Pak Ogah pekerjaan yang sia-sia dan nggak menjanjikan di Sumenep Madura

Pak Ogah pekerjaan yang sia-sia dan nggak menjanjikan di Sumenep Madura Mojok.co

Pak Ogah pekerjaan yang sia-sia dan nggak menjanjikan di Sumenep Madura (unsplash.com)

Di Sumenep Madura, “Pak Ogah” jadi fenomena baru. Bagi yang belum tahu, Pak Ogah yang saya maksud di sini adalah orang yang sehari-hari bekerja informal mengatur lalu lintas di jalan. Setelah membantu pengendara, biasanya mereka mendapat upah seikhlasnya. Itu mengapa, mereka mudah ditemukan di titik-titik ramai. 

Di berbagai daerah, pekerjaan ini sebenarnya bukanlah hal baru. Bahkan, di beberapa daerah Pak Ogah bisa mengantongi pendapatan yang lumayan. Namun, kenyataannya berkata lain di Sumenep Madura. Apa karena pekerjaan ini tergolong baru di Sumenep Madura ya? 

Sejauh pengamatan saya, jalanan Sumenep bebas Pak Ogah hingga 2024 atau 2025. Lalu, di awal tahun 2026 ini, muncul dua Pak Ogah baru di persimpangan yang berbeda. Satu orang di persimpangan Raung dan satu orang lagi di persimpangan Pangarangan. 

Melihat Pak Ogah di daerah lain

Kemunculan Pak Ogah yang masih baru sangat berbeda dengan daerah-daerah lain, sebut saja Surabaya dan Jakarta. Di Jakarta misal, setelah saya berusaha melihat berbagai referensi, ternyata pekerjaan informal ini sudah ada sejak 1980-an. Maklum saja, di tahun itu jalanan Jakarta sudah dipenuhi kendaraan, sudah padat. 

Sementara di Surabaya, pekerjaan informal ini baru saya lihat ketika mampir ke Surabaya di 2013-2017 untuk menengok kakak saya yang kuliah di sana. Di tahun-tahun itu sudah begitu banyak jalan dan persimpangan yang diatur Pak Ogah. 

Sementara, media Merdeka yang pernah melakukan wawancara dengan salah satu Pak Ogah di sana mengungkapkan, dia sudah menjalani pekerjaan informal ini sejak 1998. 

Sebagai orang yang berkuliah di Surabaya dan hampir tiap hari menyaksikan Pak Ogah bekerja, saya menyadari bahwa di sana Pak Ogah bisa menjadi sumber mata pencaharian. Misalnya saja, di dua persimpangan Ketintang, saya kerap menyaksikan mereka mendapat “saweran” dari pengendara dengan nominal Rp1.000–Rp2.000. 

Bahkan, wawancara Detik Jatim dengan seorang Pak Ogah yang bekerja di Ngagel, mengatakan kalau satu jam, bisa mendapatkan uang hingga Rp25.000. Angka yang terbilang besar jika dibandingkan dengan profesi lain yang sesama pekerja di jalanan. Misalnya, sopir ojek online, yang terkadang satu jam, belum tentu mendapat pendapatan bersih di atas Rp20.000

Bukan pekerjaan menjanjikan di Sumenep Madura

Apa yang terjadi dengan Pak Ogah di Surabaya, tidak sejalan dengan di Sumenep. Bisa dibilang kantong Pak Ogah di Sumenep, tidak sesubur Pak Ogah di Surabaya. Ini bisa saya ketahui karena kebetulan jalur tempat saya bekerja, melewati persimpangan Rampak dan persimpangan Pangarangan. 

Setiap melewati dua persimpangan tadi, jarang sekali saya melihat ada orang yang sudah dibantu menyebrang, memberikan uang kepadanya. Tentu berbanding terbalik dengan Surabaya, setiap gerombolan kenderaan dibantu menyebrang, saya melihat ada 2–3 kendaraan yang membagikan uang. 

