Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Hiburan Buku

Mengakhiri Langgengnya Ideologi Kejantanan

Fatimatuz Zahra oleh Fatimatuz Zahra
30 Januari 2023
A A
Akhir Penjantanan Dunia Dorongan Revolusi untuk Perempuan dan Laki-laki Terminal Mojok

Mengakhiri Langgengnya Ideologi Kejantanan (Buku Mojok)

Share on FacebookShare on Twitter

Buku Akhir Penjantanan Dunia jadi dorongan revolusi untuk perempuan dan laki-laki mengakhiri ideologi kejantanan.

Judul: Akhir Penjantanan Dunia
Penulis: Ester Lianawati
Penerbit: EA Books
Ketebalan: 303 halaman
Tahun Terbit: 2023

Dari judulnya saja barangkali kita sudah mampu menerka bahwa membaca buku ini tidak hanya akan memperkaya pengetahuan, tapi juga menimbulkan dorongan lebih untuk berbuat sesuatu. Tentu sesuatu tersebut tak lain adalah mengakhiri ideologi penjantanan dunia.

Penulis Akhir Penjantanan Dunia ini barangkali bukan sosok asing lagi, terlebih bagi para pejuang kesetaraan gender. Adalah Ester Lianawati, seorang psikolog yang sebelumnya juga telah menulis buku Ada Serigala Betina dalam Diri Setiap Perempuan, salah satu buku yang jadi topik pembahasan di tongkrongan para aktivis.

Kali ini, Ester memulai karyanya dengan melempar kritik kepada feminisme. Dia merasa setidaknya ada 4 hal yang luput dari perhatian feminisme.

Pertama, kenyataan bahwa perempuan tidak dapat dilepaskan begitu saja dari kelompok penindasnya, yang dalam hal ini maksud Ester adalah laki-laki. Oleh karenanya, alih-alih memandang laki-laki dan perempuan secara dikotomis, Ester menilai, feminisme perlu memandang keduanya secara relasional.

Kedua, bahwa laki-laki sendiri juga terjebak dalam budaya patriarki. Pada poin ketiga, yang juga akan jadi jantung buku ini, adalah bahwa budaya patriarki memiliki ideologi, yaitu ideologi kejantanan. Dan keempat, strategi licik patriarki yang kerap tanpa sadar turut dibela perempuan.

Apa itu ideologi kejantanan

Bagi Ester, tak mungkin penguasaan masif terhadap kedaulatan diri perempuan hanya berakar pada perbedaan morfologi semata. Namun, pasti ada dorongan lain yang mendasari segara bentuk opresi tersebut, hal itulah yang menurut Ester bernama ideologi kejantanan.

Baca Juga:

Mindfulness Parenting Mengajari Saya untuk Tidak Menurunkan Trauma kepada Anak Masa Depan Saya

Kabar Buruk Hari Ini: Perjalanan Seorang Mawa Kresna Selama Menjadi Jurnalis

Ideologi yang menjadikan laki-laki sebagai raja, dan otoritasnya menjadi gambaran otoritas Tuhan. Ideologi tersebut kemudian menjustifikasi kekuasaan maskulin.

Sampai sini sudah terbakar gejolak perjuangan serta rasa penasarannya? Sabar dulu, Ester Lianawati masih akan membakar semangat kita dengan mengungkap adanya reduksi identitas perempuan dalam “trinitas” yang ia sebut sebagai ibu-perawan-pelacur.

Trinitas peran perempuan

Semua perempuan di muka bumi ini, oleh ideologi kejantanan, akan diklasifikasikan ke dalam 3 bagian tersebut. Contoh sederhana, barangkali kita sering mendengar sebuah adagium bahwa laki-laki tidak hanya akan menikahi perempuan baik-baik (kategori perawan) untuk dijadikan ibu dari anaknya, bukan perempuan yang dalam jangka waktu lama membersamainya sebelum menikah (kategori pelacur).

Begitulah cara ideologi kejantanan mempertarungkan perempuan dengan sesamanya. Dengan cara menilai dan mengklasifikasi, kemudian perempuan berlomba menjadi sosok yang diidamkan laki-laki.

