Mengenang Sinetron ‘Ikhlas’: Tontonan Buka Puasa yang Bikin Penonton Nggak Ikhlas. #TakjilanTerminal13

Mengenang Sinetron ‘Ikhlas’: Tontonan Buka Puasa yang Bikin Penonton Nggak Ikhlas. #TakjilanTerminal13 terminal mojok.co

Mengenang Sinetron ‘Ikhlas’: Tontonan Buka Puasa yang Bikin Penonton Nggak Ikhlas. #TakjilanTerminal13 terminal mojok.co

Jika ditanya hal apa yang membekas pada Ramadan 2003, mungkin saya nggak bisa mengingat segala hal dengan detail yang terjadi di kala itu. Namun, bisa dipastikan di Ramadan tahun itu tepatnya pukul 5 sore saya pasti sedang duduk di depan TV merek Sharp 21 inch. Saya tengah gelisah menanti waktu berbuka sambil melirik gorengan serta kolak yang sudah tersaji di meja makan. Lalu, dengan penuh kekhusyukan menghayati alur cerita sinetron Ikhlas yang panjangnya 55 episode itu. Bisa dipastikan di Ramadan tahun itu, rutinitas ngabuburit saya pada jam 5 sampai 6 sore hanya menonton sinetron religi yang tengah populer di masa itu.

Menonton sinetron Ikhlas pada waktu itu sama saja dengan menyimak tagar yang tengah trending di Twitter. Sekali saja saya melewatkan tontonan itu, maka esok harinya saya di sekolah seperti pertapa yang baru keluar dari gua setelah sekian abad bersemadi: tak tahu apa-apa dan hanya bisa menyimak gibahan teman-teman dengan penuh rasa penyesalan.

Jangan nyinyir dulu tentang stigma sinetron Indonesia yang sering dipandang sebelah mata oleh netizen masa kini. Sinetron Ikhlas ini menurut saya merupakan tontonan yang cukup berkualitas. Pemainnya saja dipilih artis-artis yang kemampuannya no kaleng-kaleng. Coba silakan tanya pada rakyat Indonesia, pada tahun itu siapa yang tidak kenal Manusia Milenium yang super tampan, Primus Yustisio? Siapa yang tidak mengenal artis kecintaan sejuta emak-emak, Teuku Ryan? Dan siapa yang tidak mengakui kecantikan dan pesona Tamara Bleszynski? Belum lagi ada Zumi Zola, Him Damsyik, dan aktor senior lainnya yang tak perlu diragukan lagi kemampuannya.

Selain itu, meski ini sinetron religi, tapi, ya, nggak religi-religi amat. Sinetron ini sebenarnya merupakan sinetron religi yang berbaur dengan romansa serta ada sentuhan horor. Kalau dipikir-pikir kayak nggak masuk akal gitu ya, masa ada perdukunan dan santet-santetan di sinetron ini. Tapi kan pada zaman itu dunia perdukunan dan cerita-cerita magis kayak gini memang lagi hits untuk dibicarakan di masyarakat kita. Seolah secara tidak langsung sinetron ini menggiring pola pikir kita buat mengerti bahwa segala bentuk ilmu hitam pada akhirnya akan kalah dengan keimanan seseorang pada Tuhannya.

Buat memanggil kenangan di long-term memory kita tentang sinetron ini, saya ceritakan ulang secara singkat alur ceritanya. Jadi, sinetron ini menceritakan kisah cinta segitiga antara Naia (Tamara), Iman (Primus), dan Reza (Teuku Ryan). Naia adalah mahasiswi yang periang, lincah, dan suka menulis. Primus adalah anak yatim piatu yang diangkat anak oleh orang kaya. Reza adalah pencopet yang kemudian tobat.

Naia dan Iman itu awalnya sepasang kekasih yang saling mencintai. Tapi ada si Gina, cewek yang suka dengan Iman. Dia ingin mendapatkan Iman bagaimanapun caranya. Lalu, dia meminta tolong pada ibunya yang seorang dukun buat mengguna-guna si Iman. Akhirnya, Iman dipelet dan jatuh ke dunia narkotika. Selain itu, Iman juga ikut serta menjerumuskan Naia yang akhirnya kecelakaan dan lupa akan masa lalunya. Di sanalah kemudian Naia yang namanya berubah jadi Fitri bertemu dengan Reza yang sudah tobat dan sudah alim sekali.

