Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Orang Miskin: Dimanfaatin Bule, Disepelekan Musisi Edgy

Fadlir Nyarmi Rahman oleh Fadlir Nyarmi Rahman
20 Januari 2021
A A
nadin amizah orang miskin empati kemiskinan orang miskin mojok

empati kemiskinan orang miskin mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Hidup berkecukupan ala Semar dalam kebudayaan Jawa, di mana kalau lagi butuh selalu ada, merupakan kehidupan paling paripurna yang pernah dan bisa saya bayangkan sebagai orang Jawa dan miskin. Bisa dibilang, segala urusan sandang, pangan, dan papan selesai sudah jika mampu memiliki daya semacam itu.

Namun, ternyata ada tingkatan tentram yang lebih tinggi lagi dan tak pernah saya pikirkan. Yaitu dengan tinggal di wilayah yang biaya hidupnya murah—yang menjadi kehidupan bahagia orang-orang miskin—dengan membawa kekayaan yang, bagi penduduk wilayah itu, sungguh berlimpah.

Sebenarnya sih, pikiran culas begini juga sudah beredar di kepala dan mimpi sebagian besar insan muda kabupaten maupun perkotaan. Tentu kita sering mendengar sebuah mimpi atau andai-andai betapa enaknya punya gaji ala Jakarta, biaya hidupnya ngikut Jogja, dan hawa sejuk kehidupannya seperti Bandung.

Tapi, sayangnya kan mustahil. Selain karena tak ada satupun wilayah di Indonesia yang menyediakan kemungkinan macam itu, masing-masing dari kita juga tak punya modal utama dari konsep hidup nyaman tersebut: kekayaan!

Beda halnya dengan Kristen Gray, orang Amerika yang lagi viral karena bisa hidup mewah di Bali yang biaya hidupnya murah, apalagi selama setahun di sana dia tak pernah kena deportasi. Nah, dia itu sudah punya modal kekayaan meski nggak banyak-banyak amat. Kalo melimpah ya jelas nggak bakal punya pikiran seperti itu, sih, pasti. Soalnya hidup mewah dengan biaya mahal saja mampu, ngapain harus nyari yang murah. Ya, intinya menang karena dia megang dolar aja.

Meski demikian, biaya hidup di Bali baginya sungguhlah murah dan bisa hidup bermewah-mewahan seperti apa yang pernah ia tulis di Twitter tapi dihapusnya lagi. Ia bisa tinggal di sebuah rumah kayu dekat pantai dengan biaya yang murah baginya, mahal banget buat kita.

Ia juga sesumbar dan mengajak kawan-kawan sebangsanya untuk mengikuti langkahnya melalui Twitnya itu, bahkan ia membuat e-book untuk kisah perjalanannya ini yang menurutnya bisa menjadi semacam panduan. Ya, pokoknya ia bahagia banget bisa hidup di Bali dengan uang Amerika.

Hal ini pun membuat netizen Twitter dalam negeri geram entah karena iri atau memang marah pada  apa yang ditulis di dalam bukunya mengenai cara masuk Indonesia dengan “aman”. Atau bisa juga marah karena takut akan timbulnya efek yang dinamakan gentrifikasi, saat si kaya membangun “kehidupan” di lingkungan murah si miskin.

Baca Juga:

Jurusan Ekonomi Pembangunan Menyadarkan Saya kalau Kemiskinan Itu Bukan Sekadar Orang yang Tidak Punya Uang

Indomie Bukan Makanan Legendaris, Ia Cuma Simbol Krisis dan Kemiskinan Kolektif

Maka, persoalan ini bukanlah tentang aseng vs pribumi, melainkan si kaya yang ngobok-obok karakter kehidupan si miskin yang nyaman dengan biaya hidup murah. Ya, bayangkan saja apabila ia menjadi pelopor kawan-kawan dari negaranya untuk pindah dan tinggal di sini lalu hidup dengan standar yang mereka miliki, dan itu semua kejadian yang bisa berakibat pada kenaikan harga kebutuhan, tentu dampak terburuknya ialah pemilik ekonomi yang kurang mapan ini nggak bisa menjangkaunya lagi. Mereka tersingkir.

