Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Menghindari Matematika, Alasan Terkonyol yang Pernah Aku Ucapkan Saat Memilih Jurusan KPI

Dini Anggraini oleh Dini Anggraini
6 November 2025
A A
Menghindari Matematika, Alasan Terkonyol yang Pernah Aku Ucapkan Saat Memilih Jurusan KPI

Menghindari Matematika, Alasan Terkonyol yang Pernah Aku Ucapkan Saat Memilih Jurusan KPI

Share on FacebookShare on Twitter

Jurusan KPI jelas bukan jurusan yang bisa menyelamatkanmu dari matematika. Jurusan ini justru merangkul matematika dengan mesra

Di Indonesia, memilih jurusan kuliah sering kali lebih mirip drama sinetron daripada keputusan akademis. Ada yang milih karena ikut-ikutan teman, ada yang katanya karena “output-nya bagus”, ada juga yang karena tekanan keluarga, gengsi sosial, atau cuma iseng: “Ah, jalanin aja dulu, paling stres dikit” atau “jalani aja dulu, kalau ga cocok, paling pindah”. Tapi dari sekian banyak alasan absurd, yang paling sering bikin tepok jidat adalah ini:

“Aku ambil KPI (Komunikasi dan Penyiaran Islam) karena nggak ada matematikanya.”

Alasan ini konyol tapi legendaris. Seolah matematika adalah virus yang wajib dihindari, dan jurusan KPI adalah bunker paling aman untuk berlindung dari trauma masa SMA. Padahal, spoiler alert: matematika itu kayak mantan, kamu pikir udah lepas, eh nongol lagi di tempat yang nggak disangka.

Trauma kolektif bernama matematika

Kita semua tahu penderitaannya: bertahun-tahun dikejar integral tak tentu, disiksa grafik fungsi yang bentuknya lebih absurd dari hubungan tanpa status. Jadi wajar kalau banyak yang bersumpah, “Pokoknya kuliah nanti harus bebas dari angka!” Ironinya, giliran angkanya muncul di lembar bergambar pahlawan, malah disikat tanpa perlawanan.

Sayangnya, hidup nggak sesederhana itu. Mau jadi dosen, selebgram, bahkan penjual skincare, semua tetap butuh hitung-hitungan: engagement rate, omzet, dan sisa saldo akhir bulan. Jadi kalau masuk KPI karena mau kabur dari angka, ya selamat. Kamu hanya pindah kandang, bukan keluar dari jerat.

KPI dan Dunia Angka yang Tersembunyi

Mari kita luruskan. Jurusan KPI bukan cuma belajar public speaking sambil pegang mic, atau latihan khutbah biar suara lantang. Ada penelitian, survei, dan tentu saja, skripsi. Dan setiap penelitian butuh data. Data, tentu saja dan seringnya, berupa angka.

Mau bikin penelitian “efektivitas dakwah via WhatsApp”? Siap-siap hitung jumlah kontak, yang nonton story, dan yang rela isi kuesioner.

Belum lagi bikin RAB (Rencana Anggaran Biaya) waktu mau ngadain seminar. Dari sewa gedung, konsumsi, sampai honor narasumber, semua ada angka. Jadi kalau niat awalnya “biar nggak ketemu matematika”, kamu salah alamat, Sayang. Jurusan KPI bukan pelarian, tapi ujian kesabaran dalam bentuk statistik.

Baca Juga:

Memahami Matematika Dasar Itu Wajib, Sekalipun Kalian Menganggap Matematika Nggak Berguna dalam Kehidupan Nyata

Tempat Les Kumon Memang Berkualitas, tapi Nggak Semua Anak Cocok

Semua jurusan punya matematikanya sendiri, bahkan jurusan KPI sekalipun

Yang lucu, fenomena ini nggak cuma di KPI. Mahasiswa sastra masuk karena “cuma baca novel dan review buku”, eh ketemu teori semiotika dan hermeneutika yang bikin kepala berasap. Anak hukum mikir bakal tampil gagah di pengadilan, malah tiap hari ngafal pasal. Anak Bimbingan Konseling Islam (BKI) masuk karena katanya bisa sekalian “terapi diri”, malah stres duluan sebelum lulus. Bahkan yang masuk Ekonomi Syariah karena “nggak ada bunga bank” dengan dalih kata “syariah”, tetap ketemu rumus akuntansi.

Artinya: semua jurusan punya “matematikanya” sendiri, bahkan jurusan KPI dan sastra yang terlihat tak punya urusan dengan angka. Kadang bentuknya angka, kadang logika, kadang teori. Jadi, pikir lagi deh kalau mau lari dari matematika, karena itu kayak lari dari bayangan sendiri, makin lari malah makin nempel.

Matematika: Fobia Nasional yang Tak Pernah Diakui

Kenapa bangsa ini begitu alergi sama matematika? Mungkin karena sejak SD kita dicekokin ide bahwa nilai matematika menentukan masa depan. Salah satu angka aja bisa bikin hidup berantakan. Stigma yang paling parah “pinter matematika aja udah dianggap paling pinter semua mata pelajaran”.

Selain itu orang tua pun ikut menyiram bensin di api: “Tuh, si Budi dapet 9, kamu kok 6?” Pelan-pelan, matematika berubah dari ilmu jadi trauma kolektif. Jadi ya wajar, kalau matematika dianggap sebagai fobia nasional yg tak pernah diakui.

Walaupun demikian, bisa dibilang hampir tiap hari kita berurusan dengan matematika: ngatur uang jajan, hitung diskon 50% + cashback 10%, ngitung tanggal gajian yang makin jauh. Tapi karena dikemas dalam bentuk soal pilihan ganda yang bisa menghancurkan harga diri, kita akhirnya belajar bukan logika, tapi takut salah.