Reza ini yang menemani Naia di masa-masa sulitnya. Dia juga yang membantu Naia buat mencari masa lalunya. Di sini netizen pada baper dengan chemistry dari Naia dan Reza. Seolah dua couple ini memang paling cocok dipersatukan sebagai sepasang suami istri. Di ending ketika nantinya Naia bertemu dengan cinta pertamanya alias Iman, seharusnya mereka kembali bersatu. Reza lah di sini yang harus berperan sebagai orang ikhlas. Di mana dia sudah menemani Naia dari titik nol bahkan terendahnya, membantu dia buat bangkit dan menemukan kebahagiaannya. Eh, di akhir, dia harus merelakan orang yang dicintainya itu pada orang lain.

Harusnya kan kayak gitu alurnya, ya. Sama kayak serial Meteor Garden gitulah. Di mana awalnya Tao Ming Tse dan Sanchai pacaran, lalu si cowoknya kecelakaan dan amnesia. Lalu ada Yessa yang membantu Tao Ming Tse buat menemukan masa lalunya dan akhirnya dia merelakan lelaki yang dicintainya itu agar bahagia dengan cinta sejatinya. Namun, semacam ini nyatanya nggak berlaku di Indonesia.

Jodoh cerita ada di tangan penulis itu hanya mitos, yang ada jodoh ada di tangan netizen atau produser. Jadi, ceritanya sinetron itu tayang dua kali, di tahun 2003 di SCTV dan 2005 di Trans TV. Pada judul sinetron yang sama dengan para pemain yang sama, masa bisa-bisanya sinetron ini memiliki dua ending yang berbeda. Pada 2003, Naia ini memilih Reza dan Iman yang ikhlas. Pada 2005, Naia ini memilih Iman dan Reza yang mengalah. Kalau kayak gini gimana coba nanti saya menjelaskan ending yang sesungguhnya kalau anak cucu saya nanya tentang sinetron ini?

Cerita ending aslinya itu sebenarnya Naia memang harusnya memilih Iman di akhirnya dan Reza ngalah. Sayangnya, di tahun itu pesona Teuku Ryan begitu dominan ketimbang Primus. Lantas, dengan begitu, banyak suara netizen yang meminta agar endingnya itu sama Reza bukan sama Iman. Apesnya lagi rumah produksi sinetron ini mengiyakan saja keinginan penonton agar mereka tidak kecewa. Gini, nih, jadinya kalau second lead-nya lebih dicintai netizen.

Hal ini tentu membuat kecewa para fans dari kubu Iman, kan, ya. Bisa-bisanya dari awal memiliki cerita yang manis sama Iman, tapi kok ya akhirnya sama Reza. Pemeran utamanya itu siapa? Dan taraaaaaa…. Pada 2005, rumah produksi ini mengembalikan alur cerita ke bentuk aslinya. Di mana Iman-lah yang akhirnya dipilih oleh Naia. Jelas di kubu Reza pada nggak terima akan hal ini. Mereka menganggap kalau rumah produksi ini labil dalam mengambil keputusan endingnya. Lah, saya maklum kok, bayangin saja jadi Naia kala itu, kalau disuruh milih Primus yang ganteng dan Teuku Ryan yang tampan: apa bisa milih dengan mudah?

Dari awal, sinetron ini mengajarkan kita buat menerima segalanya dengan penuh ikhlas meski hal terburuk sekalipun. Namun, nyatanya pesan ini nggak sampai ke penonton. Pasalnya, mereka tetap aja nggak ikhlas dengan endingnya.

Sumber Gambar: YouTube MD Entertainment

*Takjilan Terminal adalah segmen khusus yang mengulas serba-serbi Ramadan dan dibagikan dalam edisi khusus bulan Ramadan 2021.

BACA JUGA Apakah Sudah Saatnya Sinetron ‘Para Pencari Tuhan’ Dirampungkan Tahun Ini? #TakjilanTerminal03 dan tulisan Reni Soengkunie lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
Exit mobile version