baiknya pemangku kebijakan memberikan atensi serius agar pedagang kuliner ikan di Pantai Blimbingsari tidak melakukan getok tarif.
Langkahnya juga perlu diupayakan dengan memilih opsi jangka panjang. Jangan hanya saat kasus muncul dan viral di medsos saja. Tapi Pemda juga harus memonitoring agar ulah pedagang yang main getok tarif segera tersadar dan tidak kambuh-kambuhan. Tanpa ada perhatian itu bisa saja pedagang jujur di Pantai Blimbingsari Banyuwangi akan kena imbasnya. Selain itu Pemda juga bisa menerapkan aturan yang sama seperti di sentra kuliner olahan Ikan Pantai Mandar Banyuwangi Kota dengan menyeragamkan bukti pembayaran.
Sebab dengan menyeragamkan bukti pembayaran dan menyinkronkan lewat program Sijakawangi maka potensi getok tarif akan bisa diminimalisir. Tentunya pembeli yang pernah kapok akan bisa kembali tentu dengan jaminan dari Pemda Banyuwangi. Berani tidak, Bu Ipuk?
Penulis: Ferika Sandra
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA 5 Hal yang Perlu Kalian Ketahui Sebelum Liburan ke Banyuwangi
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
