Sebelum menulis ini, aku sudah menahan diri sekuat tenaga. Tapi makin mendengarkan cerita Mbak Ve di siniar Podcast Malam Kliwon membuatku makin mengelus dada. Dari awal cerita sampai akhir, yang terdengar hanyalah dongeng ahistoris dan anakronis. Tapi diklaim seenak jidat sebagai ‘Masa Lalu Tamansari’.
Sabar, Prabs… Sabar… Jangan cemari tanah tumpah darahmu dengan kemarahan ra cetho.
Tapi penjelasan Mbak Ve dalam Podcast Malam Kliwon yang mengaku masuk portal gaib ke Tamansari masa lalu jelas ra cetho, karena menunjukkan fragmen aneh dan 90 persen salah. Sebenarnya Mbak Ve bisa diterima kalau bilang dia masuk ke kerajaan gaib atau apalah. Tapi kali ini dia membuat klaim sesat yang dipuji ratusan komentar.
Kenapa aku bisa bilang sesat? Ayo ikut aku jalan-jalan di Tamansari tahun 1860-an. Tapi bukan versi ngehalu ala siniar dan narasumber misterius ini.
Portal gaib menuju kekacauan
Aku langsung skip siniar ini sampai di bagian kenangan 2008. Mbak Ve mengaku sedang mengunjungi Tamansari, lalu diajak seorang tour guide sepuh untuk masuk pintu samping yang katanya melengkung. Lalu, sesuai dugaan, mereka pindah dunia. Menuju Tamansari sebelum hancur karena gempa 1867. Ingat, ini klaim Mbak Ve. Nanti aku jelaskan apa yang terjadi karena gempa besar itu.
Mereka memulai perjalanan di sebuah kebun bunga mawar yang sangat luas. Juga ke dome atau kubah penuh burung tropis. Sampai sempat mengambil air mawar di sana. Lalu mereka menuju tepian danau luas tempat Pulo Kinanti di sisi barat, kanal pemisah di tengah danau, Pulo Gadung di sisi timur, dan Pulo Panembahan yang jadi ruang semedi tanpa atap.
Perjalanan dilanjutkan menuju sebuah istal kuda luas dan garasi kereta Kraton Jogja. Singkat cerita, mereka kembali ke dunia nyata dengan pesan Si Mbah tadi kalau yang dilihat Mbak Ve adalah Tamansari sebelum hancur oleh gempa besar.
Kita sudah kembali ke dunia nyata kan? Mari kita bahas apa yang terjadi di dunia nyata.
Anakronisme 1867
Klaim bahwa Tamansari hancur karena gempa 1867 sebenarnya tidak 100% salah. Tapi kisah Mbak Ve punya plothole parah: Tamansari sudah terbengkalai sejak 1812. Bukan karena gempa besar, tapi karena Geger Sepehi atau Spoy.
Pada masa pemerintahan eyang Sri Sultan HB II, Pasukan Inggris menyerang Kraton Jogja dari sisi sebelah timur, dan menghancurkan Beteng Baluwerti yang belum lama ini direnovasi. Serangan ini tidak hanya membuat Sultan HB II dibuang, tapi merusak sistem hidrolik Tamansari. Sehingga danau buatan itu mengering 50 tahun sebelum Mbak Ve ke sana secara gaib.
Perang Jawa dan gempa besar 1867 hanya menambah kerusakan Tamansari yang memang sudah tidak difungsikan sebagai tempat plesiran. Maka tidak mungkin kalau Mbak Ve datang secara gaib sesudah tahun 1867. Tapi bisa saja kan Mbak Ve datang saat serangan Inggris belum terjadi?
Masalahnya Mbak Ve bilang kalau dia diajak ke istal kuda yang nantinya jadi museum Wahanarata. Menurut sejarah, istal itu dibangun Sri Sultan HB VI pada 1855. Berarti setelah Tamansari jadi puing terbengkalai dan embrio Pasar Ngasem sudah muncul. Dan tidak mungkin Mbak Ve bisa melihat danau luas di sana.
Ini yang langsung membuatku yakin kalau yang dilihat Mbak Ve bukanlah masa lalu Tamansari. Karena melihat paduan narasinya, ada anakronisme parah. Tentu dengan bias informasi yang mungkin tidak perlu aku hakimi lebih lanjut. Tapi masalahnya bukan anakronisme semata, tapi ahistoris parah perkara situs Tamansari sendiri.
