Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Betapa Dangkal Cara Berpikir Mereka yang Menganggap Jadi IRT Adalah Aib

Dimas Junian Fadillah oleh Dimas Junian Fadillah
1 Februari 2026
A A
Betapa Dangkal Cara Berpikir Mereka yang Menganggap Jadi IRT Adalah Aib Mojok.co

Betapa Dangkal Cara Berpikir Mereka yang Menganggap Jadi IRT Adalah Aib (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Akhir-akhir ini istri saya sedang ketagihan mencoba hal baru. Salah satunya, membuat konten masak di media sosial. Dia seorang guru, tapi memang butuh ruang lain untuk menyalurkan passion dan bakat yang dimilikinya. Maka seperti kebanyakan manusia pemula yang mau belajar, dia rajin mengamati konten kreator lain yang lebih dulu sukses.

Masalahnya datang semalam. Istri saya tiba-tiba kesal setelah melihat salah satu konten kreator yang dia ikuti mendapat pesan dari seorang akademisi. Pesannya singkat tapi menohok. Orang itu menilai bahwa lulusan PTN yang jadi IRT tidak pantas membuat konten dan disebar di ruang publik. Lebih baik kontennya di-take down saja. 

Pesan tersebut mencerminkan cara berpikir yang sempit cum dangkal. Gelar pendidikan diperlakukan seperti titel kehormatan yang harus dijaga citranya, bukan sebagai alat untuk hidup dan menghidupi. Seolah lulusan PTN hanya boleh bekerja di ruang-ruang yang dianggap terhormat. Sementara dapur dan rumah tangga dianggap turun derajat. Padahal yang menentukan mulia atau tidaknya hidup bukan tempat kita bekerja, melainkan bagaimana kita bertanggung jawab atas pilihan kita sendiri.

Kampus bukan penjamin hidup, paling jauh cuma penunjuk jalan

Perlu kita sepakati bahwa kampus tidak pernah menandatangani kontrak untuk menjamin kehidupan alumninya. Ia hanya menyediakan ruang belajar, ijazah, dan sedikit kenangan manis maupun pahit semasa perkuliahan.

Setelah wisuda, hidup sepenuhnya ya urusan masing-masing. Mau jadi pegawai, petani, pedagang, guru, konten kreator, atau ibu rumah tangga sekalipun kampus tidak lagi ikut menanggung konsekuensi yang dijalani oleh alumninya.

Karena itu agak aneh ketika ada pihak yang merasa punya otoritas moral atas pilihan hidup salah seorang alumni. Seolah-olah setelah lulus, alumni wajib menjaga citra institusi, bahkan sampai ke urusan dapur dan dunia konten. Padahal kampus tidak ikut urun membayar listrik, kuota internet, apalagi belanja bulanan. Kalau hidup alumni saja tidak dijamin, kenapa ekspresi hidupnya masih ingin ikut diatur?

Hasil pendidikan yang sudah dipelajari di kampus seharusnya membuat seseorang lebih lentur menghadapi kenyataan, bukan justru kaku dalam menilai hidup yang dijalani orang lain. Jika pendidikan tinggi malah melahirkan sikap merasa paling tinggi, barangkali yang salah bukan alumninya yang jadi IRT, tapi cara kita memahami makna sebuah pendidikan.

Marwah kampus tidak akan buyar hanya karena konten dari IRT

Permintaan untuk menurunkan konten demi menjaga marwah kampus sebenarnya terlalu berlebihan. Marwah institusi pendidikan tidak akan runtuh karena alumninya  mengurus rumah lalu membagikannya di media sosial. Kalau reputasi kampus bisa goyah oleh kegiatan domestik ibu rumah tangga, berarti sejak awal almamater tersebut memang dibangun dengan asumsi yang rapuh. Sekaligus menunjukkan bahwa kerja-kerja perawatan masih dipandang sebelah mata dan tidak produktif di kampus.  

Baca Juga:

Ibu Rumah Tangga dan Ojol juga Berhak untuk Kuliah, Universitas Terbuka Menerima Tanpa Batasan Apa pun!

6 Usaha yang Semakin Redup karena Perkembangan Zaman

Bahkan, dalam beberapa konten yang sering dibagikan oleh konten kreator tersebut, menurut keyakinan saya tidak ada hinaan terhadap almamater. Tidak ada pelecehan terhadap ilmu pengetahuan. Yang ada hanya aktivitas hidup yang wajar: memasak, berbagi pengalaman, guyonan menghadapi realitas kehidupan dan tentu saja niatan untuk mendapat penghasilan tambahan. Menariknya, yang merasa tersinggung justru bukan kampus sebagai institusi, melainkan individu yang tampaknya terlalu mengikat harga dirinya pada label berpendidikan.

Banyak lulusan kampus menganggur, nggak salah jika memanfaatkan ruang digital untuk mendapat penghasilan

Tentu kita jangan menutup mata dengan data Februari 2025, jumlah lulusan perguruan tinggi (sarjana/S1) yang menganggur di Indonesia mencapai lebih dari 1,01 juta orang. Sarjana menyumbang sekitar 6,5 persen dari total pengangguran nasional, bahkan menjadi angka tertinggi dalam empat tahun terakhir.

Sehingga di tengah kondisi ini, memanfaatkan ruang digital untuk mendapatkan penghasilan bukan sekadar wajar, tapi logis. Jika lapangan pekerjaan konvensional belum membuka pintu, mengapa tidak membuka pintu lain? Membuat konten, jualan online, hingga berbagi keahlian melalui media sosial adalah cara adaptif untuk bertahan hidup. Justru hal ini menunjukkan kreativitas dan keberanian, bukan aib yang mesti disembunyikan.

