Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Ngobrol dengan Tukang Gali Sumur Tradisional yang ‘Modern’ Berkat Aplikasi Playstore

Andi Ilham Badawi oleh Andi Ilham Badawi
8 November 2020
A A
Ngobrol dengan Tukang Gali Sumur Tradisional yang 'Modern' Berkat Aplikasi Palystore terminal mojok.co

Ngobrol dengan Tukang Gali Sumur Tradisional yang 'Modern' Berkat Aplikasi Palystore terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Apa yang dianggap tertinggal, sebetulnya tak melulu ketinggalan. Bagaimanapun zaman berderap maju, ada usaha untuk terus berjalan ke depan. Barangkali, itulah yang ada di pikiran dan tindakan Pak Basri, salah seorang tukang gali sumur tradisional di kampung saya.

Bedanya kini, ia mesti beradu dengan mesin bor dan katrol milik tukang gali sumur modern. Tombak dan sekop di tangannya diasah makin tajam, menembus lapisan tanah dan bebatuan dalam, demi menemukan apa yang pelanggannya cari: air bersih.

Pak Basri dulunya bekerja sebagai sopir pete-pete (istilah angkutan umum di Sulawesi Selatan), dari kampung ke kota kabupaten, juga sebaliknya. Ia mengemudikan mobil milik seorang juragan. Penghasilan harian diperoleh lewat sistem bagi hasil. Namun, alih-alih mewujudkan mimpi memiliki mobil sendiri tercapai, zaman memaksa dirinya banting setir. Penetrasi kendaraan pribadi yang kian mengepung kampung, berdampak pada berkurangnya penumpang. Penghasilan otomatis berkurang, tapi jumlah setoran tetaplah sama. Ekonomi makin susah, jadinya ia beralih sebagai tukang batu, sekaligus tukang gali sumur tradisional.

***

“Saya temukan air di bawah sini pakai hape. Ada aplikasi Water Detector namanya.” girangnya.

Pak Basri menunjukkan aplikasi pendeteksi air tanah dari smartphone-nya kepada saya. Aplikasi tersebut ia temukan di Playstore secara tidak sengaja. Ceritanya, sekali waktu ia diminta seorang pelanggan untuk menggali sumur. Namun, sudah dua lubang sedalam lima meter ia gali, tanda-tanda kehadiran air bawah tanah belum terlihat. Pulang ke rumah dengan rasa gundah, Pak Basri menghibur diri dengan bermain Facebook. Sampai akhirnya pikiran iseng datang untuk mengetik kata kunci “pendeteksi air” di mesin pencari, dibantu anaknya yang masih usia SMA.

“Awalnya saya tidak paham cara kerjanya, kan pakai bahasa Inggris. Tapi, ada anakku ajari. Dia bantu terjemahkan bahasanya di Google.” ujarnya sumringah.

Pria berumur 46 tahun ini sudah lupa berapa sumur yang ia gali dibantu aplikasi water detector. Dirinya tak pernah lagi kesulitan menemukan di mana letak timbusu (mata air tanah). Tak perlu berpindah-pindah lokasi, menggali sana sini, seperti yang dulu-dulu. Pak Basri mengikuti langkah kaki zaman. Ketinggalan adalah frasa yang seharusnya bisa terlampaui.

Baca Juga:

5 Profesi yang Kelihatannya Gampang, Padahal Nggak Segampang Itu

Sarjana Agama Jangan Mau Dicap Cuma Bisa Terima Setoran Hafalan, Ini 5 Profesi Alternatif yang Butuh Keahlian Agama Kamu

Namun, teknologi modern tak membuat Pak Basri kehilangan sesuatu dari masa lalu. Meski dibantu satelit untuk menemukan air tanah, dirinya tak lupa bahwa air adalah milik Yang di Atas–Zat yang lebih tinggi dari satelit dan segalanya di dunia ini. Sebagai orang Bugis-Makassar, ia percaya bahwa sumber air–baik yang berada di atas tanah maupun di bawahnya–dijaga oleh makhluk kasar atau tak kasat mata ciptaan-Nya. Misalnya, sungai yang jamak dijaga oleh buaya.

“Kalau sudah temukan lokasi yang ada air di bawah dan kedalamannya memungkinkan untuk digali secara manual, saya minta izin dulu sama yang jaga.” katanya serius.

Alih-alih langsung menggali, Pak Basri menunggu sehari kemudian. Malam hari sebelum tidur, ia minta diberi petunjuk oleh Tuhan lewat mimpi, apakah air tanah itu boleh digunakan. Jika iya, ia akan meneruskan pekerjaannya besok. Bila belum, terpaksa mencari kembali dengan Water Detector, tak jauh dari lokasi sebelumnya.

Pak Basri tidak pernah mengambil risiko, memaksa menggali di lokasi yang tak berizin. Ada makhluk tak kasat mata yang juga hidup di sana. Merusak tempatnya, sama saja mengundang bahaya. Biasanya air sumur akan cepat kering, atau paling parah, bakal bikin sakit keluarga yang mengonsumsi air tersebut.

Sebagai tukang gali sumur tradisional, ilmu geografi lokal juga diandalkan Pak Basri untuk menemukan air. Kontur tanah dan kandungan lapisan bebatuan, serta vegetasi yang tumbuh di sekitar dijadikan referensi untuk mulai menyalakan Water Detector. Selain itu, lokasi sumur sekitar tak luput diobservasi. Jangan sampai, antarsumur saling berebut air tanah, hingga salah satunya bisa kering. Penggalian sumur dilakukan pada musim kemarau, sebab air tanah yang baik akan muncul usai musim penghujan.

