Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Mengenal Happy Hypoxia, Gejala Covid-19 yang Membunuh dalam Diam

Maria Marind Desrianti Hutauruk oleh Maria Marind Desrianti Hutauruk
4 September 2020
A A
happy hypoxia sesak napas mojok

happy hypoxia sesak napas mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Kita sedang dalam keadaan penjajahan baru. Bukan melawan negara lain, bukan melawan pistol-pistol, atau bambu runcing. Kita sedang keadaan perang menghadapi penjajah biologis, virus Sars-Cov -2. Sang penjajah telah berhasil menyerang banyak orang. Korbannya adalah orang-orang dengan positif Covid-19.

Serangan sang pejajah atau virus Sars- Cov-2—kita sebut saja virus Covid biar lebih mudah—menyerang kita bertubi-tubi dan memakan banyak korban. Parahnya, tidak semua korban sadar kalau dia adalah korban. Sedang jalan-jalan di mal, sedang joget-joget di kerumunan, eh, ternyata dia sudah jadi korbannya si virus Covid. Tidak ada batuk-batuk, tidak ada sesak. Tiba-tiba, waktu diperiksa oksigen tubuhnya sudah turun, dari normalnya 94% bahkan 98% jadi 55%.

Rasanya, sehat-sehat saja, tapi jumlah oksigen di tubuhnya turun. Memang apa bahayanya oksigen rendah pada tubuh?

Tubuh kita ini kerjanya butuh oksigen. Ibaratnya, oksigen itu seperti bahan bakar tubuh kita. Kalau mobil kita tidak ada bensin, mogok, toh? Demikian juga dengan tubuh kita. Kekurangan oksigen bisa membuat tubuh kita mogok kerja. Kalau tubuh mogok kerja, bisa gawat.

Karena kekurangan oksigen itu merupakan fenomena yang gawat di dalam tubuh kita, maka biasanya tubuh akan memberikan tanda-tanda bahwa tubuh kita ini lagi kurang bahan bakar. Salah satunya meningkatkan usaha napas kita. Kita ‘kan napas untuk dapat oksigen. Jadi, kalau kita kekurangan oksigen, tubuh kita akan mencoba meningkatkan usaha napas kita, bisa dipercepat kecepatan bernapasnya atau bisa dibanyakkin volume yang diambil tiap hirupan napas. Ini yang biasa disebut sesak.

Sesak ini rasanya tidak enak, sulit dan berat bernapas. Kalau merasa tidak pernah merasakan sesak, coba lari cepat keliling komplek sampai terasa napas cepat atau “ngap-ngap-an”. Nah, itu dia rasanya sesak. Tapi ada jenis sesak napas lain yang mengerikan. Seberapa mengerikan? Banget, pokoknya.

Sesak yang saya maksud adalah happy hypoxia. Happy hypoxia adalah keadaan tubuh kekurangan bahan bakar, tapi tubuh tidak memberikan tanda-tanda waspada bahwa tubuh bisa mogok kapan saja karena kurang bahan bakar. Kurang oksigen tapi tidak ada sesak.

Happy hypoxia tidak hanya terjadi pada korban virus Covid saja, tapi juga bisa terjadi pada atelektasis, malformasi pembuluh darah paru, juga pada kelainan aliran darah jantung (right-to-left intracardiac shunt). Tapi, karena sekarang kita sedang dalam masa perang dengan virus Covid, makanya kalau ada yang happy hypoxia, biasa langsung dicurigai bahwa dia adalah korban perang oleh virus Covid.

Baca Juga:

Jika Ada yang Lebih Sulit dari Menjilat Siku Sendiri, Mencari Kerja di Palembang Adalah Jawabannya

Sekarang pertanyaannya, mengapa bisa tubuh tidak memberikan tanda-tanda kalau sedang kekurangan bahan bakar?

Seperti yang sudah saya bahas, rasa sesak ini adalah usaha tubuh untuk meningkatkan usaha napas kita. Di dalam tubuh kita, yang bertugas untuk memerintahkan peningkatan usaha napas ini adalah pusat kontrol napas. Untuk meningkatkan usaha napas, pusat kontrol napas ini harus terlebih dahulu mendapat sinyal yang menandakan bahwa tubuh sedang kekurangan oksigen.

