Informasi
ADVERTISEMENT

Solo Baru Bukan Solo: Potret kawasan yang dulu sebatas daerah pinggiran kini menjadi pusat bisnis Sukoharjo yang semakin ramai

Solo Baru bukan Solo: Bekas pinggiran Sukoharjo kini makin ramai (Unsplash)

Solo Baru bukan lagi sekadar nama kawasan perumahan saja. Wilayah yang secara administratif masuk Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo, ini kini menjadi tempat yang orang datangi dengan sengaja. Ya untuk belanja, makan, menginap, atau sekadar menghabiskan waktu.

Perubahan itu tampak dari cara media nasional menyebutnya. detikJateng dalam laporan banjir April 2026 memakai istilah “kawasan bisnis” dan menyebut Jalan Ir. Soekarno, ruas utama yang membelah kawasan, sebagai pusat bisnis dengan mal, restoran, toko, dan rumah sakit di sepanjang sisinya. Orang luar memang sudah lama tidak memandang daerah ini sebagai pinggiran.

Dulu, orang mengenal Solo Baru sebagai kawasan permukiman

Pengembang memulai kawasan ini sebagai proyek permukiman berskala besar di Kecamatan Grogol. Letaknya yang menempel dengan Kota Solo membuat aktivitas kota tetangga ikut memengaruhi pertumbuhannya. Pengembang menambah perumahan, pelaku usaha membuka ruko dan toko, lalu kendaraan mulai memenuhi jalan yang sebelumnya lengang.

Layanan angkutan umum menjaga konektivitas dua wilayah sampai sekarang. Pada akhir 2024, Dinas Perhubungan Kota Solo memastikan koridor 6 Bus Batik Solo Trans (BST) dengan rute Terminal Tirtonadi–Solo Baru tetap beroperasi pada 2025. 

Kepala Dishub Solo, Taufiq Muhammad, mengatakan pemerintah pusat membiayai koridor tersebut lewat APBN sehingga layanannya tidak berhenti. Keputusan itu menegaskan satu hal. Pergerakan orang antara Solo dan kawasan ini memang padat dan menuntut angkutan umum yang andal.

Pola serupa muncul di banyak daerah yang berdekatan dengan kota besar. Ketika sebuah kota semakin padat, kawasan di sekitarnya ikut tumbuh dan lambat laun menemukan identitas sendiri. Kawasan ini menjadi salah satu contoh yang melangkah paling jauh.

Sekarang, Solo Baru menyediakan hampir semua kebutuhan

Orang kini mudah menemukan alasan untuk datang. Mau makan, ada banyak pilihan. Belanja, ada pusat perbelanjaan seperti Pakuwon Mall dan The Park Mall. Ngopi atau nongkrong, tempatnya terus bertambah. Warga yang hanya ingin jalan-jalan tanpa tujuan jelas juga tetap punya banyak pilihan untuk menghabiskan waktu.

Tempo mencatat geliat itu ketika meliput Festival Kuliner Pasar Sumringah di The Park Mall Solo pada 17–28 September 2025. Ajang tersebut menghadirkan lebih dari 50 tenan kuliner tradisional yang menyajikan hidangan legendaris dari berbagai kota di Indonesia. 

Public Relations Supervisor The Park Mall Solo, Christina, mengatakan mal merelokasi festival ke area lobi dan parkir timur karena tengah merenovasi area Centralpark dan parkir selatan. Dia berharap relokasi itu melahirkan destinasi kuliner baru sekaligus mendekatkan pengunjung dengan para tenan.

Sektor perhotelan merasakan lonjakan permintaan serupa. Saat peringatan Haul Solo 2024, favehotel Solo Baru mencatat 153 kamarnya penuh. Public Relations Coordinator favehotels Solo, Nonik Ratna Dewi, mengungkap sebagian tamu langganan memesan kamar sejak setahun sebelumnya (detik). 

Setahun berselang, panitia Haul Habib Ali Solo 2025 memasukkan kawasan The Park serta parkiran Waterboom Pandawa Solo Baru ke daftar kantong parkir acara. Dua contoh itu menunjukkan posisi Solo Baru. Ia menopang acara besar lintas daerah, bukan lagi tempat singgah biasa.

