Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kuliner

Obituari Pak Panut dan Bagaimana Beliau Menyelamatkan Perut yang Lapar

Rizky Prasetya oleh Rizky Prasetya
20 Juli 2021
A A
obituari pak panut mojok

obituari pak panut mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Meski kau membenci romantisisasi angkringan di Jogja, mau tak mau kau mengamini bahwa angkringan sempat menjadi penyelamat mahasiswa dan pekerja dengan kantong cekak. Saya sebut “sempat menjadi”, karena kini angkringan pun tak lagi bisa disebut terjangkau. Namun, dunia ini memberi ruang untuk pengecualian, dan pengecualian ini bernama Pak Panut.

GOR Klebengan adalah surga bagi orang yang tak tahu mau makan apa. Begitu banyak tempat makan berjejer dengan menu yang berbeda-beda. Dan saya yakin, sepasang kekasih yang makan di foodcourt tersebut memilih tempat itu setelah melalui perdebatan panjang, dan akhirnya memilih jalan moderat. Di ujung deretan tersebut, ada angkringan yang asapnya tak berhenti membubung, dan selalu dikerubungi banyak orang. Bagi yang lumayan lama menjejak Jogja, pasti tahu bahwa itu angkringan Pak Panut.

ADVERTISEMENT

Saya tak mengetahui sejak kapan Pak Panut berjualan angkringan. Dan seperti banyak orang lain, perkenalan saya dengan warung beliau terjadi karena kantong yang menipis, namun ingin makan “enak”. Saya mulai makan di situ semenjak 2011, dan hingga kini saya menyempatkan makan di situ sesekali, terlebih setelah saya membuat keputusan buruk dalam hal keuangan.

Tak berlebihan jika Pak Panut disebut sebagai penyelamat banyak orang, sebab di tempatnya kau bisa makan kenyang dengan uang cekak. Bahkan jika kau punya uang lebih barang dua-tiga ribu, kau bisa pesan tempe atau usus bakar dengan rasa yang (menurut saya) enak. Tak seperti tempat lain, beliau memberi bumbu kecap pada tiap pesanan yang dibakar. Setidaknya, ketika uangmu cekak, lidahmu masih diberi sedikit kemewahan.

Angkringan Pak Panut tak pernah terlihat sepi, setidaknya terlihat lebih ramai ketimbang warung lain yang ikut berderet di GOR Klebengan. Hal itu saja sudah membuktikan, bahwa yang ditawarkan Pak Panut punya nilai lebih ketimbang warung lain, meski sebenarnya harga makanan di warung lain tak jauh berbeda. Tapi, saya punya keyakinan tersendiri perihal ini

Saya yakin Pak Panut tak hanya menawarkan kuliner yang murah dan rasa yang lumayan, namun juga rasa aman. Setidaknya, kau tak akan menemui tragedi uang yang kurang ketika membayar. Cerita-cerita yang beredar tentang betapa dermawannya Pak Panut menambah keyakinan tersebut. Dan rasa aman ini–sebagaimana keyakinan orang terhadap magisnya Jogja–diyakini betul oleh banyak orang. Oleh karena manusia adalah makhluk sederhana yang terkadang menjalani hidupnya dengan bergantung pada pola-pola sederhana, kembali ke Pak Panut ketika kantongnya terancam adalah sebuah keniscayaan.

Pun saya yakin Pak Panut tahu akan hal ini, meski tak sedetil apa yang saya katakan. Meski waktu sudah berjalan, dan harga makanan mulai tak masuk di akal, harga makanan di angkringan beliau tak naik secara signifikan. Demi Tuhan, saya tak tahu sama sekali harga detil per menu, tapi sejak 2011 hingga kini, saya selalu memesan menu yang sama: nasi tiga bungkus, tempe dua, usus satu, dan es teh. Dan sejak 2011 hingga sekarang, harga yang saya bayar tak pernah melebihi sepuluh ribu.

Padahal dengan nalar yang cekak pun, kita tahu bahwa lapak yang disewa tak mungkin murah. Menaikkan harga secara signifikan pun tetap akan dimengerti, nyatanya ada biaya mahal yang harus dibayar. Sewa lapak atau ruko di Jogja memang tak murah. Beberapa ruko yang jauh lebih buruk ketimbang kamar mandi kampus yang bau punya harga sewa yang tak masuk akal.

Baca Juga:

Cerita orang Muhammadiyah di tengah kultur NU Tegal yang kental: awalnya syok, lama-lama bisa ambil hikmahnya

3 kebiasan warga Tegal yang dahulu saya anggap aneh, tapi kini malah saya tiru

Tapi, tetap saja, di tengah asap membumbung tersebut, kau tahu bahwa uang yang kau bawa akan tetap cukup untuk mengisi perutmu.