Butuh waktu seminggu Pak Basri dan seorang rekannya untuk menyelesaikan galian sumur sedalam 6-8 meter hingga bertemu mata air. Pak Basri akan menyelenggarakan ritus terakhir sebelum menyelesaikan pekerjaannya. Di hari sebelum menyemen bibir sumur, ia membawa tujuh kudapan dari beras putih dan ketan, pisang panjang, dan seekor ayam panggang. Kudapan ini didoakan dan dimakan bersama dengan pemilik sumur, sebagai tanda syukur akan karunia Tuhan yang menganugerahkan air penghidupan.

“Mabbaca doa supaya kita bersyukur. Supaya air di sini tidak kering, biarpun kemarau panjang datang.” tutupnya.

Praktik menggali sumur ala Pak Basri yang memadukan antara satelit dan pengetahuan lokal, menunjukkan apa yang Homi K. Bhabha definisikan tentang kesadaran hybridity. Pak Basri mengakomodir produk teknologi yang dibawa globalisasi, sembari melanjutkan identitas dan lokalitas dalam satu tarikan napas. Ia berusaha bertahan dari gempuran modernitas, demi menegaskan posisinya atas hegemoni kemajuan zaman.

Photo by Frans Van Heerden via Pexels.com

BACA JUGA Pengalaman Aksi Demo yang Hampir Berakhir di Kantor Kejaksaan dan tulisan Andi Ilham Badawi lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 13 Agustus 2021 oleh

Tags: Modernisasiprofesi
Andi Ilham Badawi

Andi Ilham Badawi

ArtikelTerkait

7 Profesi yang Paling Sering Muncul di Drama Korea terminal mojok.co

7 Profesi yang Paling Sering Muncul di Drama Korea

29 Juni 2021
Jangan Jadikan PNS sebagai Jalur Utama Karier, Justru Jadikan PNS sebagai Pilihan Terakhir!

Jangan Keburu Jatuh Cinta sama PNS, Dunianya Tidak Semudah dan Semulus yang Kalian Kira

27 September 2024
Dear Alumni SMA, Tolong Pertimbangkan Jadi Penjaga Tahanan Sebelum Menyesal, Tidak Semua Orang Akan Cocok dengan Pekerjaan Ini

Dear Alumni SMA, Tolong Pertimbangkan Jadi Penjaga Tahanan Sebelum Menyesal, Tidak Semua Orang Akan Cocok dengan Pekerjaan Ini

25 Februari 2025
5 Sisi Gelap Dunia Makeup Artist Terminal Mojok

5 Sisi Gelap Dunia Makeup Artist

18 Agustus 2022
Emang Iya Kuliah Keguruan Cepat Balik Modal?

Noda dan Dosa Guru: Sisi Gelap Sebuah Profesi yang Dianggap Mulia

6 September 2022
4 Profesi Favorit Alumni Masterchef Indonesia terminal mojok.co

4 Profesi Favorit Alumni Masterchef Indonesia

11 Februari 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ciri Khas 3 Sate Ayam Ponorogo Dilihat dari Daerah Produksinya sate ayam madura

Sate Ponorogo, Sate Terbaik yang Pernah Ada. Sate Madura dan Sate Padang Minggir Dulu Sana ke Pojokan

9 April 2026
Ringroad Jogja Butuh JPO, sebab Pejalan Kaki Juga Butuh Rasa Aman dan Berhak untuk Merasa Aman

Ringroad Jogja Butuh JPO, sebab Pejalan Kaki Juga Butuh Rasa Aman dan Berhak untuk Merasa Aman

7 April 2026
Kecamatan Antapani Bandung Menang Mewah, tapi Gak Terurus (Unsplash)

Kecamatan Antapani Bandung, Sebuah Tempat yang Indah sekaligus Rapuh, Nyaman sekaligus Macet, Niatnya Modern tapi Nggak Terurus

5 April 2026
Jadi PNS di Desa Tidak Bisa Hidup Tenang, Tuntutan Sosialnya Tinggi karena Dikira Mapan dan Serba Bisa Mojok.co

Jadi PNS di Desa Tidak Bisa Hidup Tenang, Tuntutan Sosialnya Tinggi karena Dikira Mapan dan Serba Bisa

9 April 2026
Rindu Kota Batu Zaman Dahulu yang Jauh Lebih Nyaman dan Damai daripada Sekarang Mojok.co apel batu

Senjakala Apel Batu, Ikon Kota yang Perlahan Tersisihkan. Lalu Masih Pantaskah Apel Jadi Ikon Kota Batu?  

10 April 2026
Kebumen Perlahan “Naik Kelas” dari Kabupaten Termiskin Jadi Daerah Wisata, Warlok yang Tadinya Malu Berubah Bangga Mojok.co

Kebumen Perlahan “Naik Kelas” dari Kabupaten Termiskin Jadi Daerah Wisata, Warlok yang Tadinya Malu Berubah Bangga

9 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Omong Kosong Slow Living di Malang: Pindah Kerja Berniat Cari Ketenangan Malah Dibikin Stres, Nggak Ada Bedanya dengan Jakarta
  • Kuliah Jurusan Sepi Peminat Unsoed Purwokerto, Jadi Jalan Wujudkan Mimpi Ortu karena Tak Sekadar Kuliah
  • Bangun Rumah Tingkat 2 di Desa demi Tiru Sinetron, Berujung Menyesal karena Ternyata Merepotkan
  • Resign Kerja di Jakarta untuk Rehat di Jogja, Menyesal karena Hidup Tak Sesuai Ekspektasi dan Malah Kena Mental
  • Nasi Padang Rp13 Ribu di Jogja Lebih Nikmat dan Otentik daripada Yang Menang Mahal, tapi Rasanya Manis
  • Tinggalkan Pekerjaan Gaji Puluhan Juta demi Merawat Ibu di Desa, Dihina Tetangga tapi Tetap Bahagia

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.