Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Featured

Panggil Kami Keumalahayati dan Patmi Saja

H.R. Nawawi oleh H.R. Nawawi
13 Mei 2019
A A
perempuan kuat

perempuan kuat

Share on FacebookShare on Twitter

Saya ingin mengucapkan selamat Hari Kartini kemarin, tapi kok ya takut di bilang Jawasentris—penganut orba—dan tidak mau mengakui sosok pahlawan lain yang lebih berdarah-darah (secara fisik) memperjuangkan tanah dan air seperti Keumalahayati yang non-Jawa. Namun saat ingin mengakui laksamana perempuan (Islam pula) Aceh satu ini, saya kok takut dikira pro dengan GAM—dengan para penanam ganja—juga dengan daerah yang dipenuhi praktek Syariat Islam sebagai hukum bersosial.

Namun reputasi beliau tidak bisa dilupakan, apalagi saat menang duel di geladak kapal dengan Cornelis de Houtman, seorang pimpinan Belanda dibunuh dengan rencong di tangannya—juga di saat yang sama telah mengakomodir para perempuan. Keumalahayati atau biasa disebut Laksamana Malahayati, pemimpin para janda yang tangguh. Ia perempuan yang pernah mengenyam pendidikan militer jurusan Angkatan Laut di Baitul Maqdis. Lalu peristiwa Teluk Haru yang berdarah-darah merebut suaminya yang tumbang dalam pertahanan, ia dengan segala ketersiksaan sebagai janda bersama ibu-ibu lainnya menyusun barisan dan melawan.

Juga beberapa tahun lalu, seorang ibu-ibu paruh baya bernama Ibu Patmi meninggal saat membela tanah Kendeng. Bu Patmi melawan seperti ledakan emosi Malahayati dengan cara yang begitu lain, perlawanan yang semenjana, sangat dramatik sebagai sebuah performance art saat menyemen kakinya berhari-hari, dan sekarang telah menjadi mendiang.

Kutarik kesimpulan sementara, perempuan-perempuan itu selalu punya cara untuk melawan. Dan sudah seharusnya perempuan tidak punya persentase lebih tinggi di dapur, kamar, sumur daripada laki-laki.

Namun, bagaimana hari ini mengukur emansipasi, dan seperti apa kesataraan ruang publik bagi perempuan yang dibutuhkan? Karena beberapa tahun lalu saya bertanya kepada teman-teman perempuan saya sebelum debat antar fakultas di salah satu kampus jogja: bagaimana pendapat kalian bila seorang pemimpin itu perempuan? Jawab mereka ringan, seperti ingin mengulang penjelasan yang sudah ada bahwa bumi harus diurus kholifah, artinya jika selama ada laki-laki kenapa mesti perempuan yang memimpin.

Maksud saya bagaimana mengukur kesetaraan atau kebebasan perempuan jika dalam diri mereka sendiri bermasalah? Semua begitu adanya karena laki-laki bung! Makanya perempuan begitu. Laki-laki patut disalahkan, karena mereka semua bagian dari ketertindasan perempuan—ungkap salah satu kawan yang mendaku dirinya seorang Feminis.

Lalu saya tidak mau komentar-komentar lagi, biarlah perempuan menemukan cara melawan sendiri jika sudah begitu. Tapi saya melihat isapan jempol nama Kartini dalam setiap perhelatan negara. Artinya bukan masyarakat yang membutuhkan Kartini, melainkan negara ingin menjejali pengetahuan dan ingin berkata ini lo tokoh perempuan jawa yang melawan dengan keinginan kuat agar perempuan berdaya dan mampu ikut serta memikirkan tanah dan air yang di injak-injak para penjajah.

Hari ini, di kota-kota besar semakin menunjukkan ruang bebas bagi perempuan. Bahkan “gegar budaya” yang dirasakan oleh Ben Anderson saat pertama kali di Jakarta sudah lain. Ia dulu berkata “mengapa perempuan harus rumit mengurus izin keluar saat malam hari, dibanding seorang anak laki-laki?” dan saya terus membaca Hidup di Luar Tempurung karya si Om Ben, dan diwaktu yang sama ibu saya melarang anak—anak perempuannya kuliah jauh-jauh. Kalaupun jauh, harus jelas yang akan menjaganya! Kalo anak laki-laki terserah. Ibu minta khusus anak perempuan biar ibu yang menentukan. Aku dan saudara-saudara yang lain diam dan tak mampu mengatakan dunia sudah berubah dari zaman yang ibu rasakan.

Baca Juga:

Tempat Lahirnya Para Pahlawan, Satu-satunya Hal yang Bisa Dibanggakan dari Purworejo

4 Hal yang Perlu Dipertimbangkan Perempuan Sebelum Tinggal di Kos Campur

Namun bila kembali menelusuri jejak si Laksamana perempuan pertama, apakah sikap patriotisme Malahayati tumbuh seperti Gayatri yang juga harus meneruskan kerajaan yang baru berdiri saat Raden Wijaya mendiang? Kami sebagai generasi millenial mendapati kesulitan untuk mendapati beberapa buku tentang kedua tokoh ini. Singkatnya, tidak mudah mendapatkan data biografi mereka.

