Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Mudik di Masa Pandemi: Lebih Horor Ketimbang Menetap di Jakarta

Awal Hasan oleh Awal Hasan
14 September 2020
A A
mudik pandemi wabah corona protokol kesehatan di desa abai mojok.co

mudik pandemi wabah corona protokol kesehatan di desa abai mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Akhir Juli kemarin saya dan pacar mudik ke kampung. Bermodal rapid test dengan hasil non-reaktif, kami berniat mengurus pernikahan yang dilangsungkan akhir Agustus kemarin.

Persiapan cuma sebulan? Tetek bengek lain sudah diurus jauh hari. Agendanya juga cuma ijab qabul yang dihadiri sekitar 20 orang (menurut aturan, maksimal 30 orang).

Pikiran saya sederhana. Jakarta jadi episentrum corona, sementara daerah asal saat itu masuk zona kuning. Seharusnya hati lebih tenang. Seharusnya. Tapi, tak lama setelah mudik ke desa kelahiran, sebut saja K, situasinya justru lebih horor ketimbang di Ibu Kota.

Kenapa? Jika di Jakarta orang-orang lumayan disiplin protokol, setidaknya keluar pakai masker, orang-orang kampung saya beraktivitas seakan-akan virus asal Wuhan itu hoaks belaka.

Saya mengarantina diri selama dua minggu di rumah. Sembari WFH, tentu saja. Tidak pernah tidak pakai masker, selalu jaga jarak dengan orang rumah, rajin cuci tangan, menolak salaman atau kontak fisik lain.

Saya kira itu common sense. Saya pun melakukannya selama di Jakarta. Bukan apa-apa. Selain khawatir sama diri sendiri, saya juga tidak mau jadi OTG (orang tanpa gejala) yang diam-diam menularkan virus ke orang terdekat. Apalagi orang tua dan mbah saya masuk kategori rentan secara usia.

Lewat dua minggu, saya mulai memberanikan diri keluar rumah. Utamanya untuk mengurus administrasi KUA dan perpanjangan SIM motor.

Nah, di titik ini saya mulai menyaksikan bagaimana mayoritas warga kampung K menyepelekan protokol kesehatan.

Baca Juga:

Kapok Naik PO Handoyo Kelas Eksekutif, Niat Cari Kenyamanan dengan Bayar Mahal Malah Berakhir Trauma dan Menderita

Bersyukur Gagal Naik PO Haryanto Magelang-Demak, Kehabisan Tiket Berujung Pengalaman Mudik yang Lebih Berkesan dan Hangat

Masker, barang paling standar tapi efektif untuk mencegah penularan virus, jarang ada yang pakai. Atau dipakai sembarangan dengan hidung masih mengatung keluar. Atau dipakai selama naik motor, tapi anehnya dilepas saat sudah sampe tujuan, di tempat ngumpul.

Entah kenapa saya merasa banyak yang pakai masker karena formalitas saja. Mungkin mirip peraturan lain yang dilakukan atas nama: ya karena jadi aturan. Kurang paham esensinya. Semata karena yang lain juga pakai. Atau biar nggak kena razia.

Jaga jarak? Apa itu jaga jarak. Di pertigaan, para gondes masih nongkrong ria. Udad-udud, ketawa-ketiwi. Di pasar dan tempat kerumunan lain pengunjung tetap berdesak-desakan.

Satu tetangga bisa menggelar resepsi pernikahan tanpa didisiplinkan kepolisian setempat, hal yang sama kemudian dilakukan warga lain. Ingat, dan bayangkan, itu semua berlangsung dengan tanpa atau sedikit yang pakai masker.

Tahu kan rasanya melakukan satu hal yang masyarakat lain tidak lakukan? Saya merasa seperti orang konyol. Orang paranoid, yang ketika keluar pakai masker justru mendapat tatapan heran, atau kadang malah senyum ejekan.

Saya mungkin dipandang sedang merusak keayem-temtreman kampung, mencederai kenormalannya, keguyubannya. Mengutip seorang tetangga pas papasan di jalan, “Di kampung ini udah nggak ada corona.”

