Beberapa waktu terakhir, istilah “outfit kabupaten” sering muncul di berbagai platform media sosial, dibarengi dengan komentar berbentuk candaan atau bahkan ejekan halus. Awalnya, saya kira istilah itu hanyalah kritik ringan terhadap selera fashion. Tapi kalau diperhatikan lebih dalam, ada masalah yang ternyata perlu dibahas lebih detil.
Istilah ini terasa janggal karena outfit yang sering dilabeli “kabupaten” sebenarnya tidak berbeda jauh dengan trend yang sedang terjadi di kota-kota besar. Bahkan brand yang mereka kenakan sama.
Tapi saat label tersebut ditempelkan, seketika persepsi berubah. Tentu, sebagai orang kabupaten yang juga penikmat fashion, saya merasa risih, seolah yang dinilai bukan lagi soal fashion tapi asal dan identitas pemakainya.
BACA JUGA: Di Gresik, Baju Bandmu Tidak Ada Apa-apanya di Hadapan Sarung BHS, Kalah Telak!
Lingkungan yang tidak estetik untuk berkolaborasi dengan outfit yang sesuai
Padahal mengikuti trend yang sama dan mengenakan baju yang sama juga. Tapi kenapa seolah selalu ada yang kurang dari outfit yang coba diekspresikan oleh para pemuda kabupaten di sosial media?
Saya kira, lingkungan juga punya pengaruh besar terhadap persepsi estetika.
Di kota-kota besar, exposure terhadap visual, fotografi, dan taste making lebih intens. Sehingga anak muda di perkotaan memiliki lebih banyak pilihan latar belakang untuk berfoto sebagus mungkin sesuai dengan outfit yang mereka kenakan. Misalnya, kafe estetik, dinding minimalis, dan tata kota modern akan membuat outfit terlihat “niat”.
Mereka juga terbiasa dengan literasi visual yang membuat lebih banyak dari mereka memahami cara mendapatkan angle terbaik, pose yang keren, serta didukung lebih banyak akses ke tempat dengan latar belakang yang bagus. Berbeda dengan anak muda kabupaten yang sulit mendapatkan akses tersebut. Sehingga lebih banyak memilih latar belakang foto yang apa adanya sehingga membuat outfit mereka terlihat kurang nyambung.
Terlihat sepele memang, tapi kualitas foto yang kita tampilkan di sosial media adalah hasil dari banyak variabel.
Outfit yang sama bisa terlihat “mahal” di satu foto, dan “biasa saja” di foto lain. Kita bisa melihat contohnya di sosial media, foto yang memenuhi variabel tersebut, cenderung mendapatkan lebih banyak exposure.
Kebebasan berekpresi anak muda kabupaten yang terbatas
Selain tempat, ada satu faktor lain yang sering luput dari perhatian, yaitu ruang ekspresi yang tidak selalu aman.
Bagi anak muda perkotaan, memilih pakaian mungkin tampak seperti hal yang personal, semua soal selera, kenyamanan, dan bagaimana mereka mengekspresikan diri. Tapi bagi banyak pemuda di kabupaten, berpakaian tidak pernah sesederhana itu. Ada satu lapisan lain yang selalu ikut hadir tidak terlihat, tapi terasa, yaitu norma sosial.
Bagi anak muda kabupaten, berpakaian tidak lagi hanya soal diri sendiri. Tapi juga tentang bagaimana masyarakat melihat dan menilainya. Mereka tumbuh dalam lingkungan yang membuat kebebasan dalam mengenakan pakaian tertentu tidak selalu terasa nyaman untuk ditampilkan secara penuh di ruang publik.
Jadi, saat hasil akhirnya terlihat berbeda dari standar tren yang sedang berlangsung, bukan karena mereka kurang mengerti, tapi ruang untuk mengekpresikannya saja yang berbeda.
Standar keren pemuda perkotaan yang tidak netral
Perlu diakui, yang menggunakan istilah outfit kabupaten itu kebanyakan adalah anak muda perkotaan. Mereka terbiasa memberi label “outfit kabupaten” pada gaya berpakaian yang terasa sedikit berbeda dari standar mereka.
Padahal, anak muda di perkotaan memiliki privilege yang tidak dimiliki oleh anak muda yang hidup di kabupaten. Mereka tumbuh dalam lingkungan yang visualnya rapi dan terkurasi, penuh referensi gaya yang seragam dan mendukung ekspresi diri di ruang publik.
Mirisnya, karena terlalu lama hidup dalam standar tersebut, mereka jadi menganggapnya bukan privilege, tapi suatu hal yang normal.
Masalahnya, istilah “outfit kabupaten” yang sering dilontarkan, seolah menjadi pembanding dari sesuatu yang bernilai lebih rendah. Seperti simbol kurang modern, kurang estetik, bahkan simbol tidak layak masuk standar keren tanpa melihat lingkungan sosialnya.
Mereka tidak sadar bahwa yang mereka anggap aneh selama ini mungkin hanyalah sesuatu yang tidak pernah mereka pahami dari dekat.
Saya kira, anak muda perkotaan ini perlu menyadari bahwa apa yang mereka anggap standar keren sering kali lahir dari akses dan lingkungan yang tidak dimiliki semua orang. Juga, tidak semua orang tumbuh dalam ruang yang sama bebasnya untuk berekspresi secara otentik.
Penulis: Indra Januar Gunardi
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
