5 Hal yang Bikin Orang Kebumen Terlihat Santai, padahal Sebenarnya Sedang Bertahan Hidup

5 Hal yang Bikin Orang Kebumen Terlihat Santai, padahal Sebenarnya Sedang Bertahan Hidup

5 Hal yang Bikin Orang Kebumen Terlihat Santai, padahal Sebenarnya Sedang Bertahan Hidup (unsplash.com)

Orang Kebumen punya reputasi sebagai manusia paling santai di Jawa Tengah. Kami bisa ngopi berjam-jam di warung, nongkrong di alun-alun sampai tengah malam, dan selalu bilang “ora popo” dalam situasi apa pun. Dari luar, hidup kami terlihat tanpa beban, penuh kedamaian, seolah nggak ada yang perlu dikhawatirkan.

Tapi tunggu dulu. Jangan terkecoh dengan penampilan. Di balik santai itu, sebenarnya kami sedang berjuang keras untuk bertahan hidup. Cuma caranya yang beda, lebih elegan, lebih tenang, dan tetap dengan secangkir kopi di tangan. Ini dia lima hal yang bikin orang Kebumen terlihat santai padahal sebenarnya lagi survival mode.

#1 Orang Kebumen ngopi berjam-jam bukan karena malas, tapi karena murah

Kalau kamu lewat warung kopi di Kebumen, pasti lihat orang-orang duduk santai berjam-jam di sana. Ngopi dari jam 3 sore sampai magrib, atau malah dari magrib sampai tengah malam. Kelihatannya sih lagi menikmati hidup, nggak ada kerjaan. Pokoknya enak banget.

Realitanya? Ngopi di warung itu adalah strategi ekonomi paling brilian. Dengan modal 5 ribu rupiah buat secangkir kopi, kami bisa duduk berjam-jam tanpa ada yang usir. Gratis WiFi (kalau warungnya menyediakan), gratis AC (maksudnya angin sepoi-sepoi), dan gratis hiburan berupa drama kehidupan orang-orang yang lewat.

Bandingkan dengan alternatif lain: pulang ke kos atau rumah berarti nyalain kipas angin atau AC (tagihan listrik naik), buka HP berarti pakai kuota sendiri (habis pulsa), atau nonton TV berarti sendirian (membosankan). Mending di warung, cuma keluar 5-10 ribu tapi bisa ngobrol, update gosip terbaru, dan yang penting nggak kesepian.

Jadi, kalau ada yang bilang orang Kebumen malas kerja karena kebanyakan ngopi, jangan percaya. Kami cuma jago manajemen keuangan. Hiburan murah, sosialisasi jalan, dan perut tetap terisi. Efisien.

#2 Motor tua masih dipelihara seperti anak sendiri

Di Kebumen, kamu akan sering melihat motor-motor tua yang masih berkeliaran. Honda Astrea tahun 90-an, Yamaha RX King, atau Suzuki Bravo. Dan yang paling unik motor-motor ini dirawat dengan sangat baik oleh pemiliknya.

Jangan salah paham dulu. Bukan karena hobi koleksi motor antik atau suka gaya retro. Motor tua itu masih dipelihara karena memang itulah kendaraan andalan orang di sini. Beli motor baru? Nanti dulu lah. Kredit motor baru berarti nyicil 1-2 juta per bulan, belum lagi bensin yang makin mahal. Mending motor tua ini dirawat baik-baik, dibelai seperti anak sendiri, dan dipaksa untuk hidup selama mungkin.

Orang luar melihat ini dan mikir “Wah, orang Kebumen santai banget ya, motornya tua tapi tetep asik dipakai”. Padahal dalem hati si pemilik motor lagi berdoa, “Ya Allah, mbok ya ngalah wae ojo ngadat saiki, aku durung duwe duit benerin” (Ya Allah, tolong jangan mogok sekarang, aku belum punya duit buat benerin).