Tapi, ya semoga itu cuma bayangan saja, nggak bener kejadian. Semoga setiap turis yang sekadar berpakansi atau ingin tinggal di Indonesia karena murah, bisa menerapkan peribahasa “di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung”. Alias, ya kalau tinggal di wilayah dengan biaya hidup murah yang memang pas dengan kultur orang miskin, lah ya ikutan hidup dengan konsep yang ada. Nggak usah sok-sokan ingin memiliki properti, aset, yang bisa menciptakan kemewahan semu di tengah kesengsaraan.

Rasa-rasanya, Mbak Kristen Gray ini perlu belajar deh sama Mbak Nadin Amizah mengenai peribahasa itu. Loh, apa kaitannya sama Nadin?! Tenang dulu ya, fans garis kerasnya Nadin.

Begini, setelah kasus Mbak Kristen mencuat pada Minggu (17/1), Mbak Nadin lalu juga nyusul ke trending Twitter loh dua hari berselang (19/1) karena blunder perkataannya di podcast Om Deddy. Terus hubungannya apa? Ya, makanya tenang dulu.

Sebelumnya, saya ucapkan terima kasih sudah berjuang tenang membaca sampai sini. Oke kita lanjut. Kita tahu sendiri, Mbak Nadin di kesempatan itu beropini tentang orang kaya dan miskin. Di mana ia mengaku diajarkan untuk sebisa mungkin menjadi orang kaya supaya mudah bersedekah dan berbuat baik, sebab jika miskin akan susah untuk berbuat hal itu.

Loh, ya jelas toh Mbak Nadin ini sedang menerapkan peribahasa itu. Bumi yang sedang ia pijak adalah tanah suci bersemayamnya orang kaya, sehingga langit yang sedang ia junjung adalah tradisi orang kaya yang lebih sering berbuat baik yang kemudian memandang rendah yang miskin. Kan juga bisa kita nilai sendiri toh di mana ia sedang berdiri, dari cara ia melihat dunia kemiskinan? Pokoknya kaffah banget deh beliau jadi orang kaya. Sekaffah kala ia tidak mengerti bagaimana si miskin sibuk mengisi perutnya selagi nasib dan citranya selalu buruk.

Oleh sebab itulah saya menyarankan Mbak Kristen untuk meniru Mbak Nadin. Lagian nggak berat amat kok. Wong mereka sudah ada persamaannya dalam mengusik kehidupan orang miskin. Hehehe.

Maka, saya yakin bahwa Mbak Kristen mampu menerapkan peribahasa itu sehingga dunia nyaman itu tidak berganti menjadi kemewahan semu yang justru menambah penderitaan penghuninya yang elit, alias ekonomi sulit. Mbak Kristen tetap hepi, pun juga mereka.

Sementara Mbak Nadin tetaplah berpijak di tanah orang kaya itu. Yang penting pandangan yang buruk terhadap kemiskinan nggak usah diumbar-umbar, kayak pernah ngaduk kopi pake sachetnya aja deh. Kalau nggak ya coba yakinilah apa yang pernah njenengan sendiri tulis di Twitter, “Aku diam aku emas.”

BACA JUGA Nadin Amizah dan Twit-nya yang Sok Bela Kesenian dalam Negeri dan tulisan Fadlir Nyarmi Rahman lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 19 Januari 2021 oleh

Tags: Kemiskinankristen grayNadin Amizah
Fadlir Nyarmi Rahman

Fadlir Nyarmi Rahman

Seorang radiografer yang sedikit menulis, lebih banyak menggulir lini masa medsosnya. Bisa ditemui di IG dan Twitter @fadlirnyarmir.