Satu malam saya pulang jalan kaki dari rumah Mbah. Di satu pengkolan ada beberapa pemuda desa yang duduk mengelilingi api unggun. Tidak ada yang maskeran. Salah satunya adalah teman masa kecil saya. Saya cuma menyapa sebentar, lalu lanjut jalan.

Baru beberapa langkah, saya mendengar si teman itu komentar, “Kok dia masih maskeran?” Tahu apa jawaban pemuda di sebelahnya? “Iya tuh, si Awal emang masih ketakutan”.

Itu belum apa-apa dengan pengalaman salat berjamaah. Hampir mustahil untuk tidak dibecandai jemaah lain saat saya mencoba menerapkan jaga jarak. Meski sudah gelar sajadah sekitar 50 cm, selalu ada yang nyelonong dari belakang untuk merapatkan barisan.

Barangkali tidak terima jika saf kosong. Toh kiai setempat sejak awal pandemi tidak pernah mengatur jarak. Pokoknya rapat-pat!

Puncaknya saat salat Idul Adha. Sudah hampir separuh jamaah tidak memakai masker, berdesak-desakan di dalam masjid, tiap beberapa detik ada yang batuk-batuk pula, gimana saya nggak gelisah?

Sebelum salat dimulai, saya memutuskan keluar masjid, menuju emperan samping yang masih kosong. Saya kira di emperan itu nanti cuma akan dihuni dua orang per baris, ada ruang kosong di tengah.

Eh, ketika salat mau mulai, satu orang mendesak ke ruang kosong itu. Siapa dia? Tidak lain dan tidak bukan adalah Pak RT. Tanpa masker, dia mengatur jamaah lain pakai dark joke,

“Ayo, ayo… dirapetin, nanti coronanya kesenengan (karena bikin saf bolong).”

Jemaah di belakang ada yang menyahut, “Eh, jangan bolong safnya… ntar coronanya liwat… hihihi….”

Saya menyerah.

Saya sampai hampir membatalkan acara nikah karena saking khawatirnya. Tapi segalanya sudah fiks, tinggal jalan. Ya, apa boleh buat. Yang penting sembari menjalankan protocol dan rombongan kecil keluarga saya dipastikan dalam kondisi sehat walafiat.

Dua minggu selepas acara, saya bersama istri sudah kembali ke Jakarta. Beberapa hari setelahnya saya tanya kabar ke orang rumah. Dijawab, “Alhamdulilah, sehat kabeh,” sehat semua. Begitu juga warga kampung. Sepengetahuan saya, tidak ada satu pun yang sakit atau meninggal dalam kondisi positif Covid-19.

Apa berarti saya memang paranoid? Dan warga kampung sedang menertawakan saya?

Mengingat positif-negatifnya warga hanya bisa diketahui melalui tes dan di kampung tidak diselenggarakan swab atau rapid test massal, sementara tingkat tes yang digelar pemerintah Indonesia juga masih rendah, saya cuma bisa bilang: entahlah. Mbuh.

Sejujurnya saya juga berharap saya ini memang salah. Bahwa semuanya cuma hasil dari pemikiran yang berlebihan.

Diketawain dong? Nggak apa-apa. Asal semuanya sehat sampai pandemi berlalu dan kita bisa menjalankan aktivitas secara normal.

Semoga.

BACA JUGA Hindari Corona, Tetaplah Hidup Walau Tidak Berguna dan tulisan Awal Hasan lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 14 September 2020 oleh

Tags: Mudikwabah corona
Awal Hasan

Awal Hasan

ArtikelTerkait

Repotnya Mahasiswa Asal Ponorogo yang Kuliah di Malang, Mudik jadi Barang Mahal Mojok.co

Repotnya Mahasiswa Asal Ponorogo yang Kuliah di Malang, Mudik jadi Barang Mahal

10 November 2023
agribisnis menthek kafe tengah sawah KKN wabah corona pemandangan pagi sawah mojok

KKN Tahun Ini Nggak Ada Ngapain Sedih, KKN Kan Banyak Nggak Enaknya

8 Mei 2020
Trauma Naik PO Handoyo Kelas Eksekutif, Niat Cari Kenyamanan dengan Bayar Mahal Malah Berakhir Menderita Mojok.co