Jadi IRT juga pekerjaan mulia

Menjadi seorang IRT, dengan atau tanpa embel-embel alumni PTN, bukan suatu indikator kemunduran. Itu pilihan hidup. Yang justru perlu dikoreksi adalah cara berpikir yang masih gemar mengurutkan martabat manusia berdasarkan profesi atau pekerjaannya. Seolah ada urutan pekerjaan yang pantas tampil di ruang publik, dan menjadi IRT masuk di kategori yang perlu disembunyikan, begitu?

Mbok ya sebagai alumni atau bahkan akademisi kampus semestinya bisa melatih empati, bukan justru merasa berhak mengukur derajat hidup orang lain. Kalau seseorang merasa terganggu oleh pilihan hidup alumni, barangkali yang terusik bukan marwah kampus, melainkan egonya sendiri. Ego yang belum siap menerima bahwa dunia sudah berubah, dan keberhasilan tidak lagi satu jalur.

Pada akhirnya yang perlu mawas diri bukanlah alumni PTN yang memilih menjadi IRT dan berkonten dengan jujur. Yang perlu bercermin justru mereka yang masih sibuk menjaga simbol, tapi lupa bahwa tujuan ilmu adalah memanusiakan manusia, bukan sekadar menghakiminya.

Penulis: Dimas Junian Fadillah
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA 5 Ide Usaha yang Cocok untuk Ibu Rumah Tangga, Bisa Dikerjakan dari Rumah dan Cuan Menjanjikan.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 1 Februari 2026 oleh

Tags: Content Creatoribu rumah tanggairtpekerjaan
Dimas Junian Fadillah

Dimas Junian Fadillah

Magister Administrasi Publik, tertarik menulis isu lokal, politik dan kebijakan publik.

ArtikelTerkait

privilege

Cerita Soal Privilege dan Pilihan Hidup

10 Oktober 2019
Pekerjaan yang Menyenangkan Adalah Hobi yang Dibayar? Mbelgedes!

Pekerjaan yang Menyenangkan Adalah Hobi yang Dibayar? Mbelgedes!

15 Februari 2023
6 Pekerjaan yang Punah karena Perkembangan Zaman Mojok.co

6 Pekerjaan yang Punah karena Perkembangan Zaman

16 Oktober 2025
scan barcodetukang parkir sinis pekerjaan mojok

Suka Duka Jadi Tukang Parkir Selama 6 Bulan

17 September 2020
Nelangsa Penderita Buta Warna di Dunia Kerja : Nggak Dilirik HRD sampai Dapat Persepsi Buruk Kolega

Nelangsa Penderita Buta Warna di Dunia Kerja: Nggak Dilirik HRD sampai Dapat Persepsi Buruk Kolega

14 Agustus 2024
kreator konten

Hati-hati di Internet dan Kehidupan Saat Ini, Jika Blunder Langsung Dijadikan Konten

4 Juli 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Setelah Tahu Gaji HSE, Saya Langsung Mengubur Mimpi Saya Jadi Dosen. Peduli Setan pada Ilmu Pengetahuan, Dompet Tebal Adalah Kunci!

Setelah Tahu Gaji HSE, Saya Langsung Mengubur Mimpi Saya Jadi Dosen. Peduli Setan pada Ilmu Pengetahuan, Dompet Tebal Adalah Kunci!

28 Januari 2026
Alasan Orang-Orang NTT Lebih Memilih Merantau Kuliah ke Jogja daripada Kota Besar Lainnya Mojok.co

Alasan Orang-Orang NTT Lebih Memilih Merantau Kuliah ke Jogja daripada Kota Besar Lainnya

29 Januari 2026
Jalan Mayjen Jonosewojo Surabaya Kawasan Elite, Kualitas Jalan Sulit: Daerah Mahal kok Aspalnya Rusak!

Jalan Mayjen Jonosewojo Surabaya Kawasan Elite, Kualitas Jalan Sulit: Daerah Mahal kok Aspalnya Rusak!

29 Januari 2026
Generasi Sandwich Bukan Pahlawan, Tapi Tumbal Orang Tua (Pexels)

Generasi Sandwich Bukan Pahlawan, Kami Adalah Tumbal Romantisasi “Bakti Anak” yang Terpaksa Menjadi Dana Pensiun Berjalan Bagi Orang Tua yang Gagal Menabung

27 Januari 2026
Sidoarjo Bukan Sekadar "Kota Lumpur", Ia Adalah Tempat Pelarian Paling Masuk Akal bagi Warga Surabaya yang Mulai Nggak Waras

Kalau Saya Nggak Merantau ke Sidoarjo, Saya Nggak Tahu 3 Sisi Gelap Sidoarjo Ini

26 Januari 2026
Pronosutan Kulon Progo, Tujuan Baru para Pelari dan Pencari Ketenangan

Pronosutan Kulon Progo, Tujuan Baru para Pelari dan Pencari Ketenangan

26 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Misi Mulia Rumah Sakit Visindo di Jakarta: Tingkatkan Derajat Kesehatan Mata dengan Operasi Katarak Gratis
  • DLH Jakarta Khilaf usai Warga Rorotan Keluhkan Bau Sampah dan Bising Truk dari Proyek Strategis Sampah RDF
  • Fakta Pahit soal Stunting. Apabila Tidak Diatasi, 1 dari 5 Bayi di Indonesia Terancam “Bodoh”
  • Indonesia Hadapi Darurat Kualitas Guru dan “Krisis Talenta” STEM
  • Kisah Pelajar SMA di Bantul Melawan Trauma Pasca Gempa 2006, Tak Mau Kehilangan Orang Berharga Lagi
  • Ironi Jogja yang “Katanya” Murah: Ekonomi Tumbuh, tapi Masyarakatnya Malah Makin Susah

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.