Mas Kaesang, Jangankan Etika Ngirim Email, Bilang “Tolong” dan “Terima Kasih” Saja Kita Sering Kelupaan

Mas Kaesang, Jangankan Etika Ngirim Email, Bilang "Tolong" dan "Terima Kasih" Saja Kita Sering Kelupaan

Siapa sih yang tidak kenal Kaesang Pangarep, si anak bungsu presiden Jokowi? Mas Kaesang, beberapa waktu kemarin membuat sebuah cuitan di Twitter. Ia men-screenshot inbox e-mailnya tentang seorang yang mengirim lamaran tanpa embel-embel subjek dan pengantar apa pun. Sontak, menurut Mas Kaesang hal tersebut pantas dijadikan konten, lengkap dengan caption, “Wkwkwkwkwkw masa S-1 cara melamar pekerjaan begini.”

Menurut saya pribadi, niat Mas Kaesang mungkin baik, mau membuka cakrawala diskusi. Melempar pertanyaan eh penyataan bagaimana bisa seorang lulusan S-1 melamar pekerjaan tanpa etika dan semacamnya. Dannn, benar apa kata Mas Yamadipati Seno, anak bungsu memang selalu disalahkan. Apalagi ini anak bungsunya Pak Jokowi. Lha Pak Jokowi nggak ngapa-ngapain aja disalahin, apalagi pas Mas Kaesang polah begitu. Iya, auto dihujat dan always bawa-bawa Pak Jokowi.

Tapi banyak pula yang pro dan paham maksud cuitan Mas Kaesang. Sebab, dia termasuk owner dan saya rasa juga terjun langsung dalam hal HRD-an. Jadi, ya berhak dan pantas pula apabila dia menyinggung perihal lamaran kerja ini. Sebenernya bukan Mas Kaesang saja, HR atau employer sering mengeluhkan case yang model begini. Tapi tetep saja banyak orang yang nggak sadar-sadar.

Benar, bahwasanya dalam mencari pekerjaan bukan hanya hardskill saja yang dibutuhkan tetapi juga softskill. Dan beretika dalam mengirim lamaran juga termasuk softskill yang harusnya dikuasai oleh semua pelamar, apalagi di zaman industri 4.0 ini.

Saya jadi ingat dulu ketika kuliah, kalau tidak salah semester dua. Di mana saya dan teman saya mengirimkan berkas PKM kepada dosen via email. Nggak tahu, atau memang nggak mencari tahu etika yang baik, saya dan teman saya langsung mengirimkan file tanpa kata pengantar. Esok harinya si dosen menegur saya dan teman saya bahwa etika dalam berkirim email adalah dengan subjek yang jelas, memberikan pengantar kepada yth., memberikan salam, isi singkat, dan sebagainya.

Sejak saat itu, saya dan teman jadi tahu etika yang baik dalam dunia per-e-mail-an! Jadi menurut saya sah-sah saja sih kalau Mas Kaesang ini bikin konten begitu. Yang salah adalah ketika Mas Kaesang bikin caption dengan ada “Wkwkwkwkwk” nya, sehingga dianggap merendahkan orang lain. (Besok-besok kalau mau bikin konten jangan pakai wkwkwkw mas, sepertinya banyak yang nggak suka kalau sampean bahagia. Eh.)

Karena mengirim e-mail adalah sebuah etika dalam bekerja, saya rasa maklum saja masih banyak missing dan kesalahan yang sering terjadi. Jangankan etika berkirim lamaran, lha wong etika yang paling dan seharusnya sering diucapkan saja masih sering diabaikan. “‘Please’ and ‘thank you’ are simple words, and yet it seems that most people don’t use them enough. Basic etiquette is often missing in society, in both our personal lives as well as our professional ones. You can make yourself stand out in a rude society by remembering your manners, treating people as respected individuals, and doing what others are unwilling to do.” By Rhonda Scharf, Contributor Consultant, Speaker, Trainer and Author. Saya mengutip kalikat tersebut dari sebuah artikel berjudul Saying Please and Thank You is Always Necessary dari sebuah blog www.huffingtonpost.ca.

Iya, semakin modern kehidupan kita, semakin mudahnya teknologi, mengucapkan ‘tolong’ dan ‘terima kasih’ semakin canggung diucapkan. Padahal semua kata itu mudah, tidak butuh 3 detik untuk mengucapkannya.

Saya ketika dimintai tolong atau diperintah teman tidak langsung menjalankan peintah mereka. Saya selalu menjawab, “password-nya?” Maksud saya, password di sini adalah kata “tolong”. Tetapi beberapa teman saya ada yang kebanyakan guyon yang kalau ditanya password malah jawab, “Luwak White Coffee, nyaman di perut nggak bikin kebun”. YaRabbi~

Tapi hal yang saya lakukan mempan kok, besok-besoknya ketika teman meminta bantuan mereka tidak lupa dengan kata tolong. Pun perihal mengucapkan terima kasih, kalau setelah mereka dibantu tapi lupa tidak mengucapkan, saya nyindir dengan saya yang berucap terima kasih. Dan mereka pun sadar.

Betapa sulitnya kata-kata simpel yang dampaknya besar bagi umat ini, ucapan terima kasih dan tolong notabennya memiliki berbagai manfaat, menciptakan kerukunan, memperkuat hubungan sosial, menghargai kebaikan orang, dan mungkin menjadi dorongan agar orang lain mau membantu kita lagi di masa mendatang. Entah apa yang membuat kita masih kesulitan mengucapkan simple words itu, mungkin gengsi, mungkin sungkan, atau mungkin anggaran pendidikan yang kurang.

Saya menemukan komentar di cuitan Mas Kaesang yang membuat saya sedikit ngakak, “Thats probably because your dad has been giving small amount of budget for education.”

Hahahaha, yakali masalah etika saja salah anggaran pendidikan. Ini perkara tanggung jawab dalam etika pribadi cuy!

Tapi ya namanya periode pak Jokowi, apa pun masalahnya salah Pak Jokowi. Itu sudah paten, layaknya akidah. (TITIK. NO DEBAT. HEHEHE). Betul begitu, Netizen?

BACA JUGA Contoh Pertanyaan Interview Kerja yang Sering Muncul dan Tips Menjawabnya atau tulisan Rinawati lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version