Saya pernah berhenti untuk belanja di toko yang letaknya berdekatan dengan persimpangan Rampak. Transaksi terbilang agak lama, sekitar 3 menitan karena saat itu ada pembeli lain. Sembari menunggu transaksi, saya melihat Pak Ogah bekerja mengatur kendaraan. Selama melihatnya, saya tidak menyaksikan ada pengendara yang memberikan uang kepadanya.  

Sama dengan Pak Ogah yang bekerja di persimpangan Raung. Meski saya jarang melewati jalan tersebut, tapi beberapa kali pernah melewati waktu mengantar kakak ke tempat kerjanya. Dari pengamatan saya, nasib Pak Ogah di persimpangan Raung, tidak jauh berbeda dengan dua persimpangan tadi: sama-sama anyep. Tidak terlihat pengendara yang membagikan uang. 

Sebenarnya bukan berarti Pak Ogah yang berada di Sumenep, tidak mendapatkan apa-apa. Pernah teman saya cerita kalau dirinya pernah melihat Pak Ogah di persimpangan Rampak mendapatkan nasi bungkus atau jajan. Saya sebenarnya juga pernah melihat ada orang yang ngasih uang, tapi jarang sekali. Sama, saya kadang ketika dibantu menyebrang, juga memberikan uang, tapi jarang. 

Kenapa nasibnya bisa berbeda?

Kenapa nasib Pak Ogah di Sumenep bisa begitu? Ingat sebuah prinsip sederhana ekonomi, semakin besar peluangnya, semakin besar pendapatannya. Nah, peluang menjadikan Pak Ogah sebagai mata pencaharian di Sumenep tidak besar. 

Kenapa tidak besar? Karena jalanan di Sumenep tidak ramai. Pengendara di Surabaya memberi uang ke Pak Ogah karena dirinya merasa dibantu menyeberang di jalan yang ramainya kendaraan nggak ngotak. Sama halnya ketika saya berkendara ke Sidoarjo dan Mojokerto. Saya melihat orang-orang mau memberikan uang ke Pak Ogah karena sudah dipermudah menyebrangkan jalan yang kondisi lalu lintasnya naudzubillah. 

Sedangkan persimpangan yang ada di Sumenep, lalu lalang kendaraannya tidak padat. Sebenarnya, pengendara bisa dengan mudah menyebrang, meski tidak dibantu. Itu sebabnya, masyarakat merasa tidak terlalu terbantu dengan keberadaan Pak Ogah. Akhirnya, membuat pengendara harus berpikir dua kali untuk memberi uang kepadanya. 

Peluang yang kecil, semakin diperparah oleh culture shock masyarakat. Pengendara di Surabaya sudah terbiasa melihat orang-orang memberikan uang ke Pak Ogah sehingga di kepala ada semacam keharusan untuk memberinya saat dibantu menyebrang. 

Sedangkan di Sumenep, fenomena Pak Ogah baru saja terjadi. Oleh karena itu, masyarakat di Sumenep merasa jengah kalau harus memberi uang kepada Pak Ogah. Soalnya, selama ini masyarakat merasa tidak harus keluar uang saat mengendarai kendaraan, kecuali kalau lagi parkir. 

Semoga tak ada lagi pak ogah di Sumenep Madura

Itu sebabnya setiap melewati jalanan tempat Pak Ogah bekerja, saya selalu berdoa agar tidak ada lagi pekerjaan macam ini jalanan Sumenep. Bukan saya tidak suka melihat seseorang berjuang dalam memenuhi ekonomi. Saya lebih pada tidak tega melihat mereka berjuang di bawah terik matahari dan dikelilingi polusi udara, tetapi hasil yang didapatkan tidak sepadan dengan derita yang dirasakannya. 

Saya selalu menyelipkan doa agar mereka bisa mendapatkan penghidupan yang lebih layak. Memang doa saya tidak bisa langsung mengubah kehidupannya, tapi cuman itu yang bisa saya lakukan. Saya mengamini perkataan orang sepuh, kalau tidak bisa bantu dengan material, bantulah dengan doa. 

Penulis: Akbar Mawlana
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA 4 Profesi yang Lekat dengan Orang Madura.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version