Rasa Syukur Tinggal di Kos Murah Berubah Jadi Penyesalan karena Tabiat Buruk Ibu Kos yang Suka Ngutang

Kos Murah yang Diidamkan Berujung Penyesalan karena Tabiat Buruk Ibu Kos yang Suka Ngutang Mojok.co

Kos Murah yang Diidamkan Berujung Penyesalan karena Tabiat Buruk Ibu Kos yang Suka Ngutang (unsplash.com)

Saat pertama kali merantau ke Jogja dahulu saya merasa beruntung dan bersyukur. Bagaimana tidak, saya bisa langsung dapat kos yang tampak nyaman dengan harga sangat terjangkau. 

Bayangkan saja, kalian ngekos di daerah Tamantirto Bantul dengan harga Rp3 juta setahun. Sebulan Rp250.000 saja.  Dengan harga segitu kalian sudah kasur dan meja kecil pula. Sebagai maba yang isi rekeningnya lebih tipis daripada modul ospek, itu jelas seperti menemukan harta karun

Pada saat itu, saya survei bersama kakak. Kesan pertama kami sama, kos murah, nyaman, dengan ibu kos yang ramah dan rela direpoti. Beliau membantu saya mencari lemari. Bantuan tersebut sungguh menggerakkan hati yang waktu itu masih “buta” terhadap daerah Jogja. 

Ternyata itu hanya di permukaan. Kesan pertama yang penuh rasa syukur dan beruntung itu berubah jadi penyesalan di hari-hari berikutnya. 

Ibu kos suka ngutang ke penghuni kos

Beberapa minggu kemudian barulah terlihat wajah ibu kos yang sesungguhnya. Pada suatu hari ibu kos mengirimkan chat. Isinya bukan teguran atau informasi kos, melainkan chat meminjam uang. Pada waktu itu, ibu kos meminjam uang Rp150.000. Alasannya macam-macam, mulai dari beli buku sampai kebutuhan mendesak lainnya.

Jujur saja, chat itu menaruh saya pada posisi sulit. Sebab, saya tumbuh di lingkungan yang menghormati orang lebih tua. Saya bingung menolak permintaan tersebut. Namun, pada akhirnya, saya beranikan diri untuk menolak secara halus. 

Untungnya saat itu suasana masih aman. Tidak ada perubahan sikap. Saya pikir mungkin memang sedang benar-benar butuh.

Nominal uang yang dipinjam semakin besar

Setelah penolakan pertama itu, ternyata ibu kos tidak berhenti meminjam uang. Nominal yang dipinjam semakin besar lagi. Masuk bulan kedua, chat serupa datang dengan nominal Rp200.000-Rp300.000. Alasannya pun beragam, entah pulang kampung maupun kebutuhan keluarga. 

Saya mulai merasa tidak nyaman. Masa iya ibu kos malah rutin pinjam uang ke anak kos? Akhirnya saya menolak lagi. Eh, chat serupa masih datang lagi dan lagi di bulan-bulan berikutnya. 

Polanya hampir sama, ibu kos pinjam untuk kebutuhan sekolah anak, uang buku anak, kegiatan sekolah anak, sampai SPP anak. Saya yang awalnya merasa tinggal di kos murah dan nyaman, lama-lama jadi ketar-ketir tiap lihat notifikasi WhatsApp masuk.

Lucunya, selama kos di situ, saya lebih takut chat pinjaman uang daripada chat ditagih uang kos. Sampai akhirnya saya memberanikan diri ngobrol dengan beberapa penghuni lama. Kupikir mungkin cuma saya yang mengalami. Ternyata saya terlalu polos.

Salah satu abang kos yang lebih lama tinggal di situ, sekitar lima atau enam tahun, akhirnya mengaku pernah dipinjami uang hingga jutaan rupiah oleh ibu kos. Nominalnya sampai tiga juta dan belum kembali penuh. Dan, di tengah penghuni kos lama, ibu kos memang sudah terkenal suka ngutang ke penghuni kos. 

Beberapa dari mereka tetap meminjamkan uang ke ibu kos. Bukan karena percaya, tapi karena tidak enak. Mereka merasa tidak enak karena kosnya memang murah, aturan tidak ketat, dan tidak ribet. “Jadi kadang kita bantu aja,” begitu kata mereka. 

Relasi jadi nggak sehat

Sejauh pengamatan saya pada waktu itu, bisa disimpulkan relasi antara penghuni dan ibu kos tidak sehat gara-gara utang. Penghuni kos merasa “berutang kebaikan karena sudah diberi harga murah dan kebebasan. Sementara, ibu kos seperti memanfaatkan rasa sungkan itu menjadi celah untuk terus meminjam uang.

Saya mulai mengerti kenapa beberapa penghuni lama terlihat pasrah kalau cerita soal ibu kos. Mereka bukan tidak sadar sedang dimanfaatkan. Mereka cuma sudah terlalu sungkan untuk benar-benar menolak. Dan, sebagai maba yang baru merasakan hidup mandiri, saya jelas masuk target empuk.

Puncaknya, suatu waktu saya akhirnya luluh akan permintaan pinjaman ibu kos. Saya meminjamkan sekitar Rp500.000. Nominal yang buat mahasiswa tentu lumayan besar. Waktu itu saya masih berpikir positif, “Ah, nanti juga dibalikin.” Ternyata, hal itu tidak pernah terjadi. 

Akhirnya kakak saya menyarankan pindah kos. Katanya lingkungan seperti itu tidak sehat buat mahasiswa yang masih belajar hidup mandiri. Dan benar juga. Kadang masalah hidup anak kos bukan cuma kamar sempit, kamar mandi antre, atau mie instan tiap akhir bulan. Kadang yang lebih melelahkan justru relasi sosial yang aneh dan bikin serba salah.

Kos saya pada waktu itu mungkin cuma Rp3 juta setahun. Murah sekal, tapi ternyata ada cicilan emosional yang ditagih hampir tiap bulan.

Penulis: Achsani Taqwim Zidni
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA Kos LV Jogja Menjamur: Akhlak Nanti Dulu, Kenyamanan dan Cuan Nomor Satu

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version