Kapok Naik PO Handoyo Kelas Eksekutif, Niat Cari Kenyamanan dengan Bayar Mahal Malah Berakhir Trauma dan Menderita

31 Maret 2026
pencurian musim maling pandemi wabah corona cerita mistis hantu horor mojok

Kisah Mistis Para Maling yang Pernah Dijumpai Peronda

7 Mei 2020
Dilema Mudik Lewat Wonosobo: Pemandangannya Indah sih, tapi Problematik banjarnegara

Dilema Mudik Lewat Wonosobo: Pemandangannya Indah sih, tapi Problematik

19 April 2023
skripsi pandemi tips agar skripsi cepat selesai skripsi ditiadakan, skripsian di rumah Pak Jokowi, Selain UN, Skripsi Juga Harusnya Ditiadakan Tahun Ini

Skripsi Mandek Gegara Pandemi? Jangan Lebay Ah, Nih Tips Biar Kalian Nggak Setop Ngerjain

6 Juni 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

5 Alasan yang Membuat Saya Ingin Balik ke Pantai Menganti Kebumen Lagi dan Lagi Mojok.co

Jalan-jalan ke Pantai saat Libur Panjang Adalah Pilihan yang Buruk, Hanya Dapat Capek Saja di Perjalanan

1 April 2026
Makanan Malang yang Membuat Saya sebagai Perantau Kecewa, Sebaiknya Jangan Pasang Ekspektasi Ketinggian Mojok.co

Makanan Malang yang Bikin Pendatang seperti Saya Kecewa, Memang Sebaiknya Jangan Pasang Ekspektasi Ketinggian

1 April 2026
Angkringan di Kendal Tak Lagi Merakyat: Harga Tambah Mahal dan Porsi Semakin Menyedihkan, Makan Jadi Cemas Mojok.co

Angkringan di Kendal Tak Lagi Merakyat: Harga Tambah Mahal dan Porsi Semakin Menyedihkan, Makan Jadi Cemas

7 April 2026
Mobil Honda Mobilio, Mobil Murah Underrated Melebihi Avanza (Unsplash)

Kaki-kaki Mobil Honda Tidak Ringkih, Jalanan Indonesia Saja yang Kelewat Kejam!

5 April 2026
Sebagai Buruh Pabrik, Saya Juga Ingin WFH Seperti ASN (Shutterstock)

Sebagai Buruh Pabrik, Saya Juga Ingin WFH Seperti ASN

3 April 2026
Pilih Hyundai Avega Bekas Dibanding Mobil Jepang Entry-Level Baru Adalah Keputusan Finansial yang Cerdas Mojok.co

Pilih Hyundai Avega Bekas Dibanding Mobil Jepang Entry-Level Baru Adalah Keputusan Finansial Paling Cerdas

7 April 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Kuliah Kebidanan sampai “Berdarah-darah”, Lulus dari World Class University Masih Sulit Cari Kerja dan Diupah Nggak Layak
  • Makin Muak ke Ulah Pesilat: Perkara Tak Disapa Duluan dan Beda Perguruan Langsung Dihajar, Dikasih Fakta Terang Eh Denial
  • Terpaksa Kuliah di Jurusan yang Tak Diinginkan karena Tuntutan Beasiswa, 4 Tahun Penuh Derita tapi Mendapatkan Hikmah Setelah Lulus
  • Deles Indah, Bukti Klaten Punya Harga Diri yang Bisa Kalahkan Jogja dan Solo sebagai Tempat Wisata Populer
  • Orang Jakarta Nyoba Punya Rumah di Desa, Niat Cari Ketenangan Berujung Frustrasi karena Ulah Tetangga
  • Kuliah di Jurusan Paling Dicari di PTN, Setelah Lulus bikin Ortu Kecewa karena Kerja Tak Sesuai Harapan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.