Tapi di kesempatan lain, saat saya selo, ada berita yang dilansir oleh kumparan bahwa akan ada film Malahayati, di produseri oleh Marcella Zalianty dan itu juga diinisiasi oleh Jendral Gatot. Jangan-jangan ini akan menggunakan narasi dari data tentara juga, pikirku. Tapi bukan itu yang perlu disorot terlebih dahulu, melainkan niat mulia para sineas untuk mengetengahkan cerita seorang perempuan yang memimpin para janda. Bukan kumpul-kumpul arisan macam istri para tentara, dokter, pengacara, yang secara nilai juang jauh panggang dari api. Juga tokoh fiktif Nyai Ontosoroh yang memiliki jiwa perlawanan, tertera kegitiran perlawanannya dalam dialog ending novel Bumi Manusia yang sekarang juga sedang masuk dapur film. Semoga tidak seperti film Kartini yang diperankan mbak Dian Sastro garapan Pakde Hanung, hehehehe.

Kemudian saya coba cari-cari informasi lanjutan di YuoTube, namun yang ada masih Marcella membaca puisi berjudul “Malahayati atau Perempuan Penjaga Purnama” meskipun sementara ini tidak santer di pembahasan media daring. Yang tersisa hanyalah pengangkatan kepahlawanan untuk Laksamana Malahayati oleh Jokowi beberapa tahun silam. Dan Sinema seperti yang diulas oleh Ariel Haryanto dalam buku Kenikmatan dan Identitas memiliki pengaruh untuk kalangan masyarakat menengah.

Lalu bagaimana kita menyentuh lapisan terbawah masyarakat? Haruskah semurah Dilan 1990 seri pertama yang begitu membekas di anak-anak muda? Atau kita mengambil sekaligus meyakini semangat atau spirit yang dikatakan Nadine Labaki dalam wawancaranya di The Guardian.
“Saya sangat percaya, sinema dapat memberikan efek sosia.” begitu tegas yang dikatakan perempuan kelahiran Lebanon pasca film Capernaum (2018) menjadi pembahasan tingkat internasional di berbagai festival film dan dapat memberikan dampak positif di Lebanon.

Selain itu mari terus menjaring data, apapun bentuknya, tentang perempuan-perempuan yang tak pantas dilupakan secara gerakan dan semangat perlawannya untuk berpartisipasi dalam segala hal kehidupan. Seperti Malahayati yang mengobarkan semangat para janda di kapal “Inong Bale” dari segala ketertindasan menjadi nyala perlawanan. Dan jika kita para lelaki hanya berpikir perempuan harus pandai meracik bumbu, menjemur baju, dan trengginas di ranjang, maka kapan lagi kita persilahkan mereka untuk memimpin armada bak Malahayati atau bagai Ibu Patmi yang menyemen kakinya berhari-hari.

Terakhir diperbarui pada 8 Oktober 2021 oleh

Tags: PahlawanPatmi KendengPerempuanWanita
H.R. Nawawi

H.R. Nawawi

Jika di dunia hanya ada dua pilihan antara riang dan menangis. Saya memilih menangis. Kehampaan.

ArtikelTerkait

Lebaran Tahun Ini: Meski Raga Tak Bersama, Silaturahmi Tetap Harus Terjaga Berlutut dan Pakai Bahasa Jawa Kromo Adalah The Real Sungkeman saat Lebaran Selain Hati, Alam Juga Harus Kembali Fitrah di Hari yang Fitri Nanti Starter Pack Kue dan Jajanan saat Lebaran di Meja Tamu Mengenang Keseruan Silaturahmi Lebaran demi Mendapat Selembar Uang Baru Pasta Gigi Siwak: Antara Sunnah Nabi Atau Komoditas Agama (Lagi) Dilema Perempuan Ketika Menentukan Target Khataman Alquran di Bulan Ramadan Suka Duka Menjalani Ramadan Tersepi yang Jatuh di Tahun Ini Melewati Ramadan dengan Jadi Anak Satu-satunya di Rumah Saat Pandemi Memang Berat Belajar Gaya Hidup Eco-Ramadan dan Menghitung Pengeluaran yang Dibutuhkan Anak-anak yang Rame di Masjid Saat Tarawih Itu Nggak Nakal, Cuma Lagi Perform Aja Fenomena Pindah-pindah Masjid Saat Buka Puasa dan Salat Tarawih Berjamaah 5 Aktivitas yang Bisa Jadi Ramadan Goals Kamu (Selain Tidur) Nanti Kita Cerita tentang Pesantren Kilat Hari Ini Sejak Kapan sih Istilah Ngabuburit Jadi Tren Ketika Ramadan? Kata Siapa Nggak Ada Pasar Ramadan Tahun Ini? Buat yang Ngotot Tarawih Rame-rame di Masjid, Apa Susahnya sih Salat di Rumah? Hukum Prank dalam Islam Sudah Sering Dijelaskan, Mungkin Mereka Lupa Buat Apa Sahur on the Road kalau Malah Nyusahin Orang? Bagi-bagi Takjil tapi Minim Plastik? Bisa Banget, kok! Nikah di Usia 12 Tahun demi Cegah Zina Itu Ramashok! Mending Puasa Aja! Mengenang Kembali Teror Komik Siksa Neraka yang Bikin Trauma Keluh Kesah Siklus Menstruasi “Buka Tutup” Ketika Ramadan Angsle: Menu Takjil yang Nggak Kalah Enak dari Kolak Nanjak Ambeng: Tradisi Buka Bersama ala Desa Pesisir Utara Lamongan

