Informasi
ADVERTISEMENT

Nasib warga Pacitan: KTP Jawa Timur, tapi dianggap warga Jawa Tengah karena kurang kental Jawa Timurnya

Nasib warga Pacitan: KTP Jawa Timur, tapi dianggap warga Jawa Tengah karena kurang kental Jawa Timurnya

Menjadi warga kabupaten paling ujung di sebuah provinsi memang punya tantangan tersendiri. Namun, penderitaan itu naik beberapa level ketika wilayah tempat tinggalmu bernama Pacitan. Secara administratif pada lembaran Kartu Tanda Penduduk, kami jelas-jelas tercatat sebagai warga Republik Indonesia yang bernaung di bawah Provinsi Jawa Timur.

Tapi di mata orang luar—terutama mereka yang tinggal di luar Karesidenan Madiun atau arek Suroboyo—Pacitan ini sering banget diasingkan dari peradaban Jawa Timur.

Paling sering, ketika kami merantau ke Surabaya, Malang, atau bahkan sekadar nongkrong dengan sesama warga Jatim, pertanyaan klise yang mendarat di telinga selalu bernada vonis: “Oh, Pacitan ya? Masuk Jogja atau Jateng, kan?”

Halo? Peta administratif bangsa ini ke mana aja, cuy? Gubernur kami itu Khofifah atau pejabat yang ngantor di Pahlawan Surabaya, bukan Sri Sultan atau Pj Gubernur Jawa Tengah!

Kutukan dialek medok tanpa kata sapaan khas Suroboyo

Usut punya usut, kesalahpahaman massal ini bukan murni karena kekeliruan geografis teman-teman kita, melainkan ada andil dari lidah kami sendiri. Secara sosiolinguistik, warga Pacitan ini berada di zona abu-abu yang membingungkan.

Coba saja dengar cara kami ngobrol. Penduduk Pacitan tidak menggunakan bahasa Jawa dialek Timuran yang garang, tegas, penuh penekanan kata khas, atau akhiran -an yang cetar membahana. Kami juga tidak memakai logat Mataraman pekat ala Solo-Jogja yang mendayu-dayu dengan tingkat undak-usuk bahasa yang bikin stres.

Lidah orang Pacitan itu unik, medoknya mirip orang Wonogiri atau Ponorogo bagian selatan, tapi kalau diajak ngomong cepat, nada bicaranya punya ritme sendiri yang kadang bikin orang ngira kami ini sedang menyamar jadi warga perbatasan Jateng.

Akibatnya fatal. Begitu kami ngomong “Nggih, Mas” atau “Pun” di hadapan orang Surabaya, seketika paspor ke-Jatim-an kami dicabut secara sepihak. “Ah, bohong kamu orang Jatim, logatmu kok Jawa Tengahan gitu!”

Perbatasan Pacitan yang membingungkan secara batin

Secara geografis, letak Pacitan memang unik. Kabupaten ini terjepit di antara deretan pegunungan karst dan berbatasan langsung di sebelah barat dengan Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Kalau kamu naik bus dari Solo menuju Pacitan, perjalanannya cuma butuh waktu sekitar dua jam lewat Wonogiri.

Nggak heran kalau secara sirkulasi ekonomi, kuliner, hingga rantai pasok logistik, warga Pacitan lebih sering nyangkut ke Solo atau Jogja daripada ke Surabaya walaupun jaraknya harus melewati lembah dan bukit berjam-jam lamanya.

Anak-anak muda Pacitan kalau mau kuliah atau cari kerja merantaunya juga lebih sering ke Jogja, Solo, atau Semarang daripada Surabaya. Jadi, wajar kalau secara kultural, kami lebih nyambung bahas mangkok bakso Wonogiri ketimbang kuliner khas timuran. Tapi ya tolonglah, jangan karena kami doyan nongkrong di Alun-Alun Kidul Solo, lantas provinsi kami seenaknya dipindah oleh netizen +62.

Antara bangga dan pasrah menghadapi kenyataan

Pada akhirnya, warga Pacitan hanya bisa mengelus dada sambil menyeruput kopi di warung angkringan—yang notabene gayanya mirip banget sama di Jateng.

Mau marah, salah sendiri kabupaten kami letaknya paling pojok barat daya Jawa Timur, nempel banget sama perbatasan. Mau didiemin, tapi rasa nasionalisme kedaerahan terusik tiap kali dituduh jadi wilayah pelarian provinsi tetangga.

Pesan moral buat teman-teman di luar sana, tolong hargai eksistensi kami. Pacitan itu harga mati bagian dari Jawa Timur, meskipun lidah kami lebih fasih melafalkan “njenengan” ketimbang “awakmu”. Sekali lagi, KTP kami tetap Jawa Timur, Bos!

Penulis: Annisa Dewi Hapsari
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Pacitan: Daerah yang Tak Terjamah Pemerintah, padahal Punya Banyak Cerita Sejarah

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 3 Oktober 2026 oleh .

Annisa Dewi Hapsari

Mahasiswa semester 1 Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Surakarta. Suka mendengarkan musik genre RnB.

Exit mobile version