Dari tiga klasifikasi mengerikan tersebut, atensi terbesar saya jatuh kepada peran “ibu” yang kerap kali diglorifikasi dalam kehidupan sehari-hari. Seolah-olah semua perempuan harus menjadi ibu. Kewajiban peran tersebut dimanipulasi seolah benar-benar keinginan mereka sendiri, padahal banyak peran patriarki yang mendongkrak “kewajiban” tersebut dengan cara menormalisasi, menghukum yang dianggap tidak normal serta glorifikasi melalui penggambaran kebahagiaan pengalaman menjadi ibu.

Selintas, saya kemudian teringat tulisan Mbak Audian Laili beberapa tahun silam yang dengan sangat sabar menjabarkan alasan bahwa keinginan tak punya anak bukanlah hal yang egois. Setelah membaca buku ini, saya jadi kasihan sama diri saya sendiri dan perempuan-perempuan lain yang tak ingin punya anak. Betapa atas fungsi tubuh kita sendiri, kita perlu panjang lebar menjelaskan alasan pemaklumannya kepada orang lain. Begitulah saya pikir akibat dari konstruksi dan klarifikasi peran “ibu” tersebut.

Lantas, apakah berarti feminisme harus mengharamkan peran ibu tersebut sebagai antitesis? Tentu tidak. Antitesis dari pemaksaan bukanlah pelarangan, melainkan pembebasan. Jadi, sebagaimana juga disebut sebagai salah satu cara perlawanan terhadap ideologi kejantanan, bebaskanlah perempuan memutuskan berdasarkan kemerdekaan dan otonomi tubuhnya sendiri, apakah ia akan menjadi ibu atau tidak.

Langgengnya ideologi kejantanan

Salah satu bukti tak terbantahkan dari langgengnya ideologi kejantanan adalah rivalitas antara satu perempuan dengan perempuan lainnya. Bentuk tertua dalam rivalitas antarperempuan adalah perseteruan antara ibu dan anak, misalnya seperti ibu yang melarang anak perempuannya tampil cantik sehingga terlihat lebih menarik di mata laki-laki dibanding dirinya.

Ingat kasus mertua perempuan yang selingkuh dengan menantunya? Barangkali hal tersebut adalah salah satu cara sang ibu menunjukkan ketidaksukaannya dengan kebahagiaan anak perempuannya.

Di sisi lain, nilai-nilai kejantanan juga dilanggengkan kepada laki-laki melalui berbagai institusi. Mulai dari keluarga, sekolah, hingga lingkungan kerja.

Bukankah umum kita lihat bahwa dalam masyarakat kita memaklumi anak-anak laki-laki bersikap arogan, tidak dituntut untuk berprestasi di sekolah? Dan sangat berbanding terbalik kepada perempuan. Nilai kejantanan juga ditegaskan melalui sugesti bahwa anak laki-laki harus menjadi jagoan dan dilarang menangis.

Akhir Penjantanan Dunia

Lalu apa yang dapat dilakukan untuk mengakhiri ideologi kejantanan dunia yang sudah sedemikian terpatri kuat ini?

Ester Lianawati bilang, perempuan harus melawan. Pertama, melalui otonomi tubuhnya. Perempuan perlu menyadari bahwa tubuhnya yang kerap kali diatur melalui standar kejantanan tersebut, adalah miliknya sendiri yang seharusnya dapat diatur berdasarkan kesadarannya sendiri.

Kedua, mengakhiri rivalitas perempuan melalui persaudaraan antarsesama perempuan. Contoh sederhananya adalah dengan tidak turut merundung dan memperlawankan perempuan istri dan perempuan selingkuhan yang kerap disebut pelakor. Kita perlu fokus pada pelakunya, sang laki-laki yang memutuskan berselingkuh dan melakukan tindakan manipulatif. Si bejat itu, kerap kali menghilang begitu saja dan membiarkan para perempuan saling berkelahi akibat perbuatannya.

Yang juga tak kalah penting adalah bekerja sama dengan laki-laki untuk melakukan banyak hal, mulai dari membangkitkan kesadaran untuk tak lagi melanggengkan ideologi kejantanan sampai bekerja sama dalam pengasuhan anak dengan perspektif kesetaraan gender. Semuanya itu mutlak perlu untuk mengakhiri kejantanan dunia.

