Ngenesnya Punya Kebiasaan Lupa yang Memalukan

Semua orang pasti memiliki kebiasaan lupa dalam hidupnya. Kebiasaan ini terkadang tidak bisa kita kendalikan. Meskipun sering dikaitkan dengan penuaan.

Artikel

Avatar

Semua orang pasti memiliki sifat pelupa dalam hidupnya. Kebiasaan ini terkadang tidak bisa kita kendalikan. Meskipun sering dikaitkan dengan penuaan, namun hal tersebut tidak selamanya benar. Nyatanya, kebiasaan ini juga dialami oleh usia muda. Bahkan anak-anak dan remaja pun juga sering mengalami lupa.

Lupa merupakan hal yang wajar dan lumrah terjadi oleh setiap orang. Seperti lupa tanggal jadian, lupa naruh barang, lupa rute jalan dan lain-lain. Namun jika kita keseringan lupa ya namanya kebangetan. Bahkan jika kebiasaan ini terjadi pada kondisi tertentu, bisa jadi memalukan. Dan kita juga bisa kesel sendiri jadinya.

Saya adalah salah satu orang yang memiliki kebiasan lupa. Sudah beberapa kali saya sering mengalami kejadian memalukan karena kelupaan. Kalo kejadiannya di rumah sih, pasti nggak bakal malu. Tapi kejadiannya di publik dan dilihat oleh orang banyak. Duh nggak bisa bayangin. Ada cerita memalukan karena kebiasaan lupa yang saya ingat sampai sekarang.

Waktu itu sekitar jam 11 saya pergi ke mall di daerah Ketintang Surabaya. Saya pergi bersama sepupu saya dari Bogor. Karena mobil saya dipake ayah saya ke rumah temannya, akhirnya saya dan ponakan saya pergi mengggunakan sepeda. Alasan lain biar nggak macet dan cepat sampai di mall.

Ketika sampai di mall, saya langsung membayar parkir seharga 3 ribu. Cukup murah daripada harus parkir di luar yang harganya 5 ribu rupiah. Setelah kami sudah memakirkan sepeda motor, kami langsung masuk ke pintu masuk. Seperti pada umumnya kami belanja barang-barang yang sekiranya dibutuhkan. Seperti make up, baju dan aksesoris rambut.

Setelah belanja, kami pun akhirnya memutuskan untuk makan. Ya makanan yang dijual di mall tersebut masih standart. Jadi untuk dua orang cukup dengan harga 50-60 ribu. Saat itu saya hanya memesan steak dan jus melon. Sementara sepupu saya memesan ramen dan es teh manis. Jadi nggak sampai 100 ribu untuk makan dua orang.

Baca Juga:  Memanfaatkan Empati Publik, Menjadi Pengemis (Kapitalis) Gaya Baru

Setelah kami puas belanja dan makan-makan, kami putuskan untuk pulang. Awalnya biasa saja, kami menuju area parkiran sepeda motor. tapi setelah mengelilingi parkiran selama dua kali, motor saya pun tidak ketemu. Saat itu saya berfikir karena banyak motor yang saat itu parkir di area tersebut.

Saya langsung berhenti sejenak dan mengingat-ingat tadi saya parkir di mana. Sepupu saya hanya ingat bahwa kami parkir tidak jauh dari pintu masuk mall. Akhirnya kami mencari di sekitar tempat yang tak jauh dari pintu masuk mall. Satu demi satu motor saya lihat, alhasil belum ketemu juga.

Saya dan sepupu saya sampai lima kali mengelilingi parkiran tapi hasilnya nihil. Hingga petugas keamanan yang berjaga menghampiri kami. Mungkin dia udah ngelihatin kami dan menaruh curiga dengan kelakuan kami. Ya pastilah, siapa yang nggak curiga kalo liat orang mondar-mandir nggak jelas.

Petugas tersebut langsung menanyakan apakah kami ada masalah. Saya pun langsung bilang bahwa motor saya tidak ada di parkiran alias hilang. Saya juga menjelaskan bahwa saya sudah menaruh motor di area yang tidak jauh di pintu masuk mall. Petugas tersebut langsung meminta saya untuk mengeluarkan karcis sepeda motor. Saya pun langsung membuka tas saya dan mengeluarkan selembar karcis parkir yang saya terima tadi.

Petugas tersebut langsung memeriksa karcis parkir yang saya miliki. Dan betapa kaget dan malunya saya ketika petugas tersebut menjelaskan hal yang tidak saya fikirkan.

Maaf mbak, ini parkirannya masih di bawah lagi. Jadi mbaknya harus turun satu lantai lagi,” kata petugas tersebut sembari mengembalikan karcis parkir.

Jujur, saat itu saya berasa malu hingga pipi saya menjadi merah. Saya lupa bahwa parkiran di mall tersebut ada di dua lantai. Dan saya tadi diarahkan untuk parkir di lantai yang paling bawah sendiri. Betapa malunya saya waktu itu hingga dilihatin orang-orang. Padahal saya sebenarnya juga sering ke mall tersebut. Sepupu saya pun juga terdiam karena dia juga baru ke Surabaya.

Baca Juga:  Jangan Silau dengan Cahaya Sunda Empire karena Masih Banyak Persoalan Bangsa yang Belum Beres

Kami pun akhirnya mengucapkan terima kasih dan langsung menuju ke parkiran lantai bawah. Dan apa yang dikatakan petugas tersebut benar. Sepeda motor kami memang terparkir di area tersebut. Duh, malunya punya kebiasaan lupa di tempat umum. Apa kalian punya kebiasaan lupa yang memalukan? Aku harap jangan sampai. (*)

BACA JUGA Anak Ketinggalan di GoCar: Kok Bisa Sih? atau tulisan Melina Ayu Agustin lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
2

Komentar

Comments are closed.