Nissan Grand Livina 2009 bisa jadi pilihan untuk kalian yang ingin belajar nyetir mobil.
Bagi sebagian besar Gen Z menyetir mobil mungkin bukan kemampuan yang istimewa lagi. Banyak dari teman saya bahkan sudah terbiasa nyetir mobil sejak SMA. Tak heran kalau mereka sudah mahir nyetir hingga parkir paralel sebelum masuk kampus.
Akan tetapi, bagi saya yang baru benar-benar belajar menyetir di usia 25 tahun, kemampuan mengendalikan mobil adalah tantangan sekaligus kebanggaan tersendiri. Maklum, saya lahir bukan dari keluarga yang memiliki mobil sejak lama.
Awal latihan mobil tentu lebih sering kikuk memandangi spion daripada melihat pemandangan. Kaki kanan terasa kaku setiap kali harus mengatur pedal gas dan rem. Belum lagi ketakutan terbesar para pemula: mobil mati mendadak di tanjakan, salah masuk gigi atau menyenggol kendaraan orang di jalan sempit.
Beruntung, mobil pertama yang menemani proses belajar saya bukan kendaraan mewah yang membuat tangan gemetar setiap kali terkena baret. Mobil itu adalah Nissan Grand Livina 2009, sebuah mobil yang usianya bahkan mungkin lebih tua dari sebagian akun media sosial yang saya miliki.
Baca juga Stasiun Delanggu Klaten, Stasiun Kecil yang Besar Jasanya bagi Warlok Pelaju Solo-Jogja.
Mobil sepuh yang mudah diajak berkompromi
Sebagai pemula, saya tentu tidak terlalu memikirkan soal tenaga atau performa tinggi dari sebuah mobil. Prioritas utama saya hanyalah mobil yang enak dikemudikan dan tidak membuat pengemudinya merasa takut kalau penyok atau baret.
Alhasil saya latihan menggunakan mobil Nissan Grand Livina 2009. Saya memang punyanya hanya mobil ini, hehehe. Namun, di balik itu, Grand Livine sudah dibekali mesin 1.500 cc empat silinder dengan tenaga sekitar 109 PS, performanya cukup untuk kebutuhan latihan berkendara sehari-hari. Akselerasinya terasa halus, sehingga pengemudinya bisa leluasa mengatur tekanan pedal gas serta menyesuaikan setir.
Karakter kemudi yang relatif ringan ini tentu menjadi nilai tambah. Bagi pengemudi berpengalaman hal ini mungkin sepele, tetapi bagi pemula, mobil yang “gampang di setir” atau dikemudikan tentu membantu membangun rasa percaya diri saat mulai beradaptasi dengan kondisi lalu lintas yang bahkan tak terprediksikan.
Bodi Nissan Grand Livina yang bongsor yang awalnya membuat khawatir
Meski demikian, bukan berarti proses belajar nyetir saya berjalan tanpa rasa cemas. Tantangan terbesar saya justru datang dari ukuran bodi Grand Livina yang cukup bongsor untuk ukuran orang yang sebelumnya hanya terbiasa mengendarai sepeda motor.
Dengan panjang kendaraan lebih dari 4,4 meter dan kapasitas tujuh penumpang, saya sempat khawatir ketika harus melewati tikungan sempit, memasuki gang perumahan, atau memarkirkan kendaraan.
Dan ya, kekhawatiran itu sempat menjadi kenyataan. Pada masa-masa awal belajar, saya pernah membaretkan Grand Livina ini saat belok di tikungan.
Untung goresannya tidak parah, tetapi cukup menjadi pengingat bahwa menyetir mobil tidak bisa hanya mengandalkan nekat dan insting saja. Terlalu ceroboh dan kemaki kalau kalian hanya mengandalkan keduanya.
Akan tetapi, dari situlah saya mulai terbiasa. Semakin sering digunakan, saya semakin memahami dimensi mobil ini dan lebih peka membaca ruang di sekitar kendaraan.
Kalau ada pepatah Jawa yang berbunyi “witing tresno jalaran seko kulino”, maka hubungan saya dengan Grand Livina mungkin dimulai dari versi yang sedikit berbeda “witing lancar nyetir jalaran seko tau mbaret-no” hehehe.
Baca juga Terminal Cileungsi Bogor Merekam Nasib Angkot Rute Pendek yang Makin Sekarat.
Sesepuh yang menjadi teman belajar menyetir
Ada alasan mengapa saya menyebut Nissan Grand Livina 2009 sebagai sesepuh. Dengan usia yang sudah lebih dari 15 tahun, mobil ini tentu tidak bisa disandingkan dengan mobil-mobil muda yang kini sudah dibekali kamera 360 derajat, sensor parkir di berbagai sisi, hill start assist, hingga beragam fitur keselamatan aktif yang siap membantu bagi pengemudinya.
Grand Livina generasi awal ini lebih menawarkan pengalaman yang jauh lebih bermakna. Misal, ketika hendak parkir, saya tentu tidak bisa mengandalkan kamera belakang beresolusi tinggi.
Contoh lain, saat melewati jalan sempit, tidak ada sensor yang berbunyi mengingatkan jarak kendaraan dengan tembok atau pagar. Mau tidak mau ya saya harus belajar mempercayai spion, memperkirakan dimensi mobil, dan memahami situasi di sekitar kendaraan dengan kemampuan sendiri.
Di satu sisi, hal itu tentu menjadi kekurangan dibanding mobil-mobil modern yang lebih ramah bagi pengemudi pemula. Namun, di sisi lain, kesederhanaan itulah yang justru membuat Grand Livina menjadi “guru” yang baik. Mobil ini memaksa saya memahami dasar-dasar mengemudi tanpa terlalu bergantung pada kecanggihan teknologi yang dimilikinya.
Mungkin dan memang Nissan Grand Livina kalah canggih dibanding mobil-mobil keluaran terbaru, tetapi untuk urusan menemani seorang pemula belajar menyetir, sesepuh ini menjalankan tugasnya dengan sangat baik.
Penulis: Dimas Junian Fadillah
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Jangan Beli Mobil kalau Nggak Siap Menghadapi Hidden Cost yang Bikin Dompet Bergidik.1
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