Pak Panut kini telah berpulang ke pangkuan Sang Pencipta Hidup. Kepergiannya tak ayal membuat orang-orang yang pernah diselamatkannya bersedih. Dan saya yakin, doa-doa yang terpanjat beberapa hari ini muncul dari hati orang-orang yang perutnya begitu lapar dan diselamatkan oleh beliau.

***

Saya selalu senang mereplikasi adegan yang saya lihat di film. Suatu saat nanti, ketika dunia jadi agak mendingan, saya akan berdiri di daerah Klebengan, melihat gapura dan GOR Klebengan dengan mata yang agak sendu. Mirip dengan adegan bagaimana tokoh utama suatu film mengenang apa-apa yang sudah terjadi di masa lalu.

ADVERTISEMENT

Dulu, ada pemuda kurus ceking berponi lempar makan dengan lahap di dekat gerobak angkringan yang penuh asap. Pemuda tersebut sempat punya prinsip bahwa manusia tak butuh manusia lain untuk selamat di dunia ini. Namun, lelaki berkumis tebal pemilik angkringan itu telah menjebloskan keyakinan pemuda tersebut dan mengubah dunia pemuda tersebut hanya dalam beberapa menit.

Selamat jalan, Pak Panut. Doa-doa yang indah terpanjat untukmu.

BACA JUGA Obituari Markis Kido: Si Ganda Petir Itu Kini Resmi Jadi Legenda dan artikel Rizky Prasetya lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 28 September 2021 oleh

Tags: angkringanGaya Hidup TerminalJogjaobituaripak panut
Rizky Prasetya

Rizky Prasetya

Redaktur Mojok. Founder Kelas Menulis Bahagia. Penulis di Como Indonesia.

ArtikelTerkait

Jogja Katanya Romantis, tapi kok Kisah Cinta Saya Kandas Melulu?

Jogja Katanya Romantis, tapi kok Kisah Cinta Saya Kandas Melulu?

3 Agustus 2022
Sergio Ramos Real madrid mojok

Adiós, Sergio Ramos. Gracias, el Capitán!

17 Juni 2021
Jogja Bikin Betah, Mau Sukses Kerja ke Semarang (Unsplash)

Jogja Bikin Betah, tapi Kalau Mau Jadi Pekerja yang Tahan Banting dan Sukses, Mending Kerja di Semarang

15 Oktober 2025
7 Tahun Kuliah di UNY Berakhir Jadi Tertawaan dan Beban (Unsplash)

Saya Sempat Menyesal dan Malu setelah 7 Tahun Kuliah di UNY, Berakhir Jadi Beban Keluarga dan Ditertawakan Banyak Orang

25 April 2025
Warung Madura Dianggap Menjajah Jogja, Guyonan Paling Lucu Abad Ini

Warung Madura Dianggap Menjajah Jogja, Guyonan Paling Lucu Abad Ini

6 Maret 2023
Pertigaan UIN, Lampu Merah Paling Berbahaya di Jogja (Unspash)

Pertigaan UIN Jogja, Lampu Merah Paling Berbahaya Ketika Malam Tiba

30 September 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

5 jurusan S2 ini mending dipelajari di luar negeri, bukan di Indonesia Mojok.co

5 jurusan S2 ini mending dipelajari di luar negeri karena lingkungan akademis Indonesia belum siap

14 Agustus 2026
Kalimat “pekerjaan yang menyenangkan adalah hobi yang dibayar” itu omong kosong, saya sudah membuktikannya Mojok.co

Kalimat “pekerjaan yang menyenangkan adalah hobi yang dibayar” itu omong kosong, saya sudah membuktikannya

15 Agustus 2026
Sisi Gelap Budaya Rewang di Hajatan Desa yang Nggak Banyak Orang Tahu Mojok.co

Kadang orang ikut rewang bukan karena ingin membantu, tapi takut dihujat dan digibahin

12 Agustus 2026
5 penderitaan jadi peneliti lapangan yang sering dikira pekerjaan enak karena jalan-jalan dan dibayar Mojok.co

5 penderitaan jadi peneliti lapangan yang sering dikira pekerjaan enak karena isinya jalan-jalan dan dibayar

11 Agustus 2026
Sisi red flag orang-orang tahlilan yang sulit saya terima, mulai dari rasan-rasan hingga menjadikan piring sebagai asbak Mojok.co

Sisi red flag orang-orang tahlilan yang sulit saya terima, mulai dari rasan-rasan hingga menjadikan piring sebagai asbak

13 Agustus 2026
Sebagai orang Sunda, jujur saya iri banget sama orang Jawa (Unsplash)

Sebagai orang Sunda, jujur saya iri banget sama orang Jawa

10 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.