Menghadapi Kultur Lawan Arah di Lebak Bulus Raya: kalau Ditegur Galak, tapi kalau Kena Tilang Langsung Pasang Wajah Melas

Menghadapi Kultur Lawan Arah di Lebak Bulus Raya: kalau Ditegur Galak, tapi kalau Kena Tilang Langsung Pasang Wajah Melas

Menghadapi Kultur Lawan Arah di Lebak Bulus Raya: kalau Ditegur Galak, tapi kalau Kena Tilang Langsung Pasang Wajah Melas

Beberapa waktu lalu, saya ada urusan keluarga yang mengharuskan saya lewat Jalan Lebak Bulus Raya (pasti banyak yang tau jalan ini). Sebagai orang yang nggak tiap hari lewat rute tersebut, ekspektasi saya ya standar jalanan Jakarta Selatan pada umumnya. Macet, padat, banyak kendaraan yang berebut celah, dan tentu saja butuh ekstra kesabaran.

Ternyata, di balik kemacetan biasa itu, ada satu rutinitas harian di sana yang lumayan bikin saya nggak bisa berkata-kata.

Memori tentang jalan itu balik lagi gara-gara belakangan ini nama Lebak Bulus Raya lumayan sering lewat di berita. Topiknya menyoroti kelakuan sebagian pengendara motor yang hobi banget lawan arah. Di awal 2026 ini, polisi sampai harus rajin turun ke jalan buat menggelar razia dan menertibkan mereka. Lucunya, kebiasaan nekat ini kayak susah banget hilangnya.

Bahkan kadang ada saja pelanggar yang pas ditegur malah lebih galak dari petugasnya. Ujung-ujungnya ketebak, bikin video minta maaf pakai wajah melas di kantor polisi.

Bahkan angkot aja ngelawan arus di Lebak Bulus Raya

Kalau dihubungkan dengan pengalaman pribadi saya lewat sana tempo hari, rasanya masuk akal kenapa polisi sampai harus sering turun tangan. Waktu itu, saya berkendara antre di lajur yang benar dengan kecepatan santai karena memang mau ke acara keluarga. Tapi, dari arah berlawanan di pinggir jalan, ada saja motor bahkan angkot pun ada yang nyelonong melawan arus.

Perasaan saya waktu itu campur aduk antara kaget, bingung, dan lumayan emosi. Kita yang udah benar dan antre pelan-pelan, malah kadang harus ngalah. Yang bikin lucu itu kalau pas kita nggak sengaja tatap-tatapan sama yang lawan arah, kadang muka mereka malah lebih judes, seolah-olah kita yang salah karena nutupin jalan mereka. Logikanya benar-benar kebalik.

Fenomena lawan arah di Lebak Bulus Raya ini sebetulnya ngasih lihat sisi lain dari rutinitas masyarakat kita, entah itu mahasiswa, pekerja harian, atau warga pada umumnya. Alasannya biasanya simpel dan itu-itu aja, “biar cepet sampai”, “cuman ke situ doang”, “bla-bla-bla”. Ini yang bikin saya geleng-geleng. Ada semacam pembenaran kolektif yang terjadi setiap hari. Awalnya mungkin cuma satu orang yang iseng lawan arah karena lihat jalanan agak kosong dan kebetulan nggak ada petugas. Lalu, pengendara di belakangnya ngelihat dan mikir, “Oh, bisa nih lewat situ.” Akhirnya pada ikut-ikutan ngekor.

Sadar nggak sadar, gerombolan ini malah ngebentuk jalur baru yang bikin jalanan makin sempit. Kemacetan yang tadinya cuma karena volume kendaraan pas jam sibuk, jadi makin ruwet karena lajurnya dimakan dari arah depan.

BACA JUGA: Menguak Penyebab Orang Melawan Arus Lalu Lintas

Betapa menyedihkannya nasib orang taat aturan

Buat orang-orang yang taat aturan, entah yang cuma sesekali lewat atau yang tiap hari mengaspal di Lebak Bulus Raya, kondisi ini jelas nggak nyaman. Keselamatan di jalan raya itu kan sebenarnya kerja sama. Sehati-hati apa pun kita bawa kendaraan, kalau orang lain di sekitar kita cuek sama aturan, ya risikonya tetap ada.

Harapannya sih, berita soal razia tilang yang ramai kemarin itu bisa jadi pengingat aja buat kita semua. Kita nggak perlu nunggu ada petugas jaga tiap hari buat sadar kalau lawan arah itu ngerepotin orang lain. Hitung-hitung latihan sabar. Nggak usah maksain potong kompas yang ujung-ujungnya malah membahayakan diri sendiri dan bikin macet makin panjang.

Yuk, sama-sama belajar jadi pengguna jalan yang wajar-wajar aja. Jangan lupa otaknya dibawa saat berkendara ya, karena itu yang membuat kita berpikir dan waras.

Penulis: Restu Agil Purnomo Adi
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Dear Tukang Lawan Arah, Jangan Bikin Orang Lain Repot karena Kegoblokanmu!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version