Ahistoris bentuk dan nama bangunan
Aku langsung menyorot dua objek awal: taman bunga mawar dengan air mancur, serta kubah penuh burung tropis. Keduanya tidak pernah ada di Tamansari. Meskipun Tamansari memang kebun bunga, tapi bukan kebun ala-ala istana Eropa abad pertengahan. Justru dipenuhi pohon kepel, beringin, dan pohon simbolis lain.
Aviary atau kandang burung ini juga tidak ada dalam denah Tamansari. Kalaupun bias informasi, pasti yang dilihat adalah kandang ayam di sekitar pemandian Umbul Binangun. Tapi tidak pernah ada kubah apa pun.
Sekarang kita bedah danau buatan versi Mbak Ve, atau biasa kami sebut segaran. Apa itu Pulo Kinanti? Apa itu Pulo Gadung? Tidak ada keduanya di Tamansari. Yang ada adalah Pulo Kenanga, sebagai villa utama di tengah danau. Lalu beberapa atap ventilasi lorong milik Sumur Gumuling dan Urung-Urung. Serta Pulo Panembung di selatan dan lingkar atas Sumur Gumuling di barat Pulo Kenanga.
Lokasinya saja sudah tidak sesuai fakta. Kalau Pulo Kinanti adalah silap lidah dari Pulo Kenanga, lokasinya malah ada di timur. Dan di selatan ada Pulo Panembung, yang dihubungkan lewat urung-urung. Lalu apa itu Pulo Gadung di timur? Aku sampai bingung apa maksudnya.
Tamansari yang mana nih?
Yang paling fatal adalah kanal yang membelah danau serta Pulo Panembahan. Segaran Tamansari adalah hamparan air luas tanpa ada kanal apa pun. Akses yang tersedia hanya lewat lorong bawah tanah atau perahu dari dermaga.alias pongangan.
Pulo Panembahan yang katanya tempat semedi ini juga punya kesalahan ganda. Panembahan adalah gelar kebangsawanan raja, yang akhirnya kini jadi nama daerah di Jogja. Kalau tempat meditasi raja itu namanya Pulo Panembung, dari kata nembung atau meminta. Dan lokasinya dengan atap, bukan tanpa atap seperti kisah Mbak Ve.
Justru Mbak Ve tidak bisa menunjukkan beberapa bangunan asli yang kini hilang akibat gempa 1867. Pertama adalah Gedhong Lopak-Lopak yang kini hanya tersisa lahan kosong. Juga Pongangan Timur, sebuah dermaga yang kini jadi pemukiman. Jika benar Mbak Ve kembali ke Tamansari masa lalu, klaim melihat dua objek ini sudah lebih dari cukup sebagai bukti.
Jangan bilang ini Tamansari
Sebentar, aku harus minum dulu. Aku masih bisa menulis lebih banyak perihal anakronisme kisah Tamansari masa lalu versi Mbak Ve dan siniar Podcast Malam Kliwon. Tapi hanya dengan bukti di atas, aku sudah bisa mengambil dua kemungkinan.
Pertama, Mbak Ve tidak pernah datang ke masa lalu Tamansari. Tapi masuk ke sebuah kerajaan gaib yang mungkin berada di Tamansari. Sehingga tidak ada kesamaan denah serta fungsi sesuai realitas. Meskipun ini hanyalah caraku berpikir positif.
Kedua, pengalaman melihat Tamansari masa lalu ini tidak nyata, atau paling tidak terdistorsi fantasi bebas. Mungkin sepotong kastil Eropa dengan Aviary dan taman bunga yang ada air mancur. Lalu sepotong gambaran The Great Canal di Tiongkok. Dan ditambah potongan gim RPG yang berlatar istana di tengah danau.
Tapi aku berani jamin, yang dilihat Mbak Ve bukan Tamansari jaman apa pun. Bukan jaman dulu, sekarang, atau masa depan. Lalu sebenarnya apa yang dibahas dalam siniar Podcast Malam Kliwon itu? Peta Harvest Moon kah? Atau, atau mungkin nih, kalian belum riset kah Tamansari kek mana?
Kalau iya mah, nggak apa-apa juga sih.
Penulis: Prabu Yudianto
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Menyelami Sejarah Tamansari Jogja, Sendang Pemandian Raja yang Memiliki Banyak Mitos
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.