Beberapa waktu lalu, ada utas di Threads yang cukup ramai. Pertanyaannya sederhana: lebih pilih aktif di ormawa atau magang dan side job? Hasilnya tidak mengejutkan bagi siapa pun yang sekarang masih duduk di bangku kuliah. Mayoritas memilih magang. Sebagian lagi memilih side job. Dan ormawa, meraih suara tipis di urutan paling bawah.
Di banyak kampus, fenomena ini bukan sekadar statistik polling media sosial. Kursi rapat BEM mulai banyak yang kosong. Rekrutmen himpunan makin sepi peminat. Panitia acara tahunan yang biasanya berebut posisi, sekarang harus merayu orang satu per satu.
Lantas, apa yang sebenarnya sedang terjadi?
Dulu ormawa adalah jalan pintas menuju “mahasiswa ideal”
Tidak bisa dimungkiri, narasi tentang ormawa selama ini dibangun di atas satu janji besar: kamu akan jadi orang yang lebih siap menghadapi dunia kerja. Softskill, katanya. Leadership, katanya. Networking, katanya. Selama bertahun-tahun, janji itu cukup meyakinkan.
Dan memang ada kebenarannya. Orang yang pernah jadi ketua panitia, yang pernah begadang ngurusin acara, yang pernah mediasi konflik internal organisasi, biasanya punya ketangguhan yang tidak diajarkan di ruang kelas. Itu nyata.
Tapi masalahnya, dunia tidak berhenti di situ.
BACA JUGA: Ormawa Itu Memang Bukan Keluarga, Ngapain Ngebet Dibikin kayak Keluarga sih?
Gen Z membaca pasar lebih cepat dari yang kita kira
Mahasiswa sekarang tumbuh di era di mana informasi tentang dunia kerja tidak perlu dicari susah payah. LinkedIn terbuka untuk semua orang. Utas “pengalaman magang” bertebaran di mana-mana. Job description perusahaan bisa dibaca kapan saja.
Dan dari semua informasi itu, ada satu pola yang mereka tangkap dengan jelas: rekruter lebih tertarik pada portofolio dan pengalaman kerja nyata daripada sederet jabatan organisasi di CV.
Bukan berarti ormawa sama sekali tidak dilirik. Tapi kalau harus memilih antara “pernah jadi Ketua Divisi Hubungan Masyarakat BEM” dengan “pernah magang tiga bulan di perusahaan yang relevan dengan jurusan”, pilihan mana yang lebih berat timbangannya di mata HRD? Jawabannya sudah terlanjur jelas di kepala mahasiswa sekarang.
Ditambah lagi, banyak dari mereka sudah punya side job sebelum lulus. Freelance desain, content creator, jualan online, joki tugas (yang ini tidak perlu dibahas panjang). Uang masuk, skill bertambah, CV terisi. Untuk apa mengorbankan waktu dan energi demi ormawa yang imbal baliknya tidak terasa langsung?
Tapi ormawa bukan sekadar soal CV
Di sinilah letak persoalan yang lebih dalam dan sering luput dari perdebatan.
Ormawa punya fungsi yang tidak bisa digantikan magang atau side job, yaitu ruang belajar berdemokrasi, bernegosiasi, dan berorganisasi bersama orang-orang yang berbeda latar belakang. Magang mengajarkan kamu bekerja dalam sistem yang sudah jadi. Ormawa mengajarkan kamu membangun sistem dari nol, di tengah keterbatasan, konflik kepentingan, dan ketidakpastian.
Sayangnya, tidak semua ormawa masih menjalankan fungsi itu dengan baik. Sebagian besar terjebak pada rutinitas seremonial: rapat yang panjang tapi tidak produktif, acara tahunan yang itu-itu saja, senioritas yang tidak relevan, dan budaya “dedikasi tanpa apresiasi” yang menguras tenaga tanpa memberikan pengembangan yang jelas.
Kalau jujur, mahasiswa Gen Z tidak lari dari ormawa karena mereka malas atau materialistis. Mereka lari karena ormawa sering gagal menunjukkan nilainya secara konkret di dunia yang bergerak sangat cepat.
Tanggung jawab siapa ini sebenarnya?
Mudah sekali menyalahkan Gen Z yang katanya terlalu pragmatis, terlalu individualistis, terlalu fokus pada diri sendiri. Tapi narasi itu terlalu malas untuk disebut analisis.
Yang lebih adil untuk ditanyakan adalah: sudahkah ormawa bertransformasi sesuai dengan kebutuhan mahasiswa dan tuntutan industri saat ini? Sudahkah program kerja ormawa dirancang untuk menghasilkan sesuatu yang konkret dan terukur, bukan sekadar laporan pertanggungjawaban yang tebal tapi tidak dibaca siapapun?
Mahasiswa hari ini bukan tidak mau berorganisasi. Mereka sangat aktif berorganisasi, hanya saja di komunitas online, di proyek kolaboratif lintas kampus, di gerakan sosial yang lahir dari media sosial. Bentuknya berbeda, tapi esensinya tidak jauh berbeda.
Ormawa yang bertahan dan tetap diminati adalah yang berhasil menjawab satu pertanyaan sederhana dari mahasiswanya: “Apa yang saya dapat dari sini yang tidak bisa saya dapatkan dari tempat lain?”
Kalau pertanyaan itu belum bisa dijawab dengan jujur, kursi rapat yang kosong itu bukan salah mahasiswanya.
Penulis: Daffa Andarifka Syaifullah
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Ormawa Lebih Tepat Jadi Tempat Melatih Kesabaran daripada Berorganisasi. Terlalu Banyak Masalah!
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