Tak hanya perempuan yang perlu melawan, laki-laki, yang juga tak jarang dirugikan oleh standar maskulinitas juga perlu turut serta memutus rantai reproduksi ideologi tersebut.

Melalui buku Akhir Penjantanan Dunia Ester ingin mengatakan bahwa perlawanan terhadap tekanan “ideologi kejantanan” harus dilakukan oleh laki-laki dan perempuan secara relasional. Lewat kritik, analisis, dan saran-saran bernasnya, barangkali tak berlebihan jika buku ini akan menjelma menjadi “buku wajib” para praktisi dan aktivis kesetaraan gender.

Penulis: Fatimatuz Zahra
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Enggan Jadi Keluarga Fasis: Kumpulan Surat dari Seorang Ayah untuk Anaknya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 7 Januari 2026 oleh

Tags: Akhir Penjantanan DuniaBuku MojokKesetaraan Genderreview Akhir Penjantanan Duniareview buku
Fatimatuz Zahra

Fatimatuz Zahra

Sedang belajar tentang manusia dan cara menjadi manusia.

ArtikelTerkait

kesetaraan gender

Mengapa Perlu Memperkenalkan Kesetaraan Gender pada Anak?

27 Mei 2019
Ada Serigala Betina dalam Diri Setiap Perempuan oleh Ester Lianawati: Mari Menjadi Perempuan "Liar"

Ada Serigala Betina dalam Diri Setiap Perempuan oleh Ester Lianawati: Mari Menjadi Perempuan “Liar”

27 Agustus 2023
Deep Talk After Sex: Seni Merawat Keintiman Bersama Pasangan

Deep Talk After Sex: Seni Merawat Keintiman Bersama Pasangan

15 Juli 2023
Love, Explained oleh Disya Arinda: Jawaban dari Kegalauanmu soal Cinta

Love, Explained oleh Disya Arinda: Jawaban dari Kegalauanmu Soal Cinta

10 Agustus 2023
Yang Menguar di Gang Mawar_ 11 Cerita Tentang Waras dan Gila terminal mojok

Yang Menguar di Gang Mawar: 11 Cerita tentang Waras dan Gila

7 November 2021
Enggan Jadi Keluarga Fasis: Kumpulan Surat dari Seorang Ayah untuk Anaknya

Enggan Jadi Keluarga Fasis: Kumpulan Surat dari Seorang Ayah untuk Anaknya

30 Januari 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Bukan Jakarta, Tempat Paling Cocok untuk Memulai Karier Adalah Cilegon. Ini Alasannya!

Cilegon, Kota Industri yang Nggak Kompetitif dan Terlihat Miskin

8 Juni 2026
Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus: Teriak Melawan Penindasan di Luar, tapi Seniornya Jadi Aktor Penindas Paling Kejam organisasi mahasiswa eksternal organisasi kampus

Tiga Tahun Menjadi Fungsionaris Organisasi Mahasiswa, Saya Menyadari bahwa Organisasi Mahasiswa Tak Ada Bedanya dengan Tempat Penitipan Balita

8 Juni 2026
Sisi Gelap Sekretariat UKM Kampus: Ketika Ruang Kerja Bergeser Menjadi Ruang Pribadi

Sisi Gelap Sekretariat UKM Kampus: Ketika Ruang Kerja Bergeser Menjadi Ruang Pribadi

7 Juni 2026
5 Stereotipe Purwokerto yang Sudah “Kedaluwarsa”, tapi Masih Saja Banyak Dipercaya Mojok.co

5 Stereotipe Purwokerto yang Sudah “Kedaluwarsa”, tapi Masih Saja Banyak Dipercaya

8 Juni 2026
Di Mana Kosan Dipijak, di Situ Ada Aturan yang Nggak Ngotak: Kompilasi Peraturan Kos yang Nggak Masuk Akal

Di Mana Kosan Dipijak, di Situ Ada Aturan yang Nggak Ngotak: Kompilasi Peraturan Kos yang Nggak Masuk Akal

4 Juni 2026
Panduan Mengenali Bakso Malang yang Asli dari Kera Ngalam, biar Kalian Nggak Kena Tipu

Susahnya Jadi Arek Malang di Jakarta: Berniat Mengobati Homesick Lewat Bakso Malang, eh yang Jual Malah Orang Tasik

4 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.