Jujur saja, saya kadang malas membawa oleh-oleh Kebumen ke tanah perantauan. Namun, selama ini, saya selalu rajin membawanya karena malas menghadapi cap pelit dari teman-teman. Lebih dari itu, saya takut diomeli ibu karena kembali ke tanah perantauan dengan tangan kosong.
Kebumen yang berada di sisi selatan Jawa Tengah begitu strategis dan kerap menjadi daerah persinggahan. Tidak heran kalau daerah dengan julukkan Kota Lawet ini punya deretan oleh-oleh yang sudah ternama. Persoalannya, tidak semua oleh-oleh yang populer itu cocok di lidah orang, termasuk lidah penerima oleh-oleh.
#1 Lanting yang bisa ditemukan di mana-mana di luar Kebumen
Lanting adalah camilan khas Kebumen berbentuk seperti angka delapan kecil atau cincin, terbuat dari singkong yang direbus, dihaluskan, diberi bumbu, lalu digoreng hingga kering dan renyah. Kedengarannya menarik, kan? Dan memang, waktu pertama kali dimakan, lanting itu enak. Gurih, renyah, susah berhenti.
Masalah mulai muncul saat kamu membawanya sebagai oleh-oleh. Satu toples lanting untuk dua puluh orang di kantor. Hitungan matematisnya masing-masing dapat tiga biji. Reaksi penerimanya pun terbagi dua yang sudah pernah makan akan bilang “Oh, lanting” dengan nada datar, dan yang belum pernah akan kebingungan mencari referensi rasa.
Ditambah lagi, lanting kini sudah sangat mudah ditemukan di mana-mana bukan hanya di Kebumen, tetapi tidak berarti statusnya sebagai oleh-oleh khas Kebumen hilang. Kesan spesial atau istimewa dari oleh-oleh ini jadi hilang.
#2 Jipang Kacang, camilan Kebumen yang terlalu manis
Jipang kacang terbuat dari kacang tanah yang direkatkan menggunakan larutan gula. Ada sensasi lengket khas gula jawa yang sangat terasa saat digigit. Di atas kertas, ini terdengar seperti camilan yang menyenangkan. Kenyataannya? Jipang kacang adalah ujian loyalitas terhadap gigi.
Bagi kamu yang memiliki masalah dengan gigi, sebaiknya jangan terlalu sering mengonsumsinya. Peringatan ini seharusnya sudah cukup. Tapi tetap saja, setiap musim Lebaran atau mudik, jipang kacang masuk ke dalam tas oleh-oleh jutaan orang Kebumen. Biasanya dibeli dalam jumlah banyak karena murah, dan habis dimakan dalam sehari karena tidak ada yang berani menyimpannya terlalu lama, takut jadi batu.
#3 Kue satru oleh-oleh yang aman, tapi …
Kue satru terbuat dari kacang hijau dan gula pasir tumbuk, rasanya manis legit dan gurih, serta berbentuk seperti daun berwarna putih. Kue ini termasuk kategori “oleh-oleh aman” tidak ada yang akan protes menerimanya. Tapi, tidak ada juga yang sangat bersemangat ketika melihatnya keluar dari kantong oleh-oleh.
Kue satru adalah pilihan yang kamu ambil ketika semua opsi lain terasa terlalu berisiko. Terlalu manis untuk dimakan banyak, tapi terlalu kering untuk dicuekin begitu saja. Kue ini menjadi pilihan favorit warga Kebumen saat bulan Ramadhan dan Idulfitri. Artinya, di luar momen itu, kue satru agak kehilangan relevansinya. Namun, tetap saja, toples kue satru selalu ada di meja tamu. Entah siapa yang memakannya.
#4 Jenang sabun dengan nama yang aneh
Namanya saja sudah membuat orang ragu, Jenang Sabun. Terbuat dari legen kelapa dan tepung beras, jenang ini memiliki tekstur yang lembut dan kenyal, serta rasa manis dan gurih. Dan ya, tidak ada hubungannya dengan sabun mandi itu hanya nama.
Masalahnya bukan di rasa. Jenang Sabun sebenarnya enak kalau kamu tahu cara menikmatinya. Masalahnya ada di proses penjelasan kepada penerima oleh-oleh. Bayangkan kamu menyodorkan sesuatu berwarna cokelat gelap dengan nama “Jenang Sabun” kepada teman kantormu yang berasal dari Jakarta.
Waktu yang kamu butuhkan untuk meyakinkan mereka bahwa ini makanan dan bukan produk kebersihan bisa memakan separuh jam istirahat siang. Jenang ini termasuk makanan tradisional yang makin jarang ditemukan, yang membuatnya terasa eksklusif, tapi eksklusif dalam arti susah dijelaskan ke orang yang belum pernah tahu.
#5 Sale pisang oleh-oleh Kebumen yang tampilannya kurang menggoda
Sale pisang punya satu kelemahan fatal sebagai oleh-oleh. Ia tidak Instagram-able sama sekali. Di era ketika orang membeli oleh-oleh setengahnya untuk difoto dan diunggah ke media sosial, sale pisang hadir dengan tampilan yang sangat, maaf cokelat, sedikit berminyak, dibungkus plastik tipis.
Saya sendiri mengakui sale pisang ini salah satu favorit saya. Rasanya manis legit, ada gurihnya, dan entah kenapa susah berhenti begitu sudah mulai. Tapi, setiap kali mau merekomendasikannya ke orang lain, ada momen hening sejenak waktu saya memegang bungkusnya. Ini… penampilannya memang tidak membantu sama sekali. Seperti punya teman yang kepribadiannya luar biasa tapi susah diajak ke acara formal karena penampilannya selalu bikin orang salah sangka duluan.
Akan tetapi, paradoksnya, sale pisang justru salah satu yang paling sering habis duluan di meja makan. Diam-diam disukai, tapi tidak pernah diakui.
Pada akhirnya, semua itu tentang selera. Ada yang memang cocok dengan oleh-oleh Kebumen ada yang tidak. Tapi, sebagai pembawa oleh-oleh, agak mubazir rasanya kalau oleh-oleh tidak sesuai dengan selera orang. Namun, saya kembali ingat, tidak ada yang salah dari itu semua. Namanya juga oleh-oleh fungsi utamanya memang bukan untuk dimakan, melainkan sebagai bukti bahwa kamu tadi benar-benar pergi ke sana.
Penulis: Alifia Putri Nur Rochmah
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA 4 Oleh-Oleh Gunungkidul yang Sebaiknya Dipertimbangkan Berkali-kali sebelum Dibeli.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
