Informasi
ADVERTISEMENT

Orang tua bersyukur ada les mata pelajaran karena menemani anak belajar nyatanya tak mudah

Orang tua bersyukur ada les mata pelajaran karena menemani anak belajar nyatanya tak mudah Mojok.co

Orang tua punya banyak alasan memasukkan anaknya les mata pelajaran. 

Menjadi orang tua di era modern nyatanya menuntut level kesabaran tingkat dewa. Terutama, kalau urusannya seputar menemani anak belajar di rumah. Alih-alih berjalan damai, ritual ini sering kali berubah jadi simulasi zona perang. Anak menangis, orang tua histeris, dan PR sekolah akhirnya tetap terbengkalai. 

Wajar kalau banyak orang tua akhirnya menempuh jalan ninja dengan mendaftarkan anak les mata pelajaran. Keputusan ini bukan semata-mata ambisi terselubung agar anak menggondol predikat juara kelas. Di balik besarnya biaya les yang rutin dibayarkan tiap bulan, tersimpan alasan-alasan manusiawi yang baru akan dipahami sepenuhnya kalau sudah berada di posisi yang sama.

#1 Transfer tanggung jawab kepada pihak yang lebih profesional demi kesejahteraan mental

Saat materi pelajaran mulai kompleks, agenda menemani anak belajar di rumah seringnya berubah jadi ajang uji nyali. Niat awalnya memang ingin mempraktikkan gaya parenting ala Nikita Willy yang terkenal sabar bak ibu peri. Tapi baru sepuluh menit membedah soal matematika, suasana ruang belajar mendadak mirip arena debat kusir yang memang nihil menemukan titik temu.

Harus diakui, memaksa diri mengajari anak sendiri kerap kali memicu drama dan kecemasan massal di rumah. Makanya, menyerahkan tongkat estafet kepada pengajar luar adalah langkah penyelamatan paling masuk akal. Selain menjaga hubungan harmonis antara orang tua dan anak, guru les biasanya punya jurus-jurus jitu untuk menjelaskan rumus dengan cara yang lebih gampang diserap otak anak.

Belum lagi fakta bahwa banyak orang tua yang harus berjibaku dengan pekerjaan harian, membuat waktu mendampingi anak jadi sangat terbatas dan tidak konsisten. Ditambah, kurikulum sekolah sekarang sukses bikin pusing lantaran metodenya jauh berbeda dengan format zaman saat orang tua dulu sekolah.

Dengan mendaftarkan anak les mata pelajaran, baik privat maupun bimbel, beban mental itu akhirnya bisa dibagi. Praktis, orang tua bisa bernapas lega meski harus rela merogoh kocek agak dalam demi kewarasan bersama.

#2 Jadwal les bisa membangun rutinitas belajar pada anak untuk menanamkan bibit disiplin

Bagi banyak anak, memotivasi diri untuk duduk manis dan membuka buku pelajaran secara mandiri di rumah tanpa pengawasan ketat adalah sebuah mitos. Sementara, bagi orang tua, membangun budaya jadwal belajar di tengah riuhnya distraksi di rumah juga bukan perkara mudah. Oleh karena itu, mendaftarkan anak untuk les juga merupakan sebuah solusi instan berkat adanya komitmen jadwal yang mengikat.

Kalau anak memilih opsi datang ke tempat bimbel, mereka langsung terseret ke dalam ekosistem yang memaksa mereka ikut fokus karena dikelilingi oleh teman yang sedang belajar. Suasana kompetitif yang sehat itu membuat mereka terpaksa ikut serius tanpa perlu diteriaki dulu.

Akan tetapi, seandainya yang dipilih adalah sesi les privat di rumah, efek disiplinnya pun tidak kalah mujarab. Kehadiran pengajar eksternal terbukti jauh lebih efektif dalam mendisiplinkan rutinitas belajar anak dibandingkan omelan orang tua yang sering kali dianggap angin lalu.

#3 Ilusi mitigasi risiko tertinggal pelajaran di sekolah

Tidak bisa dipungkiri, atmosfer dunia pendidikan hari ini sudah mirip medan tempur senyap yang bikin siapa saja gampang insecure. Ketatnya kompetisi akademik tak hanya menekan mental para siswa, tapi juga sukses bikin orang tua ikut keteteran. Lingkungan sekolah secara tidak langsung membentuk standar tidak tertulis bahwa anak dilarang keras kedodoran di kelas, titik.

Di sinilah les mata pelajaran seolah menjelma sebagai penawar cemas. Mengikutkan anak ke bimbingan belajar memberikan semacam kepastian subjektif bahwa orang tua sudah pasang badan memberikan fasilitas tandingan yang setara dengan ritme pergaulan sekitar.

Walau cara pandang ini terdengar agak semu dan egois, setidaknya ada ketenangan batin yang dibeli di sana. Orang tua merasa sudah sukses menunaikan kewajiban parenting ideal yang berlaku di ekosistem sosial mereka.

Jadi, seandainya nanti nilai di rapor tidak sesuai ekspektasi, mereka masih punya amunisi buat menenangkan diri sendiri. Dalihnya, setidaknya ikhtiar maksimal lewat bantuan para tentor sudah dikerahkan sepenuhnya.

Keputusan memasukkan anak ke tempat les bukan cuma soal mengejar nilai akademik yang sempurna di atas kertas rapor. Jauh dari itu, ada pertukaran nilai yang jauh lebih berharga. Kewarasan dan keamanan jiwa orang tua, misalnya. Jadi, kalau ada yang bilang les tambahan itu buang-buang duit, biarkan mereka berasumsi begitu. Toh, yang menanggung lelah dan darah tinggi tiap malam bukan para komentator itu.

Penulis: Paula Gianita Primasari
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA Awalnya saya menolak anak ikut les baca, tapi akhirnya berubah pikiran karena khawatir dia di-bully di sekolah.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Paula Gianita Primasari

Kontributor aktif media opini dan satir.