Beberapa hari lalu, saya membaca keresahan orang tua di Threads. Kepada netizen, si ibu bertanya bagaimana cara untuk legowo. Sebab, anaknya yang baru saja masuk kelas 1 SD dinilai menunjukkan tanda-tanda tidak bakal jadi juara kelas.
Saya tidak tahu “tanda-tanda tidak bakal jadi juara kelas” yang disebutkan oleh si ibu. Saat silaturahmi ke akun pembuat utas, ternyata jejaknya sudah lenyap.
Tebakan saya, mungkin di hari pertamanya, anak si ibu tampak pasif dan pemalu. Sehingga, lahirlah kecemasan bahwa si anak akan tertinggal dibanding teman sebayanya.
Saya juga orang tua. Sebagai sesama orang tua, saya tahu perasaan khawatir akan masa depan anak pastilah ada. Sungguh, saya paham akan hal itu. Yang tidak saya pahami adalah, kenapa anak tidak bakal jadi juara kelas itu dianggap sebagai suatu hal yang sangat penting.
Orang tua jangan terlalu dini menilai anak
Saya jadi ingat. Saat anak kedua saya masuk kelas 1 SD, kemampuan membaca dan menulisnya sama sekali belum lancar. Jujur, sempat ada rasa khawatir dia tidak bisa mengikuti pelajaran dengan baik, lalu dia trauma sekolah, dan jadi tidak bahagia.
Saat itu, mana sempat saya berpikir soal juara kelas. Fokusnya cuma bagaimana caranya biar anak anak bisa bahagia dan nyaman di sekolah.
Setelah merenungkannya lagi, anak yang masuk kelas 1 SD itu sebenarnya stres lho. Masuk kelas 1 SD jadi salah satu transisi paling ekstrem dalam hidup seorang anak. Dari lingkungan TK yang sarat dengan bermain, mereka tiba-tiba dilempar ke ruang kelas yang menuntut kedisiplinan. Mereka harus duduk berjam-jam belajar membaca, menulis, dan berhitung.
Dengan situasi yang tidak mudah di awal-awal masuk sekolah itu, masa iya harus diperberat dengan ekspektasi orang tua? Langsung dicap tidak pintar oleh orang tuanya sendiri pula. Duh, terlalu dini,kasihan mereka.
Menuntut itu melelahkan
Saya tahu punya anak yang jadi juara kelas itu membanggakan. Saya pun mengalaminya. Betapa bangga saya ketika anak pertama saya tidak hanya bisa juara di kelasnya, tapi juga masuk ke peringkat paralel di sekolahnya.
Lantas, apakah itu berarti saya tidak bangga pada anak kedua yang tidak juara kelas? Ya, nggak. Saya tetap bangga ke dia. Bangga karena anak kedua saya, meski tidak juara kelas, tapi dia sangat santun. Tiap anak punya kemahiran atau kepintaran masing-masing.
Harus diakui, kita sering kali terjebak dalam ilusi bahwa sukses di sekolah itu selalu soal capaian akademik. Itu sebabnya, banyak orang tua memaksakan standar akademik yang ketat pada anak, meski si anak belum matang usianya.
Padahal, itu sama saja dengan menyiksa batin anak secara perlahan. Kita lelah karena terus menuntut kesempurnaan, dan anak-anak kita jauh lebih lelah karena merasa tidak pernah cukup di mata orang tuanya sendiri.
Bahaya label dini dari orang tua
Saya jadi bertanya-tanya, kira-kira ibu-ibu si pembuat utas tadi sadar nggak ya kalau kekhawatiran dia yang berlebihan itu bisa jadi bumerang? Masalahnya gini, ketika orang tua, apalagi ibu merasa khawatir, perasaan itu sebenarnya nyetrum ke anak lho.
Fenomena ini namanya emotional contagion atau penularan emosi. Si anak jadi menyerap ketakutan, ketegangan, dan rasa tidak aman yang dirasakan oleh figur utamanya di rumah.
Dalam sebuah studi yang mengeksplorasi hubungan antara ekspektasi orang tua dan kesehatan mental anak, terungkap bahwa tekanan akademik dini yang tidak dikelola dengan bijak justru memicu internalizing problems seperti kecemasan berlebih, hilangnya rasa percaya diri, hingga penurunan motivasi belajar secara drastis.
Sederhananya, ketika orang tua terus-menerus memandang anaknya dengan tatapan cemas atau kekecewaan terselubung karena dianggap tidak pintar, anak bukannya termotivasi untuk mengejar ketertinggalan, tapi yang mereka tangkap justru pesan bawah sadar bahwa diri mereka cacat dan mengecewakan.
Sengeri itu dampaknya, Bund. Yakin masih mau dilanjutkan melabeli anak?
Sebuah refleksi
Orang tua yang belum apa-apa sudah mencemaskan anaknya tidak bisa juara kelas, seharusnya belajar dari kisah orang-orang sukses yang pernah gagal di masa sekolahnya.
Thomas Alva Edison kecil pernah dikeluarkan dari sekolah karena gurunya menganggap otak Thomas kacau dan tidak bisa menyerap pelajaran. Albert Einstein pun dicap sebagai anak yang lambat, pemimpi, dan tidak akan sukses di bidang apa pun. Tapi, sejarah telah membuktikan bahwa penilaian akademik di masa anak-anak, bukanlah penentu segalanya.
Pada akhirnya, segala macam kekhawatiran orang tua terhadap anak sebetulnya adalah PR utama orang tua. Yaitu, bagaimana orang tua bisa memisahkan antara ambisi pribadi dengan kenyataan biologis atau psikologis anak.
Sebab, jika ditelisik lebih jujur, jangan-jangan yang selama ini sebenarnya orang tua takutkan bukanlah masa depan si anak, melainkan ketakutan akan runtuhnya gengsi sosial di hadapan orang lain.
Hayo, lho…
Penulis: Dyan Arfiana Ayu Puspita
Editor: Kenia Intan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