ArtikelTerkait

Fakir Miskin dan Anak Terlantar Dipelihara oleh Baim Wong

Fakir Miskin dan Anak Terlantar Dipelihara oleh Baim Wong

13 September 2022
5 Makanan Khas Kabupaten Brebes yang Menggoyang Lidah

Melihat Kemiskinan Ekstrem Brebes dari Sudut yang Lain

28 Februari 2023
Alun-Alun Kebumen, Makin Megah di Tengah Statusnya sebagai Kabupaten Termiskin di Jawa Tengah

Alun-Alun Kebumen, Makin Megah di Tengah Statusnya sebagai Kabupaten Termiskin di Jawa Tengah

5 November 2024
Menjadi Orang Miskin Versi Nadin Amizah: Udah Susah, Jadi Makin Susah terminal mojok.co

Susahnya Orang Miskin Jadi Orang Baik Versi Nadin Amizah

21 Januari 2021
Sistem Pendidikan Indonesia dan Skor PISA yang Buruk, pendidikan era digital

Sistem Pendidikan Indonesia dan Skor PISA yang Buruk

8 Desember 2019
bajaj bajuri

Melihat Kehidupan Masyarakat Miskin Kota Melalui Sitkom Bajaj Bajuri

27 Mei 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Siluman Dapodik, Sebuah Upaya Curang agar Bisa Lolos PPG Guru Tertentu yang Muncul karena Sistem Pengawasan Lemah guru honorer ppg

Fakta tentang Guru yang Terjadi di Lapangan, tapi Tak Pernah Dibahas oleh Fakultas Pendidikan

27 Februari 2026
5 Takjil Red Flag yang Bisa Membahayakan Kesehatan Pembeli terminal

5 Takjil Red Flag yang Bisa Membahayakan Kesehatan Pembeli

24 Februari 2026
Jurusan Teknologi Hasil Perikanan UGM: Masuk dan Lulusnya Gampang, tapi Sulit Dapat Kerja Mojok.co

Jurusan Teknologi Hasil Perikanan UGM: Masuk dan Lulusnya Gampang, tapi Sulit Dapat Kerja

22 Februari 2026
Menyelami Makna VUCA Melalui Petualangan Dunia One Piece

Menyelami Makna VUCA Melalui Petualangan Dunia One Piece

24 Februari 2026
Perjalanan ke Pati Lewat Pantura Bikin Heran: Kudus Sudah Mulus, Demak Masih Penuh Lubang

Perjalanan ke Pati Lewat Pantura Bikin Heran: Kudus Sudah Mulus, Demak Masih Penuh Lubang

26 Februari 2026
Monumen Kapal Selam di Surabaya Sebenarnya Kaya Informasi, tapi Ogah kalau Harus ke Sana Lagi Mojok.co

Monumen Kapal Selam di Surabaya Sebenarnya Kaya Informasi, tapi Ogah kalau Harus ke Sana Lagi

24 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

  • Rela Melepas Status WNI demi Hidup Sejahtera di Norwegia, Karier Melejit berkat Beasiswa Luar Negeri
  • Gen Z Jogja Rela Antre buat “Ibadah” Photobox di Tugu, Pilih Tahan Kantuk setelah Sahur karena FOMO
  • Ironi Penerima KIP Kuliah di Jogja: Uang Beasiswa Habis Buat Bayar Utang Keluarga, Rela Makan Rp20 Ribu per Hari Demi Tak Putus Kuliah
  • Hal Paling Berat dari Mudik Bukan Pertanyaan atau Dibandingkan di Reuni Keluarga, Tapi Ortu Makin Renta dan Situasi Setelahnya
  • Gamplong Studio Alam, Tempat Wisata Sleman yang Unik, tapi Nggak Perlu Diulang Dua Kali
  • Anak Muda Jadi Ketua RT: Antara Kerja Kuli, Keikhlasan, dan Dewasa Sebelum Waktunya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.