Jurusan KPI bukan tempat sembunyi

Jadi kalau ada yang masuk jurusan KPI karena mau kabur dari matematika, jawabannya sederhana: aneh. Jurusan bukan tempat bersembunyi dari trauma, tapi ruang untuk berdamai dengan cara berpikir yang pernah menakutkan kita.

Lagian, hidup ini isinya angka semua, dari umur, gaji, sampai tanggal jadian. Jadi daripada terus lari, mungkin lebih bijak kalau kita belajar berdamai. Karena pada akhirnya, alasan paling konyol memilih jurusan bukanlah karena cinta atau cita-cita, tapi karena takut sama matematika.

Dan kalau cuma mau kabur dari angka, ya, silakan aja jadi penyair. Eh belum tentu deng, karena syair puisi tetap harus dihitung per bait.

Penulis: Dini Anggraini
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Pengalaman Kuliah Jurusan Matematika Murni, Jurusan yang Lebih Banyak Tanya ”Mengapa” daripada ”Berapa”

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 6 November 2025 oleh

Tags: jurusan KPIjurusan kuliah dengan matematikajurusan yang tidak ada matematikaMatematika
Dini Anggraini

Dini Anggraini

Fresh graduate. Menaruh perhatian atas isu-isu lingkungan dan sosial. Suka memelihara ikan

ArtikelTerkait

Menerka Alasan Guru Matematika Nggak Pernah Bolos Mengajar

Menerka Alasan Guru Matematika Nggak Pernah Bolos Mengajar

4 Maret 2024
5 Rekomendasi Aplikasi Belajar Matematika, Bikin Belajar Jadi Menyenangkan

5 Rekomendasi Aplikasi Belajar Matematika, Bikin Belajar Jadi Menyenangkan

19 Maret 2023
Memahami Matematika Dasar Itu Wajib, Sekalipun Kalian Menganggap Matematika Nggak Berguna dalam Kehidupan Nyata

Memahami Matematika Dasar Itu Wajib, Sekalipun Kalian Menganggap Matematika Nggak Berguna dalam Kehidupan Nyata

3 November 2024
Pemburu Togel: Orang yang Nggak Tahu kalau Dirinya Tahu Ilmu Matematika, Semiotika, dan Hermeneutika terminal mojok.co

Pemburu Togel: Orang yang Nggak Tahu kalau Dirinya Tahu Ilmu Matematika, Semiotika, dan Hermeneutika

26 November 2020
Crash Course in Romance, Drama Korea yang Menjawab Alasan Mengapa Orang Suka Matematika

Crash Course in Romance, Drama Korea yang Menjawab Kenapa Orang Suka Matematika

2 Februari 2023
10 Rekomendasi Jurusan Kuliah yang Tidak Ada Matematika atau Hitung-hitungan

10 Rekomendasi Jurusan Kuliah yang Tidak Ada Matematika atau Hitung-hitungan

7 Februari 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Oleh-Oleh Khas Wonosobo yang Sebaiknya Kalian Pikir Ulang Sebelum Membelinya Mojok.co

Wonosobo Memang Cocok untuk Berlibur, tapi untuk Tinggal, Lebih Baik Skip

3 Februari 2026
7 Kebiasaan Orang Kebumen yang Terlihat Aneh bagi Pendatang, tapi Normal bagi Warga Lokal Mojok.co

6 Mitos di Kebumen yang Nggak Bisa Dibilang Hoaks Begitu Saja

3 Februari 2026
Universitas Terbuka (UT) Banyak Prestasinya Itu Bukan Kebetulan, tapi Memang Sistemnya yang Keren

Universitas Terbuka (UT) Banyak Prestasinya Itu Bukan Kebetulan, tapi Memang Sistemnya yang Keren

31 Januari 2026
Tunjungan Plaza Surabaya Lebih Cocok Disebut Labirin daripada Mal, Membingungkan dan Rawan Tersesat Mojok.co

Tunjungan Plaza Surabaya Lebih Cocok Disebut Labirin daripada Mal, Membingungkan dan Rawan Tersesat

2 Februari 2026
Jurusan Ekonomi Menyelamatkan Saya dari Jurusan Kedokteran yang seperti Robot Mojok.co

Jurusan Ekonomi Menyelamatkan Saya dari Jurusan Kedokteran yang seperti Robot

30 Januari 2026
4 Menu Mie Gacoan yang Rasanya Gagal, Jangan Dibeli kalau Nggak Mau Menyesal seperti Saya

Tips Makan Mie Gacoan: Datanglah Pas Pagi Hari, Dijamin Rasanya Pasti Enak dan Nggak Akan Kecewa

1 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Mitos dan Pamali adalah Sains Tingkat Tinggi yang Dikemas dalam Kearifan Lokal, Bisa Menjadi Peringatan Dini Bencana
  • Cabut dari Kota Tinggalkan Perusahaan demi Budidaya Jamur di Perdesaan, Beberapa Hari Raup Jutaan
  • Masturbasi di KRL dan TransJakarta: Maskulinitas Kota dan Tubuh yang Terjepit di Ruang Publik
  • Ngekos Bareng Sepupu yang Masih Nganggur Itu Nggak Enak: Sangat Terbebani, tapi Kalau Mengeluh Bakal Dianggap “Jahat”
  • Nelangsa Orang Tua di Desa: Diabaikan Anak di Masa Renta tapi Warisan Diperebutkan, Ortu Sehat Didoakan Cepat Meninggal
  • Megahnya Jogja City Mall Bergaya Romawi dengan Filosofi Keberuntungan, Nyatanya Makin Menyesatkan Orang “Buta Arah” Seperti Saya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.