Stasiun Tegalluar adalah pilihan buruk yang bisa diambil oleh orang yang berpikir secara sehat
Menjajal kereta cepat Whoosh sebenarnya sudah menjadi rutinitas mingguan yang biasa saya lakoni dalam beberapa waktu terakhir. Sebagai pengguna setia, urusan memesan tiket dan menikmati laju gerbong besi yang membelah jalur Jakarta-Bandung sudah di luar kepala.
Namun, hari itu ada satu keputusan agak ngawur yang saya ambil. Yakni iseng memesan tiket dengan tujuan akhir Stasiun Tegalluar alih-alih Stasiun Padalarang yang biasanya menjadi tempat ternyaman untuk mengakhiri perjalanan.
Rasa penasaran berbalut aroma kebodohan menghiasi benakku sepanjang perjalanan di dalam gerbong yang mulus itu. Selama ini telingaku sudah muak mendengar berbagai cerita miring mengenai letak stasiun ujung tersebut yang terkenal antah berantah. Sayangnya, mempraktikkan langsung turun di sana ternyata jauh lebih menguji kewarasan daripada sekadar mendengarkan keluh kesah orang lain.
Terisolasi di ujung Kabupaten Bandung
Sensasi melesat kencang 350 kilometer per jam seketika ambyar begitu pintu gerbong terbuka dan kakiku menapak di peron Stasiun Tegalluar. Stasiun ini memang megah bak istana masa depan. Tetapi berdiri di tengah keheningan yang jauh dari denyut kehidupan peradaban Kota Bandung. Perjalanan singkat dari ibu kota yang ditempuh dalam hitungan belasan menit mendadak terasa sia-sia belaka karena waktu yang kuhabiskan untuk keluar dari kawasan stasiun ini justru terasa lebih lama.
Suasana lengang dan senyap langsung menyambut di area kedatangan, sangat kontras dengan hiruk-pikuk terminal atau stasiun konvensional pada umumnya. Minimnya ketersediaan moda transportasi publik lanjutan yang layak membuat para penumpang, termasuk diriku yang mulai menyesali keputusan, harus manggut-manggut kebingungan di lobi.
Alih-alih segera sampai lokasi tujuan dengan efisien, aku malah harus menunggu lebih lama taksi online yang aku pesan.
Padalarang adalah pilihan kaum berakal sehat, sedangkan Stasiun Tegalluar, sebaliknya
Pengalaman perdana turun di Stasiun Tegalluar ini langsung membuatku bersujud syukur dalam hati mengenang nikmatnya Stasiun Padalarang. Selama ini aku memang selalu memilih Padalarang karena letaknya jauh lebih masuk akal bagi para pelaju yang ingin segera menembus pusat kota. Stasiun KCIC Padalarang sendiri sebenarnya menghadirkan paradoks tersendiri. Mewah di dalam, tapi semrawut di luar, contoh nyata pembangunan infrastruktur yang sering kali abai pada tata ruang matang.
Meskipun begitu, keberadaan kereta feeder yang langsung nangkring dan terintegrasi di sana tetap memberikan kepastian mobilitas yang tidak kutemukan di stasiun ujung timur. Bukan tanpa alasan jika mayoritas umat manusia yang naik Whoosh lebih memilih menghentikan perjalanan mereka di Padalarang. Suasana di sekitar stasiun transit tersebut jauh lebih berdenyut, menyediakan banyak opsi angkutan lanjutan meski kerap bikin darah tinggi karena karut-marutnya lalu lintas sekitar.
Perbandingan telak ini menyadarkanku bahwa Padalarang masih menjadi favorit bagi kaum rasional yang tidak ingin hari-harinya hancur lebur gara-gara salah pilih stasiun.
Pelajaran berharga dari sebuah rencana
Mencoba hal baru memang dianjurkan. Tetapi mencoba turun di Stasiun Tegalluar adalah sebuah bentuk hukuman mandiri yang tidak boleh terulang dua kali. Megahnya infrastruktur transportasi modern ternyata belum sepenuhnya berdampak pada kewarasan koneksi wilayah hilirnya, meninggalkan PR besar bagi para pemangku kebijakan.
Ujung-ujungnya, kecepatan kilat yang dibayar mahal mendadak luntur seketika saat kita harus bergulat dengan macet dan susahnya cari tumpangan lokal.
Pada akhirnya, aku pasti akan kembali memasukkan Padalarang sebagai destinasi turun wajib dalam setiap catatan perjalanan Whoosh berikutnya. Bagaimanapun juga, kenikmatan hidup bertransportasi bukan cuma perkara seberapa canggih kereta bisa ngebut, melainkan seberapa cepat kita bisa rebahan di rumah tanpa harus emosi ngemper di lobi stasiun.
Penulis: Dodik Suprayogi
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
