Menulis Nama Pacar di Lembar Persembahan Skripsi Adalah Blunder Abadi dan (Pasti) Jadi Bencana di Masa Depan

4 Ulah Menyebalkan Dosen Penguji Skripsi. Tidak Killer, tapi Bikin Mahasiswanya Repot Mojok.co

4 Ulah Menyebalkan Dosen Penguji Skripsi. Tidak Killer, tapi Bikin Mahasiswanya Repot (unsplash.com)

Mahasiswa akhir perlu paham ini: skripsi itu abadi, sedangkan hubungan cinta masa kuliah kebanyakan berakhir selepas tali toga dipindahkan dari kiri ke kanan.

Di antara sekian banyak keputusan impulsif yang diambil mahasiswa semester tua seperti nekat maju sidang dengan revisi seadanya atau mengira kopi hitam bisa menggantikan tidur tiga hari, mencantumkan nama pacar di lembar persembahan skripsi adalah kasta tertinggi dari sebuah blunder akademik.

Tenang, ini bukan cerita tentang saya. Insting bertahan hidup saya masih berfungsi dengan baik waktu kuliah dulu. Ini adalah kisah dari lembar-lembar sejarah kawan-kawan seperjuangan saya.

Mereka yang dulunya maju sidang dengan dada membusung penuh cinta, namun sekarang kalau mendengar lembar persembahan skripsi mendadak hilang ingatan.

Ketika lembar persembahan berubah menjadi prasasti patah hati

Ayo kita kilas balik ke masa-masa kuliah. Saya punya teman, sebut saja namanya Rozi. Waktu menyusun bab akhir, dunia Rozi hanya berputar di sekitar skripsi dan pacarnya saat itu, sebut saja Anggrek.

Dengan penuh keyakinan, Rozi menulis di halaman persembahan,”Untuk Anggrek, terima kasih atas waktu dan semangatnya, semoga skripsi ini berakhir dengan nama kita tercantum di akta nikah.” Saya yang membacanya sungguh geli-geli merinding, apalagi bapak ibu dosen.

Masalahnya, survei membuktikan bahwa mayoritas hubungan percintaan di bangku kuliah kandas tidak lama setelah mereka memindahkan kuncir toga. Benar saja, tiga bulan setelah wisuda, mereka putus.

Sekarang, Mawar sudah bahagia menikah dengan pria lain. Sementara skripsi Rozi masih tersimpan rapi di perpustakaan kampus dan diunggah ke internet secara permanen. Kini, lembar persembahan itu resmi berubah fungsi menjadi prasasti patah hati; siapa saja, kapan saja, bahkan anak cucu Rozi kelak bisa mengaksesnya.

BACA JUGA: Alasan Saya Memilih Tugas Akhir Skripsi meski Pilihan Lain Terlihat Lebih “Waras”

Ujian hati menjelaskan masa lalu kepada pasangan baru

Dampak buruk dari kekonyolan ini baru terasa ketika kawan-kawan saya ini mulai membuka lembaran baru dengan orang lain. Bayangkan situasinya, sudah move on, sudah punya calon istri atau suami yang baru, dan hubungan sedang hangat-hangatnya.

Suatu hari, entah karena iseng atau ingin pamer pencapaian masa lalu, sang calon pasangan membuka file digital skripsi pasangannya.

“Loh, Mas, ini Anggrek tersayang siapa, ya? Kok puitis banget sampai dibilang belahan jiwa?”

Seketika, hawa ruangan berubah sedingin kutub utara. Menjelaskan siapa sosok di lembar persembahan itu kepada pasangan baru adalah ujian yang jauh lebih horor daripada tanya jawab saat sidang skripsi di hadapan dosen penguji paling killer sekalipun. Salah menjawab sedikit, taruhannya adalah kedamaian rumah tangga di masa depan.

Salah kaprah melihat prioritas pengorbanan dalam skripsi

Kalau dipikir-pikir pakai logika sehat pasca kuliah, menyandingkan nama pacar yang baru menjalin hubungan beberapa bulan dengan orang tua adalah bentuk salah kaprah yang hakiki. Saya sering menggelengkan kepala melihat teman yang porsi ucapan terima kasih untuk pacarnya sampai satu paragraf penuh, sementara untuk orang tuanya cuma satu baris datar.

Padahal, yang membayar UKT tiap semester adalah orang tua. Yang menemani begadang, membelikan mie instan, atau meminjamkan tethering internet sering kali adalah teman kosan.

Kontribusi pacar paling paling hanya ngasih semangat di WhatsApp. Sungguh tidak adil rasanya mengabadikan nama seseorang yang belum tentu menemani masa depan di sebuah dokumen resmi yang menjadi bukti perjuangan darah dan air mata kuliah.

Jadi, untuk adik-adik mahasiswa, percayalah pada testimoni teman-teman saya. Simpan romantisasi itu di media sosial saja, jangan di lembar persembahan skripsi, kalau nggak mau malu seumur hidup.

Penulis: Dodik Suprayogi
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Hal-hal yang Perlu Kalian Lakukan agar Skripsi Kalian Lancar dan Tak Jadi Donatur Abadi Kampus

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version