Dilema Perempuan Ketika Menentukan Target Khataman Alquran di Bulan Ramadan

17 Mei 2020
5 Karakter Wanita Antagonis dalam Drama Korea yang Paling Ngeselin Terminal Mojok

5 Karakter Wanita Antagonis dalam Drama Korea yang Paling Ngeselin

27 Juni 2022

Gitasav Adalah Bukti Sulitnya Perempuan untuk Punya Pilihan

21 Agustus 2021
Panduan Menggunakan Panggilan ‘Eneng’, ‘Teteh’, ‘Ceuceu’, dan ‘Nyai’ kepada Perempuan Sunda Terminal Mojok

Panduan Menggunakan Panggilan ‘Eneng’, ‘Teteh’, ‘Ceuceu’, dan ‘Nyai’ kepada Perempuan Sunda

11 Januari 2021
Jadi Perempuan Sulit? Maaf, Jadi Pria Juga Ada Kalanya Sulit, Nona terminal mojok.co

Perempuan dan Laki-laki Bisa Memilih untuk Tidak Tunduk dengan Patriarki

5 Oktober 2020
Mitos Zaman Dulu yang Menakutkan bagi Perempuan terminal mojok

Mitos Zaman Dulu yang Menakutkan bagi Perempuan

5 November 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Toyota Avanza Sering Dihina, padahal Mobil Paling Ideal untuk Keluarga Kelas Menengah yang Ingin Sehat Finansial Mojok.co

Toyota Avanza Sering Dihina, padahal Mobil Paling Ideal untuk Keluarga Kelas Menengah yang Ingin Sehat Finansial

16 Maret 2026
Honda Spacy: “Produk Gagal” Honda yang Kini Justru Diburu Anak Muda

13 Tahun Bersama Honda Spacy: Motor yang Tak Pernah Rewel, sekaligus Pengingat Momen Bersama Almarhum Bapak

18 Maret 2026
Terminal Ir Soekarno Klaten Terminal Terbaik di Jawa Tengah

Terminal Ir Soekarno Klaten: Terminal Terbaik di Jawa Tengah yang Menjadi Tuan Rumah Bagi Siapa Saja yang Ingin Pulang ke Rumah

18 Maret 2026
KlikBCA, Layanan Internet Banking Terbaik yang Perlu Dikritisi (Unsplash)

KlikBCA, Layanan Internet Banking Terbaik yang Perlu Dikritisi

17 Maret 2026
Bertahan dengan Innova Reborn Jadul daripada Ganti Innova Zenix karena Terlalu Canggih untuk Orang Kabupaten seperti Saya Mojok.co

Bertahan dengan Innova Reborn Jadul daripada Ganti Innova Zenix karena Terlalu Canggih untuk Orang Kabupaten seperti Saya

16 Maret 2026
Suzuki Splash, City Car Bakoh yang Cocok Disiksa di Jalanan Macet Mojok.co

Suzuki Splash, City Car Bakoh yang Cocok Disiksa di Jalanan Macet

14 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Jadi Gembel di Perantauan tapi Berlagak Tajir saat Pulang, Bohongi Ortu biar Tak Kepikiran Anaknya Remuk-remukan
  • Honda Scoopy, Motornya Orang FOMO yang Nggak Sadar kalau Motor Ini Terlalu Pasaran dan Sudah Nggak Istimewa
  • Kerja di Jakarta dengan Gaji Nanggung 8 Juta Adalah “Bunuh Diri” Paling Dicari karena Menetap di Kampung Bakal Tetap Nganggur dan Miskin
  • Getol Kuliah Peternakan Sejak Sarjana hingga S3 di Luar Negeri, Kini Bantu Para Gembala di Kupang Jadi Kaya 
  • 3 Cara Gen Z Habiskan THR, padahal Belum Tentu Dikasih dan Jumlahnya Tidak Besar tapi Pasti Dibelanjakan
  • Dear KUA, Apa Alasan Terbaik bagi Kami untuk Menikah saat Situasi Dunia Sedang Kacau-Kacaunya?

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.