Pola harian warganya juga menarik. Sebagian orang tinggal di Solo Baru, bekerja di Kota Solo, lalu makan malam kembali di kawasan ini. Sebagian lain datang dari daerah tetangga karena ingin berbelanja atau mencari tempat berkumpul. Alhasil, orang tidak lagi sekadar melintasi kawasan ini ketika hendak masuk atau keluar dari Kota Solo.

Sukoharjo punya kawasan yang ramainya bukan main

Perkembangan kawasan ini menempatkan daerah ini pada posisi menarik dalam peta Sukoharjo. Secara administratif ia tetap bagian kabupaten. Denyut hariannya, bagaimanapun, sudah sangat kota. Perumahan berdiri berdekatan dengan pusat perdagangan, tempat makan, hotel, dan berbagai usaha lain. Kendaraan yang datang dan pergi lebih sering memenuhi jalanan daripada suasana pinggiran yang sepi.

Pemerintah Kabupaten Sukoharjo memanfaatkan momentum itu. Pada Juli 2026, Pemkab Sukoharjo menyelenggarakan rangkaian hari ulang tahun ke-80, termasuk pawai budaya di kawasan ini. 

Panitia sampai menutup sebagian ruas Jalan Ir. Soekarno dari Simpang RS Indriati hingga Simpang Tanjunganom demi kelancaran acara. Pilihan lokasi tersebut menunjukkan bahwa pusat keramaian kabupaten perlahan bergeser ke selatan.

Kabupaten memang bisa punya pusat keramaian yang kuat. Orang tidak perlu masuk jauh ke Kota Solo untuk mencari suasana kota karena daerah ini sudah menyediakan ruko, perkantoran, hotel, rumah sakit, mal, dan kafe yang jaraknya berdekatan. Anggapan bahwa suasana kota hanya ada di Solo pun perlahan kehilangan dasarnya.

Tantangan yang belum tuntas

Tentu, tidak semuanya mulus. Pada April 2026, banjir merendam sejumlah titik di Kecamatan Grogol dan memaksa warga menutup akses Jalan Sidoluhur Cemani yang mengarah ke Solo Baru. 

Camat Grogol, Herdis Kurnia Wijaya, menjelaskan air datang dari anak Sungai Bengawan Solo yang meluap. Warga setempat bernama Eka menilai drainase yang mampet memperparah genangan di lingkungannya (kompas).

Kemacetan pun menjadi persoalan harian di Solo Baru. Ketika banjir melanda pada 15 April 2026, seorang pemotor bernama Suyanto mengaku waktu tempuh dari Patung Pandawa ke Patung Soekarno yang biasanya tiga menit melebar menjadi satu jam. Laju pembangunan yang cepat menuntut pemerintah menata drainase, transportasi, dan ruang publik agar pertumbuhan tidak mengorbankan kenyamanan warga maupun pengunjung.

Dulu pinggiran, sekarang tujuan

Perubahan kawasan ini bukan cuma soal bertambahnya bangunan atau semakin banyaknya tempat usaha. Yang berubah juga kebiasaan orang dalam melihatnya. Dulu orang mengenalnya sebagai tempat tinggal. Sekarang, orang punya banyak alasan untuk sengaja datang ke sana.

Dari yang awalnya berada di pinggir aktivitas, ia perlahan menjadi tempat yang menciptakan aktivitasnya sendiri. Orang datang karena memang ingin menuju kawasan ini, bukan sekadar karena kebetulan sedang berada di dekat sana. Itulah yang membuat Solo Baru menarik: ia tumbuh mengikuti kebutuhan orang-orang di sekitarnya.

Pertanyaan yang sering muncul

Di mana Solo Baru berada? Kawasan ini terletak di Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, dan berbatasan langsung dengan Kota Solo.

Apa bedanya Solo dan Solo Baru? Surakarta berstatus kota, sedangkan kawasan ini masuk wilayah Kabupaten Sukoharjo.

Apa saja yang ada di kawasan ini? Pusat perbelanjaan, hotel, rumah sakit, perkantoran, perumahan, dan beragam pilihan kuliner.

BACA JUGA Solo Baru: Lokasi di Sukoharjo, tapi Gaya Hidup Mirip Solo, Bikin Sukoharjo Krisis Identitas dan Hilang Arah

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 3 Oktober 2026 oleh .

Clarisa Selen Salsa Fadila

Mahasiswa Poltekkes Kemenkes Surakarta.