Sudah sejak dahulu kala, Pangalengan yang ada di Kabupaten Bandung, Jawa Barat dianggap sebagai surganya wisata elit. Lihat saja di sosial media, citra Pangalengan identik dengan kabut estetik, hamparan kebun teh yang hijau, sampai tempat nginep glamping yang harganya jutaan semalam ada di sini.
Pokoknya kalau main ke sana, vibes-nya udah kayak lagi di luar negeri. Nggak salah kalau dianggap sebagai wisata elit seenggaknya bagi warga Bandung Raya.
Tapi jujur ya, sebutan elit itu langsung terasa seperti omong kosong begitu kita coba ke sana naik kendaraan umum. Apalagi kalau lewat jalur Soreang. Begitu keluar dari kemegahan Tol Soroja, kita seperti dipaksa balik ke zaman dulu yang transportasinya serba nggak jelas.
“Saya bingung kalau ke Pangalengan naik apa, transumnya antara ada dan tiada”, sedikit pengakuan dari saya yang akhir-akhir ini perjalanan ke Pangalengan.
Nasib penumpang elf di Pangalengan, antara sabar dan pasrah
Kalau kita nggak punya kendaraan pribadi, pilihan satu-satunya buat ke Pangalengan dari Soreang ya cuma Elf. Masalahnya, naik Elf di sini butuh kesabaran ekstra.
Jadwalnya nggak pernah ada yang pasti. Istilah ngetem itu sudah jadi harga mati. Kita bisa duduk manis di dalam mobil yang panasnya luar biasa selama satu jam, cuma buat nunggu satu kursi terakhir terisi.
Belum lagi kalau mobilnya sudah jalan. Sopirnya mendadak jadi pembalap reli yang hobi nikung tajam di jalur Cimaung. Alih-alih merasa jadi wisatawan elit, kita malah merasa kayak lagi ikut simulasi uji nyali.
Pergi bisa, pulang pikir dua lagi
Puncak dari segala penderitaan transportasi di sini adalah pas mau pulang. Dari Soreang ke Pangalengan mungkin masih gampang cari kendaraan. Tapi coba deh pulang sore-sore dari Pangalengan ke arah Soreang.
Aplikasi Grab atau Gojek di HP cuma jadi hiasan doang. Jarang banget ada driver yang mau ambil orderan ke arah bawah karena mereka takut kosong pas balik lagi ke atas. Pilihannya tinggal ojek pangkalan yang harganya kadang suka bikin kaget, atau nungguin Elf terakhir lewat yang keberadaannya makin gaib kalau matahari sudah terbenam.
“Kalau naik taksi online, berangkatnya bisa, pulangnya yang susah”, betulkan?
Elit buat yang punya mobil doang
Pada akhirnya, branding wisata elit di Pangalengan ini seolah cuma berlaku buat mereka yang punya mobil atau motor pribadi. Buat kita-kita yang pengen menikmati alam tapi cuma modal transportasi umum, Pangalengan itu jauh dari kata elit. Percuma punya glamping mahal atau kafe kekinian kalau akses transportasinya masih dianaktirikan.
Kita tuh nggak butuh kereta cepat Whoosh sampai ke atas gunung, kita cuma butuh bus atau angkutan yang jadwalnya jelas, mobilnya manusiawi, dan yang paling penting, nggak bikin kita telantar di pinggir jalan pas mau pulang.
Jadi, selama urusan transportasi umum ini masih dibiarkan berantakan, jangan dulu deh pamer-pamer julukan wisata elit. Malu sama wisatawan yang masih harus luntang-lantung di Soreang cuma buat nungguin Elf penuh.
Pangalengan perlu belajar dari Bondowoso dengan wilayah yang sama-sama pegunungan dan kawasan wisata, menghadirkan Bus DAMRI Jember-Ijen, biar wisatawan betah dan tenang karena transportasi umum yang terjadwal. Kalau nggak mau perbaikan, sudah pasti wisata elit akan berubah jadi wisata sulit.
Penulis: Dodik Suprayogi
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Sisi Gelap Pangalengan Bandung yang Katanya Indah bak Surga Dunia
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
