Menjadi perawat di Indonesia itu bukan sekadar profesi, tapi sebuah jalur asketik menuju kesabaran tingkat dewa. Bayangkan, kamu harus tetap tersenyum di depan pasien dengan berbagai karakter, sementara di saku celana jagamu, saldo ATM tinggal digit yang menyedihkan. Sebuah perpaduan antara pengabdian suci dan nasib yang tragis.
Banyak orang mengira menjadi perawat adalah jalan ninja menuju kemapanan karena “pasti kerja”. Ya, kerjanya memang pasti, pastinya sampai tipes dan kena saraf kejepit. Di negeri ini, perawat sering kali dianggap sebagai manusia setengah robot yang tidak punya rasa lelah, tidak boleh mengeluh, dan yang paling ajaib dianggap cukup makan hanya dengan asupan kata “terima kasih” dan “pahala”.
Malaikat yang lupa digaji layak
Di bangsal rumah sakit, perawat adalah garda terdepan, tengah, sekaligus belakang. Dokter mungkin datang sebentar untuk visit, memberikan instruksi dengan tulisan lalu pergi. Tapi perawatlah yang menemani setiap tarikan napas pasien selama 24 jam.
Kami adalah pendengar curhat yang baik, ahli ganti sprei profesional, tukang sedot lendir, hingga tameng dari amukan keluarga pasien yang emosi karena birokrasi BPJS yang njelimet. Belum lagi kalau ada pasien yang merasa rumah sakit adalah hotel bintang lima; minta minum segera, minta AC dikecilkan, sampai minta ditemani ngobrol saat kita sendiri belum sempat duduk sejak operan shift tadi pagi.
Namun, mari kita bicara jujur soal angka. Sudah menjadi rahasia umum bahwa gaji perawat, terutama yang masih berstatus honorer di puskesmas atau perawat magang di rumah sakit swasta yang sering kali lebih rendah daripada biaya servis motor bulanan. Ada yang dibayar Rp300 ribu sampai Rp500 ribu sebulan dengan dalih “cari pengalaman”. Pengalaman apa yang mau dicari kalau untuk beli vitamin agar badan tidak ambruk saja tidak cukup?
Kursus sabar yang kurikulumnya berantakan
Sabar itu ada batasnya, kecuali kalau kamu perawat. Kami diajarkan untuk memiliki therapeutic communication. Artinya, seberapa pun kasarnya pasien atau keluarga pasien yang merasa dirinya adalah raja karena sudah bayar iuran kelas satu, kami harus tetap menjawab dengan nada yang teduh seolah sedang ikut audisi pengisi suara aplikasi meditasi.
Belum lagi urusan administrasi yang luar biasa ajaib. Di Indonesia, perawat tidak hanya merawat orang sakit, tapi juga merawat tumpukan kertas laporan yang tebalnya mengalahkan skripsi mahasiswa abadi. Kita dituntut untuk teliti secara medis dengan menghitung tetesan infus dengan akurasi NASA, menghafal dosis obat yang salah sedikit bisa berakibat fatal, sekaligus lincah secara birokrasi.
Kalau ada salah tulis sedikit di laporan, urusannya bisa panjang sampai ke komite medis. Tapi kalau gaji yang salah (maksudnya kurang atau telat masuk), kita diminta untuk “ikhlas” dan menganggapnya sebagai tabungan di akhirat. Lha, terus cicilan di dunia ini siapa yang mau bayar? Malaikat maut?
Perawat: antara panggilan jiwa dan panggilan penagih utang
Katanya, perawat adalah profesi mulia. Memang benar. Ada kepuasan batin yang tidak bisa dibeli dengan uang saat melihat pasien yang tadinya datang dalam kondisi kritis, bisa pulang dengan wajah segar dan memeluk keluarganya kembali. Itu adalah puncak spiritualitas kami. Detik itu, semua rasa lelah seolah menguap.
Namun, mari kita realistis: idealisme tidak bisa dipakai untuk membayar tagihan listrik atau beli susu anak. Memaksa perawat untuk terus-menerus mengandalkan “panggilan jiwa” tanpa memberikan kesejahteraan yang layak adalah bentuk eksploitasi yang dibalut narasi suci. Kami juga manusia yang butuh makan enak sesekali, butuh liburan agar tidak burnout, dan butuh dihargai secara profesional sebagaimana profesi kerah putih lainnya.
Ironisnya, saat pandemi atau krisis kesehatan melanda, kami dipuja-puji sebagai pahlawan. Poster-poster “Terima Kasih Nakes” bertebaran di mana-mana. Tapi begitu badai berlalu, insentif dipangkas, janji pengangkatan jadi ASN sekadar omon-omon. Kami kembali menjadi “buruh kesehatan” yang suaranya sayup-sayup kalah telak oleh riuh rendah politik di TV.
Siapa yang merawat kami?
Menjadi perawat di Indonesia memang mengajarkan kita banyak hal tentang arti kehidupan, kematian, dan penderitaan. Namun, satu hal yang paling kami pelajari dengan susah payah adalah cara mengatur napas agar tidak mengumpat saat melihat slip gaji yang jumlahnya jauh lebih kecil dari dedikasi yang kami berikan sepanjang bulan.
Pada akhirnya, kami memang perawat. Kami merawat orang lain dengan segenap hati, tapi siapa yang sebenarnya merawat kesejahteraan kami? Jangan-jangan, pemerintah dan pemilik modal rumah sakit menganggap kami ini memang benar-benar makhluk langit, yang tidak butuh uang karena makannya adalah cahaya dan minumnya adalah air embun dari tanaman hias di lobi rumah sakit.
Kalau begini terus, jangan salahkan kalau perawat-perawat terbaik kita lebih memilih terbang ke Jerman atau Jepang. Di sana, sabar kami dihargai dengan angka yang masuk akal, bukan cuma dengan tepuk tangan dan ucapan “semangat ya” yang hambar itu.
Penulis: Syahru Banu Salma Nadira
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Perawat, “Pahlawan Kemanusiaan” yang Tak Dimanusiakan: Beban Kerja Selangit, Gaji Sulit
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
