Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

MPKT Adalah Mata Kuliah Paling Nggak Jelas yang Bikin Mahasiswa UI Mengelus Dada

Dinar Maharani Hasnadi oleh Dinar Maharani Hasnadi
3 April 2024
A A
MPKT, Mata Kuliah Paling Nggak Jelas dan Bikin Mahasiswa UI Mengelus Dada

MPKT, Mata Kuliah Paling Nggak Jelas dan Bikin Mahasiswa UI Mengelus Dada (Unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Mata kuliah MPKT layak diberi penghargaan sebagai mata kuliah paling nggak jelas yang membuat banyak mahasiswa UI mengelus dada.

Libur semester kemarin, ketika saya baru beranjak dari semester 1 ke semester 2 di FISIP UI, saya sempat kegirangan karena para senior berkata bahwa semester 2 gabut banget. Alias, nggak ada kesibukan yang benar-benar bikin pusing. Mata kuliah di semester 2 belum susah-susah amat. Organisasi juga seharusnya belum terlalu sibuk karena baru jalan paruh pertama.

Akan tetapi saya salah besar. Justru di semester 2 ini saya dipertemukan dengan salah satu momok terparah umat mahasiswa UI, yaitu MPKT (Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian Terintegrasi).

Sebelumnya, beberapa senior telah memberi “peringatan” pada saya bahwa MPKT adalah mata kuliah nggak jelas di UI. Kata mereka, MPKT itu nggak penting, tetapi karena bobotnya 6 SKS, sebaiknya jangan terlalu disepelekan. Bahkan, ada senior yang bilang kepada saya bahwa mengikuti mata kuliah ini benar-benar hanya dapat hikmahnya.

Namun, “peringatan” para senior sama sekali nggak mampu membuat saya siap dengan “keanehan” MPKT. Sebagai mahasiswa UI, saya punya dendam pribadi sama mata kuliah yang satu ini. Teman-teman saya—bahkan yang berkuliah di fakultas lain—juga sependapat. MPKT adalah mata kuliah paling nggak jelas, fafifu, ngawang, dan ngalor ngidul di UI.

Bingung apa yang dipelajari

Sejujurnya, saya sendiri nggak tahu apa yang dipelajari dalam mata kuliah satu ini. Materi MPKT di UI adalah campuran dari pelajaran PPKn, budi pekerti, filsafat, dan kewirausahaan. Bahkan, ada juga subbab yang melencengnya lebih parah lagi, seperti subbab tentang keanekaragaman hayati. Ini hubungannya apa, coba?

Sejak saya duduk di bangku SMA, mata pelajaran PPKn adalah salah satu pelajaran yang paling nggak saya sukai. PPKn terlalu sering membahas nilai-nilai yang “sesuai dengan Pancasila” dengan pendekatan yang terlalu textbook.

Siswa diwajibkan menghapalkan nilai-nilai karakter sesuai yang tertulis di buku. Padahal seharusnya hal begituan kan langsung diterapkan saja. Pengajarannya seharusnya lebih praktis, bukan teoretis. Singkatnya, PPKn adalah pelajaran yang sangat normatif.

Baca Juga:

Nasib apes mahasiswa tanggung, susah dapat beasiswa karena kebanyakan untuk mahasiswa kurang mampu

Melawan serbuan semut di kamar, drama anak kos yang tampak sepele, tapi cukup bikin puyeng

Nah, mata kuliah MPKT di UI ini sebelas dua belas sama PPKn. MPKT seolah-olah PPKn Jilid 2 yang saya dapatkan di bangku kuliah. Materinya hampir sama. Malahan, bakal ada kuis berbentuk pilihan ganda yang menguji “pemahaman” mahasiswa terhadap isi modul. Mahasiswa disuruh menghafal satu per satu nilai-nilai abstrak yang tertulis di modul MPKT.

Katanya mahasiswa harus berpikir kritis. Tapi, kok dikotak-kotakkan begini?

Modul mata kuliah MPKT nggak jelas

Modul MPKT juga nggak jelas. Bahasanya kadang berbelit-belit. Tiap baca modul MPKT, saya bawaannya pengin emosi. Lagi pula selain panjang, materinya juga membingungkan.

Selain isi materi yang kurang susbtantif, sistem pelaksanaan perkuliahan di MPKT juga nggak jelas. Mahasiswa dibagi ke dalam beberapa kelompok diskusi bernama FG (Focus Group). Pada setiap pertemuan, setiap FG wajib mendiskusikan materi di modul, membuat notula diskusi, dan mengerjakan tugas.

Di kelas saya, sistemnya memang seperti itu. Nah, di kelas-kelas lain, ada yang lebih ribet lagi. Mahasiswa dari berbagai FG disatukan lagi ke dalam beberapa kelompok yang lebih besar. Kelompok ini disebut HG (Home Group).

Setelah berdiskusi di FG-nya masing-masing, setiap mahasiswa akan berkumpul dengan HG-nya, lalu saling bertukar catatan. Mereka kemudian bubar dan bakal balik ke FG-nya lagi. Jadi, notula akhir yang dihasilkan adalah gabungan dari diskusi bersama FG dan HG.

