Mengenali Tanda-tanda Inflasi secara Sederhana

Mengenali Tanda-tanda Inflasi secara Sederhana

Mengenali Tanda-tanda Inflasi secara Sederhana (pixabay.com)

Pada Januari 2022, terjadi inflasi sebesar 0,56 persen. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Sibolga sebesar 1,53 persen dan terendah terjadi di Kabupaten Manokwari sebesar 0,02 persen. Hal ini terjadi karena naiknya sebagian besar indeks kelompok pengeluaran, yaitu: kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 1,17 persen, kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,43 persen, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,51 persen, dan seterusnya.

Uraian tadi menjelaskan angka inflasi di Indonesia yang baru saja dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) awal bulan lalu. Apakah kamu paham dengan uraian tentang angka tadi? Kalau belum, nggak usah khawatir. Saya saja yang notabene pegawai BPS nggak banyak tahu, kok. Entah karena materinya yang rumit atau memang IQ saya yang jongkok.

Sependek pengetahuan saya, inflasi adalah naiknya harga barang/jasa secara terus menerus dalam jangka waktu tertentu. Penyebab naiknya harga bisa macam-macam. Bisa karena adanya panic buying, musim paceklik, tradisi menjelang hari raya, bencana alam, konflik, kebijakan pemerintah, perubahan nilai tukar mata uang, dan sebagainya. Intinya sih, nggak seimbang antara supply dan demand, makanya terjadi inflasi.

Itulah yang saya pahami tentang inflasi. Selebihnya yang berupa angka-angka persentase tadi, saya ora mudeng. Tapi, ya saya nggak mau dipusingkan dengan angka-angka tadi. Saya cukup melihat tanda-tanda alam yang sederhana untuk melihat terjadinya inflasi. Ini adalah beberapa di antaranya.

Pertama, nilai mata uang turun secara konsisten. Apa yang bisa kamu beli dengan uang Rp150 ribu? Kalau zaman sekarang, uang segitu mungkin cuma bisa beli empat bungkus minyak goreng kemasan dua liter. Tapi kalau zaman dulu, misalnya tahun 70-an, uang segitu bisa dibelikan satu unit sepeda motor bebek merek Honda C50. Serius. Ini menunjukkan adanya inflasi yang menyebabkan nilai mata uang turun terus secara konsisten.

Kedua, harga barang selalu naik. Seingat saya, harga telur zaman dulu itu Rp1.200 per kilogram. Tapi sekarang, harga telur kurang lebih Rp24 ribu per kilogram. Belum lagi kalau menjelang hari raya, harganya bisa mencapai Rp33 ribu per kilogram. Perubahan harga yang terus-menerus cenderung naik ini menunjukkan adanya inflasi.

Ketiga, ukuran barang menyusut. Ketika minyak goreng langka dan harganya melambung tinggi tempo hari, beberapa tukang gorengan otomatis melakukan penyesuaian. Ada yang menaikkan harga gorengannya, ada juga yang harganya tetap tapi menyusutkan ukuran gorengannya. Nah, kalau kamu mengamati ukuran gorengan semakin hari semakin mengecil, yakinlah itu adalah tanda-tanda inflasi.

Keempat, membesarnya nominal mata uang terkecil. Waktu saya kecil dulu, nominal mata uang terkecil adalah Rp5. Iya, lima perak. Uang segitu sudah bisa dibelikan jajanan warung. Kalau sekarang mana ada? Nominal uang terkecil sekarang kan Rp100. Itu pun bingung mau dibelikan apa. Untuk bayar parkir saja sudah Rp2.000, Bos. Membesarnya nominal mata uang terkecil juga menandakan adanya inflasi.

Kelima, istri ngomel-ngomel sepulang dari pasar. Sebetulnya ada banyak alasan istri suka ngomel-ngomel. Entah itu karena suami pulang telat, uang belanja kurang, atau kebiasaan suami naruh handuk basah di atas kasur. Tapiii, kalau istri ngomel-ngomel sepulang dari pasar karena harga belanjaan naik semua, nah itulah tanda-tanda nyata adanya inflasi.

Itulah kelima tanda yang bisa kamu kenali. Kalau dipikir-pikir, hal ini dampaknya cenderung negatif, sih. Tapi sayangnya, inflasi ini nggak bisa dihilangkan, cuma bisa dikendalikan. Makanya pemerintah bikin Tim Pengendalian Inflasi Daerah alias TPID untuk mengendalikan inflasi di tiap daerah.

Kalau ditanya seberapa efektif kerja TPID ini, ya lihat saja tanda-tanda tadi. Selama istri saya ngomel-ngomel sepulang dari pasar karena harga belanjaan naik, berarti kinerja TPID belum maksimal. Ehm.

Penulis: Andri Saleh
Editor: Rizky Prasetya

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Exit mobile version