Kabar tentang daycare di Jogja yang viral di media sosial, membuat dada saya bergemuruh. Terlebih, baca komentarnya.
Membaca kasus daycare problematik di Jogja, mengingatkan saya akan pengalaman menitipkan anak di daycare. Sejujurnya, itu jadi keputusan paling berat yang pernah saya ambil.
Setiap pagi, ada rasa sesak saat harus melepaskan genggaman tangan mungil anak di depan pintu gerbang. Namun, kala itu, daycare memang menjadi opsi terbaik. Bukan karena ingin lepas tangan, tapi saya justru melakukannya agar semua aspek kehidupan, tetap berjalan di jalurnya. Silakan sebut itu pembelaan. Saya tidak peduli.
Sebelum memasukkan anak kedua saya di daycare, saya pernah minta tolong orang tua untuk menjaga anak di rumah. Namun, ritual itu tak bertahan lama. Seingat saya, hanya 4 bulan saja. Saya merasa iba melihat orang tua saya setiap pagi harus menembus dinginnya udara pagi sejauh 14 km, lalu kembali ke rumah mereka saat sore tiba. Orang tua saya tidak mau menginap. Kata mereka, bolak-balik saja tak apa.
Lama-lama saya jadi tak tega. Dulu, di masa kecil saya sudah sering merepotkan mereka, masa ketika sudah jadi ibu pun, masih harus merepotkan mereka lagi? Akhirnya, saya putuskan untuk menyewa babysitter. Barulah setelah umur 3 tahun, saya dan suami mantap memasukkan anak ke daycare.
Standar “terbaik” itu subjektif
Semua orang tua yang memilih untuk memasukkan anaknya ke daycare pasti punya alasan tersendiri. Ada yang merasa lebih tenang karena daycare lebih profesional, punya kurikulum dan tidak perlu merasa waswas akan ketergantungan pada satu orang saja. Tidak ada lagi drama babysitter yang tiba-tiba izin atau sakit, yang akhirnya membuat orangtua harus kelimpungan mencari pengganti. Dengan kata lain, daycare adalah opsi terbaik bagi sebagian orang tua.
Memang, definisi terbaik itu sangat subjektif. Saya yakin ketika saya menulis “Daycare adalah opsi terbaik bagi sebagian orang tua”, ada sebagian (bahkan mungkin banyak) dari kalian yang gatel ingin menyanggah. Yah, nggak jauh beda dengan kolom komentar soal daycare di Jogja yang dibanjiri dengan komentar-komentar, seperti:
“Kok ada yang orang tua yang tega nitipin anaknya di daycare?”
“Kalau aku sih mending resign demi anak.”
“Daripada daycare mending bayar babysitter aja.”
“Makanya kalau ekonomi nggak mampu, nggak usah bikin anak.”
Hmm. Agaknya, mereka yang berkomentar pedas tersebut lupa satu hal. Mereka lupa bahwa kita tidak bisa menggunakan ukuran sepatu kita untuk kaki orang lain.
Bentuk cinta yang berbeda
Bagi satu ibu, resign dan mendampingi anak 24 jam adalah bentuk cinta tertinggi. Namun, bagi ibu lain, menjaga kemandirian finansial demi pendidikan anak di masa depan adalah bentuk tanggung jawab yang tak kalah mulia. Tidak ada yang lebih benar atau lebih salah. Semua hanyalah tentang kondisi yang berbeda-beda, maka bentuk cintanya pun berbeda.
Saya punya kawan yang ketiga anaknya tumbuh besar di daycare. Apakah dia ibu yang buruk? Sama sekali tidak. Dia adalah salah satu ibu paling hebat yang saya kenal. Kedekatannya dengan anak-anak justru sangat erat. Dia sadar bahwa waktunya terbatas, maka dia membayar “utang” waktu itu dengan kualitas yang luar biasa. Saat di rumah, dia memeluk, mendengarkan cerita sekolah, hingga bermain dengan anak-anaknya.
Kalau kalian berpikir, “Ah, itu kan tergantung ibunya. Banyak juga ibu bekerja yang sampai rumah cuma sisa capeknya doang! Anak-anak akhirnya nggak keurus.”
Iya, kalian tidak salah. Adalah benar bahwa semua tergantung individu. Maka, tidak salah juga jika analogi ‘tergantung’ itu juga berlaku untuk hal lain. Untuk ibu yang memilih resign demi membersamai anak, misalnya. Sepintas, hal itu terdengar seperti sebuah pengorbanan yang mulia dan ideal. Namun, faktanya, setelah dilakoni, apa iya se-ideal itu? Banyak pula yang kemudian hanya raga saja yang hadir 24 jam, tapi aktivitasnya? Belum tentu sepenuhnya untuk anak. Tidak sedikit yang justru lebih sibuk di dunia maya, asyik scrolling media sosial atau berburu diskon online shop, sementara si kecil dibiarkan ‘diasuh’ oleh tontonan YouTube agar tidak mengganggu ibunya.
Kembali soal pilihan memasukkan anak ke daycare…
Saya haqqul yaqin setiap orang tua yang menitipkan anaknya di daycare sudah melakukan survei berkali-kali, mengecek testimoni, hingga memantau lewat laporan harian. Jika pada akhirnya terjadi hal yang di luar kendali, seperti yang terjadi di daycare yang ada di Jogja, itu adalah musibah dan kejahatan oknum, bukan kesalahan pilihan orang tuanya. Artinya, menyalahkan orang tua yang anaknya menjadi korban di daycare adalah bentuk victim blaming yang sangat jahat.
Jadi, tolong, berhentilah mendiskreditkan ibu yang memilih daycare. Berhenti melontarkan kalimat “Kalau saya sih mending…” Mending empatinya diasah lagi dan komentarnya dijaga.
Penulis: Dyan Arfiana Ayu Puspita
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Sebelum Menitipkan Anak, Pahami 3 Hal tentang Daycare Ini Terlebih Dahulu.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
