Informasi
ADVERTISEMENT

Motor Yamaha Vega ZR, motor murah yang sudah menemani saya membelah Bumi selama 15 tahun

Yamaha Vega Force: Takhta Tertinggi Motor Entry Level yang Tak Boleh Dilewatkan motor yamaha vega zr

Ketika saya lulus SNMPTN 15 tahun silam, orang tua saya memberi hadiah berupa sepeda motor Yamaha Vega ZR 110. Sebetulnya, orang tua saya berniat menghadiahi Jupiter Z. Namun karena Vega ZR lebih murah, pilihan akhirnya jatuh ke motor ini.

Mau Jupiter atau Vega, peduli setan. Saya sangat bangga punya motor baru. Vega ZR saya tidak minder bersanding dengan mobil-mobil milik teman yang terparkir di kampus. Toh yang paling penting bisa mengantar saya kuliah. Bukankah fungsi kendaraan adalah mengantar kita ke tujuan yang diinginkan?

Lima belas tahun bukanlah waktu yang singkat, banyak suka dan duka telah kami lewati bersama. Motor murah ini ternyata memberi banyak cerita yang bikin saya kadang bahagia, tapi nggak jarang juga bikin garuk-garuk kepala.

Tidak ada bocil yang mau membonceng motor Yamaha Vega saya

Meski motor Yamaha Vega ZR jelas bukan motor yang jelek, tapi kalau dibilang keren, nah, ini bakal menimbulkan perdebatan. Tapi kalau ada yang misalnya bilang nggak keren, saya sih menerima saja, sebab, saya sudah membuktikannya. Setidaknya, bocil saja tak mau naik motor saya.

Kejadian ini terjadi di tahun 2014 saat saya KKN di Pandak, Bantul. Seperti KKN pada umumnya, mahasiswa juga membantu mengajar TPA di masjid. Karena jarak pondokan ke masjid lumayan jauh, kami menuju ke lokasi menggunakan sepeda motor masing-masing. Setelah TPA selesai, banyak bocil yang ingin nebeng minta diantarkan pulang.

Teman saya yang memakai motor laki langsung dikerubungi anak-anak. Teman yang membawa Mio Soul juga tidak kalah laris. Ironisnya, tidak ada satupun bocil yang mau membonceng Vega ZR saya.

Sebegitu hinakah motor saya, Dek?

Motor Yamaha Vega, motor buat ngarit

Tekanan mental gara-gara motor Yamaha Vega ZR tidak berhenti saat KKN. Setelah bekerja di pabrik, saya kembali mendapat ujian. Parkiran pabrik sudah seperti show room sepeda motor. Ada motor trail, matik bongsor, vespa terbaru hingga berbagai jenis motor mahal lainnya.

Di tengah kemewahan tersebut, nyempil Vega ZR produksi tahun 2011 milik saya. Tentu saja motor ini menjadi bahan olok-olokan. Ada yang bilang Vega ZR cocok untuk petani ngarit. Ada juga yang menyebutnya sebagai motor operasionalnya koperasi. Saya hanya bisa tersenyum, yang penting cicilan Vega ZR saya sudah lunas.

Vesmet mber hasil kamu nendang pintu rumah itu udah lunas belum BTW?

Dikira CEO menyamar

Alhamdulillah karier saya di pabrik berjalan cukup baik. Saya mendapatkan promosi jabatan. Tapi, bukannya dapat apresiasi, saya malah diduga pura-pura miskin.

Teman-teman menganggap saya sengaja menggunakan motor Yamaha Vega ZR untuk menyamar agar dianggap sebagai orang yang tidak punya. Padahal saya memang tidak sedang menyamar. Memang itu motor saya. Dan saya memang nggak kaya.

Ngapain saya sok-sokan miskin? Kalau kaya mah, ngelirik Vega juga mikir dua kali.

Malu saat service di bengkel resmi

Walapun sudah tergolong motor jadul, saya masih rutin service di bengkel resmi Yamaha. Biasanya teknisi memanggil nama pemilik beserta jenis motornya: “Atas nama Pak Imam, Yamaha NMAX.” “Atas nama Pak Dede, Yamaha Vixion.” Lalu tibalah diliran saya, “Atas nama Pak Arief, Yamaha Vega ZR,” sontak saya merasa menjadi pusat perhatian pengunjung bengkel.

Selain itu, motor Yamaha Vega ZR saya terkadang susah untuk distarter, apalagi setelah ditinggal pulang kampung atau pergi ke luar kota. Kata montir, Vega ZR sebaiknya dipanasi setiap hari agar mudah dinyalakan.

Dari tadi saya cerita dukanya, kini, saya cerita sukanya. Dikit aja, adanya cuma segitu je.

Lalu apa sukanya? Ada satu: irit bensin. Satu liter bensin bisa digunakan untuk menempuh sekitar 35 km. Bagi saya, ini sudah cukup untuk membuat semua ejekan terhadap motor Yamaha Vega ZR sedikit terlupakan. Jangan bilang cuma 35 KM, ini motor teknologi lawas. Segitu udah hebat. Jangan dibandingin juga sama Supra. Itu motor kena bau bensin aja udah hidup sendiri.

Itulah suka dan duka saya selama 15 tahun mengendarai motor Yamaha Vega ZR. Motor ini bukanlah motor yang membuat saya terlihat keren dan bahkan lebih sering dijadikan bahan lelucon. Namun, selama 15 tahun motor inilah yang setia mengantar saya kuliah hingga bekerja.

Saya berharap Vega ZR masih mampu menemani saya ke fase berikutnya. Kalaupun nanti Vega ZR pensiun, setidaknya dia berhasil membuktikan motor murah bisa menjadi bagian perjalanan hidup.

Penulis: Arief Nur Hidayat
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Yamaha Vega ZR, Motor Bebek Paling Merepotkan: Tenaga Loyo, Susah Nyala, Penyakitnya Banyak!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 21 September 2026 oleh .

Arief Nur Hidayat

Seorang buruh pabrik yang menemukan kemerdekaannya di balik mata pena. Di sela deru mesin dan rutinitas yang presisi, ia merawat jiwanya dengan kecanduan menulis, sembari sesekali merayakan kegembiraan kecil melalui barisan jersey

Exit mobile version