Menjadi PNS di usia muda adalah pencapaian luar biasa. Setidaknya, begitu anggapan mertua. Tapi, kenyataan di lapangan sering kali berbeda. Para pemegang SK baru harus sabar merasakan perpeloncoan sambil menunggu PNS baru berikutnya untuk bisa menghela nafas sejenak dari pekerjaan. Bayangkan skenarionya: kamu adalah satu-satunya PNS muda di sebuah sekolah yang isinya adalah para senior angkatan baby boomers. Ya, kebetulan (dan mungkin sayangnya), saya adalah guru PNS muda.
Di sekolah ini, kamu bukan lagi sekadar guru. Kamu adalah entitas mistis. Kamu dianggap sebagai dewa yang bisa melakukan apa saja, mulai dari membetulkan proyektor mati, mendesain spanduk kelulusan, hingga memindahkan gunung (kalau ada aplikasinya di PlayStore).
Mantra sakti: “dulu waktu muda, saya juga seperti kamu”
Awalnya, pujian dari para senior terasa menyenangkan di telinga guru PNS muda. “Wah, si Bapak/Ibu muda ini pinter banget ya, serba bisa!”
Namun, lama-lama pujian itu berubah menjadi jebakan batman. Setiap kali ada tugas baru yang menumpuk di meja, para senior akan mengeluarkan kalimat pemungkas yang sudah diwariskan turun-temurun: “Tolong dikerjakan ya, Dik. Kan kamu masih muda, otaknya masih segar. Dulu waktu saya seumur kamu, saya juga pegang semua urusan sekolah, bisa apa saja!”
Mantra sakti ini otomatis menutup ruang negosiasi. Mau menolak? Nanti dibilang tidak hormat sama senior. Mau menerima? Beban kerja sudah mirip kepala dinas, padahal gaji dan tunjangan tetap di level golongan paling bawah. Alhasil, pemeo “yang muda yang berkarya” di sekolah bergeser makna menjadi “yang muda yang kerja rodi”.
Kutukan guru PNS muda: menjadi Kurikulum Abadi
Dipikir-pikir pekerjaan banyak ini dimulai sejak 5 tahun yang lalu, saat puncak dari segala apresiasi berkedok eksploitasi ini ketika Kepala Sekolah memanggil ke ruangan. Dengan senyum penuh arti, beliau menunjuk saya menjadi ketua urusan kurikulum. Selamat! Sejak hari itu, saya resmi menyandang gelar: Kurikulum Abadi.
Sejak saat itu, garis hidup saya sepenuhnya dikendalikan oleh kata “kurikulum”. Hebatnya, definisi kurikulum di sekolah ini sangatlah elastis. Urusan administrasi mengajar, raport digital, dan dokumen 1 Kurikulum Satuan Pendidikan? Oke, itu memang tugas kurikulum.
Tapi kenapa ketika PMI dan Puskesmas mengadakan workshop kesehatan, kurikulum yang harus maju di depan?
Bahkan yang paling ajaib adalah urusan acara perpisahan sekolah. Dari mulai menyusun konsep acara, memilih panggung, sampai menjadi MC acara segala acara garda terdepannya tetap: KURIKULUM.
Tolong ya, pekerjaan itu bisa di-breakdown!
Sebenarnya, sebagai guru PNS muda, kita tidak masalah untuk belajar dan mengurus banyak hal. Kami paham bahwa teknologi dan digitalisasi adalah ranah kami. Kalau disuruh mengoperasikan aplikasi rapor online, bikin media pembelajaran interaktif, atau mengedit video profil sekolah, kami akan kerjakan dengan senang hati. Itu masuk akal.
Namun, masa iya tugas non-teknologi yang sifatnya fisik dan administratif manual harus dilemparkan ke kami juga?
Urusan perpisahan sekolah, misalnya. Menghubungi tempat penyewaan tenda atau menyusun kursi itu tidak butuh keahlian khusus mengoperasikan AI. Semua orang dari segala kelompok usia—selama fisiknya sehat—pasti bisa melakukannya. Masa iya yang nulis susunan acara sekaligus melatih anak-anak jadi MC saya? kan ada guru Bahasa Indonesia ya.
Pekerjaan sekolah itu harusnya bisa di-breakdown dan dibagi rata. Jangan mentang-mentang yang tua sudah merasa “senior”, lalu tugas yang tidak butuh teknologi pun ikut dioper ke yang muda dengan alasan nostalgia zaman dulu.
Menjadi satu-satunya guru muda di antara para boomers memang melatih kesabaran setingkat dewa. Namun ingat, pundak guru muda juga bisa encok. Tolong para senior, kami ini PNS muda, bukan pahlawan Avengers yang bisa menyelesaikan semua masalah sekolah seorang diri!
Penulis: Intan Wahyu Permana
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