#3 “Ora Popo” sebagai mekanisme bertahan hidup orang Kebumen

Kalau ada kompetisi frasa paling sering diucapkan orang Kebumen, juaranya pasti “ora popo” (tidak apa-apa). Gaji telat? Ora popo. Motor rusak? Ora popo. Kena PHP? Ora popo. Banjir? Ora popo. Gempa? Tetep ora popo.

Buat orang luar, ini terlihat seperti filosofi hidup yang sangat zen dan damai. Mereka mikir orang Kebumen udah mencapai tingkat pencerahan spiritual level tinggi, bisa legowo dalam situasi apa pun.

Tapi buat kami orang Kebumen, “ora popo” itu bukan filosofi itu mekanisme pertahanan psikologis. Karena kalau nggak bilang “ora popo”, terus mau bilang apa? Mau ngeluh ke siapa? Mau protes kemana? Hidup di kota kecil dengan lapangan kerja terbatas, infrastruktur seadanya, dan ekonomi yang ya begitu-begitu aja, pilihan paling bijak adalah menerima dengan lapang dada sambil bilang “ora popo”.

Di balik frasa itu sebenarnya ada kepasrahan yang dalam, kesabaran yang teruji, dan mental baja yang udah ditempa berkali-kali. Kami sudah terlalu sering kecewa untuk masih bisa kecewa lagi. Jadi ya sudah, ora popo. Besok dicoba lagi. Tahun depan mungkin lebih baik. Atau mungkin nggak. Ya ora popo juga.

#4 Kerja serabutan sebagai standar kewajaran

Tanya orang Kebumen kerja apa, jawabannya bisa bikin kamu bingung. “Saya tukang ojek, tapi sambil jualan pulsa, sama bantu-bantu di toko kelontong om saya. Kadang juga ngisi sound sistem kalau ada acara pernikahan.”

Satu orang, empat pekerjaan. Dan ini bukan karena kami workaholic atau ambitious. Ini karena satu pekerjaan aja nggak cukup buat hidup. Meski UMK di sini naik 23,15% dalam 5 tahun terakhir, tetap saja in this economy nggak cukup. Jadi kami kerja apa aja yang bisa dikerjakan, nggak pakai malu, nggak pakai gengsi.

Pagi jadi ojek online, siang bantu di warung, sore jualan gorengan, malam jaga toko. Nggak ada hari libur, nggak ada cuti, yang ada cuma terus bergerak buat dapetin uang. Dan yang bikin orang Kebumen kuat adalah karena semua orang di sekitar mereka juga begitu. Kerja serabutan bukan hal memalukan di sini, itu standar kewajaran.

#5 Bahagia versi sederhana: hujan, sawah, dan WiFi tetangga

Standar kebahagiaan orang Kebumen itu rendah. Dan ini bukan hinaan, ini fakta yang indah. Kami nggak butuh liburan ke Bali, nggak perlu makan di restoran mahal, atau pamer gadget terbaru buat merasa bahagia.

Cukup hujan turun sore-sore, kami udah seneng. Duduk di teras sambil nyeruput kopi, dengerin suara gemericik air, sambil sesekali bilang “adem tenan” (dingin banget). Atau cukup jalan-jalan ke sawah sore hari, liat padi yang mulai menguning, sambil ngerasain angin sepoi-sepoi yang nggak bakal kamu dapetin di kota besar.

Jadi, kalau kamu lihat orang Kebumen yang terlihat santai dan bahagia dengan hidup mereka, percayalah itu bukan karena hidup kami mudah. Itu karena kami sudah jago banget bertahan dengan cara yang paling elegan. Kami bisa ketawa di tengah kesulitan, tetap tenang saat masalah datang, dan selalu bilang “ora popo” meskipun dalem hati lagi berjuang keras. Dan itu, teman-teman, adalah super power yang nggak semua orang punya.

Penulis: Alifia Putri Nur Rochmah
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Alasan Kebumen Ditinggalkan Warganya walau dengan Berat Hati.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version