Ibaratnya kalau kita ingin orang yang kita suka tahu kalau kita sedang suka padanya, maka kita harus meberi sinyal berupa kata-kata, kedipan mata, gerakan tubuh, supaya orang tersebut bisa menerima sinyal kalau kita sedang suka padanya

Kalau tubuh kita ingin memberitahu pusat kontrol napas kalau tubuh sedang kekurangan oksigen, maka dibutuhkan pula sinyal-sinyal. Tapi bedanya, sinyal di tubuh kita ini berupa sinyal-sinyal kimiawi. Penjajah kita si virus Covid ini bisa menyerang hingga sinyal kimiawi tersebut sehingga tubuh tidak bisa memberi informasi ke pusat kontrol napas bahwa tubuh sedang kurang bahan bakar. Ya, akibatnya ketika kita kekurangan oksigen, kita bisa saja tidak merasa sesak.

Bayangkan bagaimana bahayanya bila tidak tidak ada tanda-tanda bahwa tubuh akan mogok karena kehabisan bahan bakar. Anggap saja seperti naik pesawat tapi ternyata bahan bakar pesawat sudah mau habis, tapi kita tidak tahu. Pesawat bisa mogok alias jatuh di mana saja. Kalau pada fenomena happy hypoxia, tubuh bisa mogok kapan saja.

Terus, bagaimana caranya supaya kita tidak terkena happy hypoxia? Hindari penyebabnya, si virus Covid-19 atau Sars-Cov-2. Cara menghindarinya? Jaga jarak dengan orang lain, pakai alat pelindung diri (masker, face shield), dan hindari keramaian. Tidak usah alasan-alasan. Lihat, sebegitu acaknya gejala Covid sampai kita bisa saja tidak tahu kalau kita sudah menjadi korban Covid.

Ya, happy hypoxia bukan berarti kita sedang mengalami kekurangan oksigen yang membahagiakan. Kekurangan oksigen tidak ada bahagia-bahagianya. Jangan mau jadi happy hypoxia. Cukup happy saja.

BACA JUGA Mari Bersepakat Bahwa Indomaret Lebih Baik Daripada Alfamart dan tulisan Maria Marind Desrianti Hutauruk lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 4 September 2020 oleh

Tags: covidhappy hypoxia
Maria Marind Desrianti Hutauruk

Maria Marind Desrianti Hutauruk

Dokter Muda/Co-Ass di RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga angkatan 2016 dan sekarang sedang disibukkan dengan profesi sebagai Co-Ass dan hobi menulis artikel. Saat kuliah, aktif berkecimpung di dunia jurnalistik kampus bagian artikel-artikel kesehatan.

ArtikelTerkait

4 Hal yang Bikin Saya Menderita Tinggal di Palembang loker palembang tukang parkir

Jika Ada yang Lebih Sulit dari Menjilat Siku Sendiri, Mencari Kerja di Palembang Adalah Jawabannya

30 Oktober 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

5 Barang Indomaret yang Sebenarnya Mubazir, tapi Terus Dibeli Pelanggan Mojok.co

5 Barang Indomaret yang Sebenarnya Mubazir, tapi Terus Dibeli Pelanggan

31 Januari 2026
Tiga Bulan yang Suram di Bangunjiwo Bantul, Bikin Pekerja Bantul-Sleman PP Menderita!

Tiga Bulan yang Suram di Bangunjiwo Bantul, Bikin Pekerja Bantul-Sleman PP Menderita!

1 Februari 2026
Banting Setir dari Jurusan Manajemen Jadi Guru PAUD, Dianggap Aneh dan Nggak Punya Masa Depan Mojok.co jurusan pgpaud

Jurusan PGPAUD, Jurusan yang Sering Dikira Tidak Punya Masa Depan

5 Februari 2026
Jangan Ngotot Ambil KPR kalau Belum Siap Finansial dan Mental Mojok.co

Jangan Ngotot Ambil KPR kalau Belum Siap Finansial dan Mental

2 Februari 2026
Aturan Kereta Api Bikin Bingung- Bule Tenggak Miras Dibiarkan (Unsplash)

Pengalaman Naik Kereta Api Segerbong dengan Bule yang Membawa Miras Membuat Saya Mempertanyakan Larangan Ini

5 Februari 2026
Lawson X Jujutsu Kaisen: Bawa Kerusuhan Klenik Shibuya di Jajananmu

Lawson X Jujutsu Kaisen: Bawa Kerusuhan Klenik Shibuya di Jajananmu

31 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Tan Malaka “Hidup Lagi”: Ketika Buku-Bukunya Mulai Digemari dan Jadi Teman Ngopi
  • Ironi TKI di Rembang dan Pati: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Karena Harus Terus Kerja di Luar Negeri demi Gengsi
  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan
  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial
  • Lasem Lebih Terkenal daripada Rembang tapi Hanya Cocok untuk Wisata, Tidak sebagai Tempat Tinggal
  • Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.