Menyetir, entah mobil manual atau matic, kuncinya ada di satu: mental. Orang kira itu semua perkara timing transmisi atau teknis yang lain, tapi kondisi pikiran juga punya pengaruh besar. Inilah yang saya rasakan saat belajar mengemudi.
Bisa melaju lancar di jalan desa yang jarang orang lewat sering kali bikin pengemudi mobil manual pemula merasa sudah paling pro setelah beberapa kali berhasil oper gigi tanpa bikin mesin nyendat-nyendat. Kita mendadak merasa sudah siap menaklukkan dunia, atau minimal merasa sudah sekelas supir senior yang siap mengarungi jalan raya.
Maklum, waktu latihan di jalan desa ritmenya santai banget. Musuh paling berat paling hanya orang-orang yang mengayuh sepeda ontel dari arah berlawanan. Kalaupun mesin mobil sempat mati di tengah jalan, paling hanya disambut tatapan heran orang yang lewat. Tak ada drama klakson bersautan atau kepulan asap knalpot hitam yang membuat makin panik. Rasa-rasanya, belajar menyetir mobil itu gampang banget, seperti naik bombom car di pasar malam.
Tapi realitasnya, kejadian di lapangan tidak seindah bayangan. Jalan provinsi, atau jalan raya besar lainnya, bikin kita pengemudi mobil manual pemula tiba-tiba kehilangan semua hal yang dipelajari.
Kepercayaan diri hilang begitu saja
Jangankan jadi pembalap, begitu mobil keluar dari jalan desa dan menginjak jalur utama alias jalan provinsi, rasa percaya diri yang memuncak bisa seketika hilang tanpa sisa. Jalan provinsi bagi pemula mobil manual bukan hanya jalan raya tempat lalu lalang kendaraan. Jalan provinsi adalah arena pertarungan mental dan uji ketahanan fisik yang nyata.
Di jalan raya, kita tidak hanya fokus pada hal-hal teknis seperti memperkirakan titik lepas kopling, mengontrol pedal gas, atau memindahkan tuas transmisi dengan benar. Kita juga dipaksa bertarung melawan musuh-musuh sesungguhnya di jalanan. Seperti truk berukuran besar, bus antarkota yang cara bawanya seperti dikejar setan, dan rombongan pemotor yang aksi nyelonongnya tidak pernah bisa diprediksi oleh akal sehat.
Siksaan psikologis paling tingkat dewa biasanya dimulai ketika kita harus berhadapan dengan lampu merah di jalan provinsi. Baru saja mau bernapas lega karena berhasil menghentikan mobil tepat di belakang garis stop, mata tiba-tiba menangkap pemandangan mengerikan dari kaca spion tengah, sebuah truk besar berhenti tepat di belakang mobil.
Belum selesai rasa panik itu, di sebelah kanan dan kiri ada rombongan pengendara motor yang berhenti mepet banget sampai jaraknya hanya seukuran helai rambut dari bodi mobil.
Detik itu juga rasa deg-degan dan panik muncul bukan lagi level “grogi”, tapi sudah level “pasrah pada Yang Kuasa”. Kondisi jantung yang berdebar kencang, otak bagi pengemudi pemula mendadak freeze. Kaki kiri yang menahan kopling mobil manual mulai gemetar hebat karena menahan beban otot dan beban mental secara bersamaan.
Bahkan skenario terburuk berputar cepat di kepala. Gimana kalau pas lampu hijau mesin mati? Gimana kalau pas mau jalan mobilnya malah mundur sedikit terus nyenggol motor orang? Terus gimana kalau truk di belakang kurang sabar dan membunyikan klakson?
Mobil manual memang challenging
Begitu lampu berubah hijau, ujian refleks dimulai. Dengan sisa-sisa keberanian dan penuh tekanan mental, kaki kiri berusaha melepas kopling pelan-pelan sambil kaki kanan menginjak pedal gas.
Tapi karena terlalu deg-degan, pada akhirnya yang terjadi sering kali hanya dua hal. Pertama, kalau tidak mesinnya yang mati di tengah jalan sambil disambut sorakan klakson kendaraan serombongan, ya mesinnya yang meraung keras karena ketakutan tapi mobil cuma maju dua senti dan itu rasa malunya benar-benar tidak ada obat.
Pada akhirnya, kita sadar bahwa lulus kursus atau bisa mengemudi di jalan sepi itu belum ada apa-apanya. Kelulusan sejati bagi pengemudi mobil manual pemula adalah saat kita berhasil melewati lampu merah di jalan provinsi dengan diapit bus dan pemotor tanpa membuat mesin mati, dan yang paling penting tanpa membuat jantung copot di tempat.
Penulis: Amalia Nur Hidayati
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Mobil Manual vs Mobil Matic, Mana yang Lebih Bagus?
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.