Sistem ini ribet sekali. Untung saja, dosen saya berbaik hati dengan menghapuskan sistem HG. Alhasil di kelas saya, cuma ada FG yang sebenarnya sama saja dengan kelompok biasa. Diskusi pun hanya dilakukan satu kali.

Tugas MPKT di UI

Biasanya, tugas MPKT berbentuk esai kelompok ataupun esai mandiri yang berisi refleksi kelompok atau individu terhadap materi yang sedang dibahas di kelas. Saya memang suka menulis. Tapi masalahnya, kalau disuruh menulis esai sepanjang 1000 kata tentang materi yang saya sebenarnya juga nggak paham lagi ngomongin apa, ya keder juga. Apa lagi seperti tugas ilmiah mata kuliah lain, esai itu harus mengutip referensi eksternal. Kadang saya bingung mau mengutip dari jurnal mana, soalnya materinya memang ngawang banget.

Untuk penilaian tengah semester, kami ditugaskan membuat buklet berisi gabungan semua materi yang telah dipelajari sejauh ini. Buklet ini berbentuk “buku” kecil seperti slides PPT yang boleh diedit sesuka hati. Aduh, ribet banget. Apa lagi saya nggak bisa ngedit.

Jadi mata kuliah wajib

MPKT ini merupakan mata kuliah wajib universitas. Artinya, semua mahasiswa di semua fakultas di UI akan mendapat mata kuliah MPKT. Hal ini, dalam beberapa kasus, bikin ribet.

Seharusnya, semua kelas mata kuliah wajib, termasuk MPKT, sudah ditentukan oleh pihak administrator mahasiswa. Tiap awal semeseter, mahasiswa harus mengecek sendiri daftar kelas wajibnya di sebuah situs khusus oleh administrator. Di situs tersebut, akan tertulis kelas apa, lalu mahasiswa bisa memeriksa sendiri detailnya di SIAK-NG, semacam situs yang berisi sistem informasi akademik mahasiswa (kelas tersebut dilaksanakan hari apa, jam berapa, di gedung apa dan ruangan apa, dosennya siapa, dan sebagainya).

Di SIAK-NG, mahasiswa wajib mendaftar di kelasnya masing-masing sesuai yang sudah ditentukan oleh pihak administrator sebelumnya. Nah, beberapa teman sefakultas saya mengalami kendala saat hendak mendaftar di SIAK-NG. Entah apa alasannya, kuota kelas yang seharusnya mereka masuki sudah penuh. Jadinya, mereka terpaksa mengambil kelas MPKT selain yang sudah ditentukan oleh pihak administrator. Bahkan, ada yang sampai menyebrang ke fakultas lain, mengikuti kelas MPKT bersama anak-anak fakultas lain.

Nggak hanya itu, jadwal kuliah MPKT (dua kali seminggu) juga beragam di UI. Di fakultas saya, misalnya, ada yang jadwalnya Senin dan Rabu, tetapi ada juga yang  jadwalnya Rabu dan Jumat. Ini lumayan menyusahkan kami kalau kami mau bikin jadwal nongkrong. Kadang, ada teman yang nggak bisa ikut karena bentrok dengan jadwal MPKT-nya. Itu belum termasuk yang MPKT-nya di fakultas lain. Pasti jadwalnya beda sendiri lagi.

Kisah-kisah gila berhadapan dengan MPKT

Kisah-kisah “gila” teman-teman di UI mengenai MPKT memang nggak ada habisnya. Teman saya yang lain, misalnya, harus mengambil mata kuliah ini lagi tahun ini. Tahun lalu, dia sudah sempat kuliah di jurusan lain, tetapi tahun ini dia pindah. Tahun lalu, bobot MPKT masih 5 SKS. Karena sekarang bobotnya jadi 6 SKS (entah itu ide siapa), teman saya terpaksa mengulang mata kuliah ini demi kelancaran administrasi.

Salah satu hal lucu di MPKT adalah adanya formulir penilaian antarteman. Tiap dua minggu, kami diwajibkan memberi skor pada teman-teman sekelompok kami tergantung kinerjanya. Ini lumayan seru, soalnya anak-anak yang nggak kerja bisa diberi nilai jelek supaya adil ke semuanya.

Kata mahasiswa UI, kunci mendapat nilai bagus pada mata kuliah MPKT hanya dua: punya kelompok yang bisa diajak kerja sama dan punya dosen yang ngajarnya enak. Kalau kelompok nggak bisa diajak kerja sama, tugas jadi berat. Kalau dosennya nggak enak, juga berat.

Saya cukup beruntung punya dosen MPKT yang baik. Dosen saya ini sendiri yang bilang bahwa MPKT adalah mata kuliah nggak jelas. Bahkan, dosen saya bilang bahwa nggak hanya mahasiswa yang merasa berat, beliau sendiri juga berat menjalankannya.

