Memiliki Teman yang Mengaku LGBT, Menerima Keberadaan Mereka Sebagaimana Manusia Biasa

LGBT

LGBT

Beberapa waktu lalu sempat ramai perihal New York Pride, Parade Komunitas LGBT yang biasa diadakan setiap tahun. Tahun 2019, acara tersebut diselenggarakan di New York, Amerika Serikat tepatnya pada awal Juli lalu. Seperti biasa, dengan sudut pandang masing-masing orang yang melihat hal tersebut langsung memberi reaksi di Instagram, Twitter, dan Facebook.

Setuju atau tidak bagi saya merupakan hal yang biasa, disamping berpendapat adalah hak setiap orang—selama dapat dipertanggungjawabkan. Berkaitan dengan New York Pride, bendera Indonesia pun sempat dikibarkan pada gelaran tahunan tersebut. Hal itu memicu kontra sebagan orang khususnya yang rajin memantau berita terbaru di internet.

Mereka yang kontra berkomentar dan menganggap, rasanya tidak perlu seseorang yang berasal dari Indonesia dan tergabung dalam komunitas dan mengikuti acara LGBT itu sampai mengibarkan bendera merah-putih, seakan merepresentasikan keseluruhan warga Indonesia setuju dengan pesta yang diselenggarakan di New York tersebut.

Bahkan di akun Facebook salah satu teman saya yang juga menginfokan hal itu, banyak yang memaki juga mengumpat kepada mereka yang terkesan pro dengan pesta tersebut. Padahal, maksud yang ingin disampaikan oleh si pemberi komentar adalah soal kesetaraan hak. Sebagaimana diketahui, media sosial memang menjadi tempat yang kurang tepat untuk berdiskusi hal sensitif dan masih tabu bagi budaya sekitar.

Kembali lagi saya tegaskan, soal beda sudut pandang itu bagi saya wajar dalam proses berdiskusi, namun tidak dengan segala umpatan dan makian kasarnya—rasanya tidak perlu sampai begitu. Pada kolom komentar, tidak sedikit yang mencaci seorang LGBT. Sampai dengan saat ini, saya tidak menjadi pro juga tidak kontra. Saya berada di tengah—bukan berarti tidak memiliki pendirian. Sebab, saya berusaha memahami hal tersebut dari kedua sisi.

Saya memiliki teman yang LGBT dan sampai dengan saat ini kami masih berteman dengan baik. Dibanding menghakimi, saya memilih mencoba memahami bagaimana sulitnya ada di posisi itu, dan saya menghargai keberanian dia untuk mengakui bahwa realita yang dihadapi memang seperti itu. Bukan berarti membenarkan apa yang dia lakukan, karena saya mengetahui bagaimana perjuangan yang dia lakukan dan pengakuan untuk bisa kembali menyukai lawan jenis.

Kami berteman sudah cukup lama, terhitung 20 tahun lebih karena saling mengenal sejak masih kecil. Ada teman yang menjauh, ada pula teman yang mengolok. Memang, orang di sekitar—khususnya teman sebaya—sepertinya masih sulit dan berat menerima perihal ini. Padahal, teman saya sudah bersikap biasa saja dan tidak berlebihan, juga tidak menanggapi mereka yang mencaci. Karena dia paham resiko yang harus diterima saat dia mengakui tentang dirinya.

Dia bercerita, sebenarnya tidak butuh caci maki, jika memang orang di sekitar ingin melihat dia sebagaimana mestinya, baiknya mendukung. Toh, dia juga bukannya pasrah—lebih kepada selalu melawan.
Saya ingat bagaimana saat SMA dia pernah bertemu dengan seorang perempuan yang akhirnya dia suka—memiliki ketertarikan. Dia mencoba mendekati laiknya seseorang yang sedang PDKT. Namun dia kurang beruntung, saat menyatakan perasaannya si perempuan menolak. Dan teman saya merasa terpukul karena beranggapan sewaktu ingin mengusahakan sesuatu, ternyata dia gagal.

Kita tidak bisa menghakimi bagaimana keterpurukan seseorang akan sesuatu yang sudah diusahakan. Oleh karena itu, saya lebih belajar untuk memahami akan hal tersebut. Meski saya tidak membenarkan, pun juga tidak memusuhi.

Namun jika ada sesuatu yang rasanya tidak pantas tentu tidak salah jika saya menegur secara langsung dan cukup keras. Semisal, jika ada ucapan yang dirasa cukup vulgar dan diperbincangkan di tempat umum dengan volume suara cukup keras, sehingga terdengar oleh orang di sekitar. Apalagi jika bermesra-mesraan di depan orang banyak. Tentu hal tersebut mengganggu kenyamanan orang yang mendengar dan melihat. Maksud saya sih, jika ingin dianggap setara, iya. Bukan berarti mengabaikan norma umum yang sejatinya tidak tertulis.

Dan untuk yang mudah sekali bicara soal azab, rasanya hal tersebut merupakan kuasa Tuhan. Sebagai manusia memang sudah selayaknya saling mengingatkan tanpa menghakimi, apalagi sampai mendahului Tuhan. Tentu hal tersebut tidak dibenarkan.

Exit mobile version