Paket Internet Telkomsel: Harga Sultan, Kualitas Gini-gini Aja

4 Alasan Wajib Pakai Telkomsel meski Cuma Kartu Cadangan Terminal Mojok Farzand01 Shutterstock

4 Alasan Wajib Pakai Telkomsel meski Cuma Kartu Cadangan (Farzand01/Shutterstock.com)

Sebagai pengguna lama Telkomsel, keresahan saya terhadap provider ini sama: tarif internet yang mahal. Saya yakin betul, banyak orang yang punya keresahan yang sama dengan saya perkara harga paketan yang makin hari nggak masuk akal.

Ketika provider lain sudah mulai paham dan menerapkan tarif yang terjangkau, Telkomsel malah ngambil jalur sebaliknya. Kayak anak-anak edgy gitu dia tuh.

Bahkan harga paketan promo Telkomsel aja tetep mahal. Bahkan lebih mahal ketimbang harga reguler paketan promo lain. Saya sering naik darah begitu mengecek promo dan penawaran harga kuota internet lainnya di aplikasi MyTelkomsel gara-gara harganya di luar nalar.

Promo Telkomsel yang nggak jelas

Yang lebih nyebelin, promo yang ada kadang nggak penting. Misal, promo paketan 99 GB senilai 150 ribu. Kuota internet cuman 30 GB, sisanya buat YouTube, Primbon, Disney+, Friendster, dan sebagainya. Saya pernah jadi korbannya. Ya salah saya juga sih nggak ngecek-ngecek, tapi tetep aja nyebelin.

Saya pernah mencari apa sih faktor paketan Telkomsel bisa semahal itu. Terlebih nomor satu dengan nomor lain bisa beda-beda tarifnya. Akhirnya, saya mencoba untuk tanya orang dalam, yaitu call center Tsel. Saat saya tanya ke call center Telkomsel, ternyata ada faktor yang bikin harga naik, yaitu usia nomor yang dipakai.

Akhirnya saya beli nomor baru dengan harapan dapat promo kuota yang lebih bersahabat. Dan ternyata berhasil. Nomor baru ini punya kuota agak lebih besar dari biasanya yang saya beli dengan harga yang murah banget.

Eh tahu-tahu 3-4 bulan kemudian, kok harganya sama lagi kayak nomor lama, begitu mengajukan komplain, apa katanya? Ya, faktor pemakaian. Super sekali.

Akhirnya saya kesal lagi, marah lagi, sebal lagi sama Telkomsel karena harganya kembali ke “setelan pabrik”.

Baca halaman selanjutnya

Tarif mahal adalah jalan ninjaku…

Tarif mahal adalah jalan ninjaku

Meski dari keluarga berkecukupan, bukan berarti saya menghamburkan uang hanya untuk akses internet yang harusnya bisa dinikmati masyarakat dengan harga wajar.

Sampai sekarang, saya nggak paham apa yang bikin Telkomsel mematok harga kuota dengan harga yang terlewat fantastis di kelasnya ini. Padahal, Telkomsel ini BUMN loh, tapi kenapa harganya bikin perusahaan swasta auto sungkem?

Ada anekdot kalo pengguna Telkomsel adalah orang kaya karena harga kuotanya selangit, bahkan tembus langit ketujuh sampai jebol. Kalo mahal tapi koneksi kencang masih bisa sedikit banget dimaafkan. Tapi, keluhan tentang sinyal bermasalah itu juga nggak dikit, makanya ini yang bikin bingung, apanya yang bikin mahal? 

Telkomsel perlu dengarkan ini

Saya pikir Telkomsel sudah saatnya mendengarkan jeritan rakyat macam saya ini agar mereka tahu apa yang sebenarnya pelanggan butuhkan. Kalau saya sih, saya nggak butuh kuota untuk streaming film atau paket yang lain, saya cuma butuh harga kuota internet yang bisa digunakan untuk semua akses secara murah.

Kenapa? Karena saya perlu buat isi kuota untuk keperluan komunikasi dan informasi, juga buat keperluan kirim naskah ke Terminal Mojok juga. Ya kuota YouTube buat apa gitu ho kalau kuota utama ada?

Nggak tahu bakal dibaca pihak Telkomsel atau nggak, berhak kok mereka. Tapi ingat juga, pelanggan juga berhak untuk cabut ketika kapok. Pilih mana, nih?

Penulis: Mohammad Faiz Attoriq
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Masa Aktif Telkomsel Memang Menyebalkan! Tapi Tenang, Mojok Punya Solusinya!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Exit mobile version