Dosen saya juga sering mengadakan kelas secara daring atau bahkan meliburkan kelas. Nggak adanya HG di kelas saya merupakan contoh nyata bahwa dosen saya ini menyukai kesederhanaan dan membenci segala hal yang ribet. Dosen ini otomatis menjadi salah satu dosen kesukaan saya pada semester ini.

Akan tetapi, keduanya bersifat untung-untungan. Ada teman saya yang mendapat dosen yang marah-marah mulu, misalnya. Selain itu, latar belakang dosen MPKT di UI ini benar-benar acakadut. Ada yang dari Fakultas Ekonomi, bahkan Fakultas Kedokteran, seolah-olah nggak ada perencanaan atau tim khusus pengajar MPKT. Saya rasa, satu-satunya cara untuk “aman” di MPKT adalah memanjatkan doa sesering mungkin.

Memang menyebalkan

Intinya, MPKT adalah mata kuliah yang nyebelin. Saya dan teman-teman saya setiap hari mengeluh gara-gara MPKT. Andai nggak ada MPKT, saya yakin kehidupan saya di UI sudah makmur dan sejahtera.

Masalahnya, bobot mata kuliah ini 6 SKS. Setara skripsi. Kalau dapat nilai yang kurang memuaskan, dampaknya terasa sekali. Indeks A- berpotensi sekali melukai IP (Indeks Prestasi). Jadi, nggak ada pilihan lain selain menjalani MPKT ini walaupun sambil mengelus dada dan mengingat Tuhan.

Penulis: Dinar Maharani Hasnadi
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Bagi Mahasiswa UI, Sinyal Jelek di Lingkungan Kampus Adalah Makanan Sehari-hari, UKT Elit Sinyal Sulit!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 9 April 2024 oleh

Tags: KampusMahasiswamata kuliahMPKTpilihan redaksiUIuniversitasUniversitas Indonesia
Dinar Maharani Hasnadi

Dinar Maharani Hasnadi

Mahasiswi HI. Penulis lepas. Suka makan sushi pakai ikan asin.

ArtikelTerkait

Mirisnya Menjadi Warga Kabupaten Pemalang

Mirisnya Menjadi Warga Kabupaten Pemalang

15 Februari 2023
4 Series yang Punya Konsep Sharing Universe dan Multiverse terminal mojok.co

4 Series yang Punya Konsep Sharing Universe dan Multiverse

31 Desember 2021
3 Hal dari Wawancara Aldi Taher yang Bikin Saya Yakin Dia Layak Menjadi Caleg

Wawancara Aldi Taher Bikin Saya Yakin Dia Layak Menjadi Caleg

27 Mei 2023
Kata Siapa Mahasiswa UNESA Nggak Mau Naik Transportasi Umum? Bukan Nggak Mau, tapi Ribet!

Kata Siapa Mahasiswa UNESA Nggak Mau Naik Transportasi Umum? Bukan Nggak Mau, tapi Ribet!

16 Oktober 2023
Suzuki Karimun Wagon R Boleh Mati, tapi Ia Mati Terhormat

Suzuki Karimun Wagon R Boleh Mati, tapi Ia Mati Terhormat

1 Desember 2025
Membayangkan Upin Ipin dan Anak-anak Tadika Mesra Ikut Kampus Mengajar Mojok.co

Membayangkan Upin Ipin dan Anak-anak Tadika Mesra Ikut Kampus Mengajar

10 Juni 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Seni bertahan hidup di desa, wajib ikut mengantar jenazah ke kuburan dan takziah kalau nggak mau jadi musuh bersama Mojok.co

Seni bertahan hidup di desa, wajib ikut mengantar jenazah ke kuburan dan takziah kalau nggak mau jadi musuh bersama

6 Agustus 2026
Bridesmaid dan groomsmen nggak guna di nikahan desa, tetap saja sinoman dan ibu-ibu dapur yang kerja Mojok.co

Bridesmaid dan groomsmen nggak guna di hajatan desa, tetap saja muda-mudi sinoman dan ibu-ibu dapur yang kerja

5 Agustus 2026
Ide bisnis buat pebisnis Semarang kalau punya punya 100 miliar (Unsplash)

Ide bisnis yang muncul di kepala saya kalau punya uang 100 miliar adalah bikin rumah kesejahteraan khusus anjing di Semarang

2 Agustus 2026
Nonton timnas Indonesia di Youtube Reza Arap memang aneh (Wikimedia Commons)

Nonton timnas Indonesia di Youtube Reza Arap memang aneh, komentator nggak jelas, tapi jangan menghujat dulu

1 Agustus 2026
Andai duit bukan masalah, saya mau merintis usaha katering Mojok

Andai duit bukan masalah, saya mau merintis usaha katering rumahan

2 Agustus 2026
Pengalaman cabut gigi gratis dengan dokter koas: memang nggak keluar biaya, tapi dibayar dengan cuti dan jadwal yang tak tentu

Pengalaman cabut gigi gratis oleh dokter koas: memang nggak keluar biaya, tapi dibayar dengan cuti dan jadwal yang tak tentu

4 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.