Obsesi Saya untuk Membeli iPhone Bukan Soal Gengsi, tapi Ingin Merasa Setara karena Tidak Ada Manusia yang Terlihat Kecil di Depan Orang Lain

Obsesi Beli iPhone Bukan karena Gengsi, tapi Ingin Setara (Unsplash)

Obsesi Beli iPhone Bukan karena Gengsi, tapi Ingin Setara (Unsplash)

Dulu, saya sering bingung melihat teman-teman begitu terobsesi memiliki iPhone. Rasanya aneh. Bukankah itu cuma telepon genggam? Gunanya juga untuk menelepon, berkirim pesan dan membuka media sosial. Pakai hape apa aja bisa. 

Banyak orang rela berkorban demi iPhone. Mereka rela menabung berbulan-bulan, berburu unit bekas, bahkan mengambil pekerjaan tambahan. Pertanyaan yang selalu muncul itu sederhana. Memang sepenting itu ya?

Jawaban yang paling sering saya dapat juga itu-itu aja. Misal: kamera bagus, awet, dan kayaknya enak dipakai.

Semua alasan itu kurang meyakinkan. Makanya, kesimpulan saya cuma satu, yaitu soal gengsi. Sampai akhirnya saya mulai menghasilkan uang sendiri.

Rasanya punya uang sendiri

Menjadi orang dewasa itu ternyata rumit. Waktu masih SMK, saya nggak pernah memikirkan hal-hal ini. Dulu saya mengira kalau udah gajian, ya bisa beli apa aja. Setelah bekerja, saya sadar kalau uang selalu menemukan jalannya sendiri untuk habis.

Beberapa bulan lagi saya akan memulai kuliah. Saya sangat bersyukur uang kuliah terbantu oleh program KIP Kuliah. Namun, biaya hidup nggak cuma biaya kuliah saja. Masih banyak yang lain dan harus saya pikirkan.

Makanya, saya sering mencari magang berbayar dan menerima pekerjaan lepas. Apa saja, asal menghasilkan. Anehnya, justru di masa-masa inilah saya mulai memahami kenapa banyak anak muda begitu menginginkan iPhone.

Perubahan cara berpikir

Setelah saya renungkan, banyak anak muda pengin beli iPhone bukan semata karena gengsi. Bukan pula saya harus terlihat keren atau mengikuti tren.

Saya mulai sadar bahwa yang saya inginkan bukan semata-mata sebuah telepon genggam. Saya hanya ingin suatu hari nanti mampu membeli sesuatu yang dulu terasa begitu jauh dari jangkauan, menggunakan uang yang benar-benar saya hasilkan sendiri.

Selama ini saya keliru menilai orang-orang yang mati-matian menabung demi sebuah iPhone. Mereka sedang mengejar perasaan bahwa kerja keras mereka akhirnya memiliki wujud. Bahwa semua lembur, pekerjaan sambilan, dan keinginan yang tertunda perlahan mulai terbayar.

Punya iPhone supaya merasa setara

Sejak saat itu saya berhenti bertanya, “Kenapa orang begitu terobsesi dengan iPhone?”

Saya justru mulai bertanya, “Apa sebenarnya yang sedang mereka perjuangkan hingga rela bekerja sekeras itu?”

Dan saya rasa, jawaban setiap orang pasti berbeda. Kalau suatu hari nanti saya berhasil membeli iPhone, mungkin orang lain hanya akan melihat seseorang yang akhirnya memiliki ponsel impiannya.

Padahal yang saya lihat adalah semua proses panjang yang mengantarkan saya sampai ke sana. Sebab pada akhirnya, iPhone hanyalah sebuah benda.

Yang benar-benar sedang saya perjuangkan bukan bendanya, melainkan perasaan bisa menghadiahi diri sendiri. Setelah itu, perasaan setara dengan orang lain yang mampu. Saya rasa, perasaan ini jadi dorongan terbesar. Tidak ada manusia yang mau terlihat lebih kecil di depan orang lain.

Penulis: Siti Azizah Aprizka

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA User iPhone 11 Dicap Kuno dan Aneh karena Tak Mau Upgrade, Pilih Dihina Miskin daripada Pusing Dikejar Pinjol

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version