Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup Personality

Mari Memahami Tersiksanya Para Perfeksionis

Taufik oleh Taufik
14 Mei 2019
A A
perfeksionis

perfeksionis

Share on FacebookShare on Twitter

Sebagai orang yang menganggap diri normal, ada banyak cara untuk menghakimi orang lain yang berbeda dengan kita. Salah satu adalah mereka yang kita anggap sebagai perfeksionis. Namun, kenapa kita harus menghakimi orang-orang ini? Apa salah mereka?

Melihat segala sesuatu dengan kacamata yang sempurna tidaklah mudah. Jika anda pernah mengalaminya—sama, saya juga. Bahkan sampai sekarang saya kadang berpikir, apakah saya adalah termasuk kategori perfeksionis ini—rasa tidak nyaman ketika melihat baris meja atau kursi yang tidak sejajar, letak buku yang tidak searah, penempatan duduk yang berpencar dan hal-hal lain yang tidak beraturan. Jika anda mengalami hal yang sama menanggapi ketidakteraturan macam yang saya sebutkan—Selamat! Anda mungkin termasuk dalam kelompok perfeksionis.

Perfeksionis memang bukanlah sebuah penyakit. Toh tidak—atau mungkin hanya belum—ada penelitian ilmiah atau medis yang menyatakan hal tersebut. Walaupun sebenarnya ada juga hal-hal buruk yang mengintai kepada mereka yang memiliki kecenderungan perfeksionis.

Pada posisi ini justru kita harus bisa memahami para perfeksionis. Menjadikan perfeksionis pada level tertentu sebagai hal biasa. Level selanjutnya dari ini harus bisa lebih diwaspadai namun tidak untuk di musuhi. Karena perfeksionis sendiri berasal dari sebuah adab dan keberaturan yang kita bangun kepada mereka sejak dini.

Memahami para perfeksionis adalah memahami kebiasaan teratur yang telah kita bangun sejak dini. Bangun pagi, mandi, berangkat sekolah, pulang, makan, berkegiatan bebas, mandi sore, makan malam lalu tidur. Kegiatan tersebut selanjutnya menjadi template keseharian yang mengawali level perfeksionisme seseorang. Lalu selanjutnya, kita merasa perlu melakukan sejumlah hal yang membawa pada next level dari perfeksionis itu sendiri. Harus meletakan sesuatu pada tempat tertentu, semisal buku dan pensil. Meletakan buku pada tempatnya jika sudah dibaca atau tidak digunakan, sepatu pada rak sepatu, menjemur handuk pada tempat seharusnya, dan kegiatan lain yang memang arah dan tujuannya ke tingkat selanjutnya dari perfeksionis.

Pada tingkat yang lebih ekstrim, para perfeksionis ini memperlihatkan hal-hal yang kadang di luar nalar orang pada umumnya. Mencatat hal-hal yang akan dan telah dilakukan secara detail, membuat schedule secara berkala, bahkan detail waktu sampai dengan jam menit dan detik masuk dalam perhitungan para orang-orang golongan ini. Tapi, jika kamu pernah menjadi salah satu dalam kepanitiaan entah dalam kegiatan sekolah, kampus, kampung atau kegiatan-kegiatan dalam skala yang lebih besar, sebaiknya serahkan rundown acara kepada para perfeksionis ini. Pasti akan cepat beres!

Kembali kepada apa sebab dari para perfeksionis ini muncul, maka hal paling dasar yang perlu kita lihat sebagai solusi menghadapinya adalah pada tingkat keluarga. Bagaimana mereka berada dalam keluarga, diperlakukan dan berkegiatan sebagai anggota di dalamnya. Karena pada awalnya, saya pikir mereka juga mengalami ketersiksaan yang sangat besar. Ditunjuk sana dan sini. Melakukan ini dan itu. Memperbaiki ini dan itu. Maka pada hakikatnya perfeksionis adalah kecenderungan yang diwariskan secara turun temurun.

Di sisi lain, kita juga harus bisa memahami bagaimana para perfeksionis ini menjalani hari dengan konsep keberaturan. Bagaimana perasaan mereka ketika sesuatu hal tidak bersesuaian dengan pandangan mereka. Bagaimana sakitnya hati bahkan mata mereka hanya karena pintu tidak ditutup. Bagaimana muring-muringnya mereka ketika lampu tidak dimatikan saat pagi. Bagaimana cemberutnya mereka melihat posisi meja dan kursi yang tidak berantakan, kabel-kabel yang ditinggalkan berserakan, meja makan yang tidak dibersihkan setelah makan dan hal-hal berantakan lain yang membuat hati mereka tidak karuan.

Baca Juga:

Wahai Maba Jurusan Psikologi, Berhenti Menganggap Kuliah Ini Akan Menyembuhkan Gangguan Kesehatan Mentalmu

Pengalaman Mengonsumsi Obat Psikiater Sebagai Penyintas Gangguan Mental

Jika kita bisa padankan sakitnya mereka menjalani hari yang serba tidak beraturan seperti halnya kita mengharapkan gebetan kita tetiba datang ke rumah membawa sesuatu yang kita inginkan. Hanya mentok sebagai hal yang kita impikan. Ketika tidak terjadi, sakit hati pada akhirnya. Sakit mereka para perfeksionis ini justru terjadi ketika ketidakberaturan itu sendiri terjadi.

Saya pernah merasakan menjadi seorang perfeksionis—atau bahkan sedang mengalaminya. Bahkan mungkin, semua orang juga pernah pada posisi sebagai seperti golongan ini. Tidak bisa dipungkiri karena keteraturan adalah hakikat kita sebagai manusia. Lahir, bersekolah, bekerja, nikah, beranak pinak, menjadi tua dan mati. Sebuah lingkaran setan yang justru kita amini kebenarannya. Maka sebagai seorang yang pernah mengalami secara langsung, asalkan ada kemauan—kita memiliki cara untuk bisa mengatasinya secara mandiri. Atau jikapun itu terjadi pada orang lain, kita setidaknya berusaha untuk memahami dan memaklumi ketersiksaan mereka.

Pada akhirnya, mari untuk tidak menghakimi para perfeksionis sebagai pesakitan. Mari menyadari keberadaan mereka sebagai sebuah fenomena yang akan hilang pada suatu waktu.

Terakhir diperbarui pada 8 Oktober 2021 oleh

Tags: DisorderGangguan MentalPerfeksionis
Taufik

Taufik

Ide adalah ledakan!

ArtikelTerkait

Untuk Kamu yang Masih Nggak Percaya kalau Gangguan Kesehatan Mental Itu Ada terminal mojok.co

Untuk Kamu yang Masih Nggak Percaya kalau Gangguan Kesehatan Mental Itu Ada

11 Oktober 2021
Perfeksionis

Perfeksionis, bukan Kepribadian yang Mudah

30 Mei 2019
5 Pemicu Gangguan Mental bagi Seorang Pendeta Terminal Mojok

5 Pemicu Gangguan Kesehatan Mental bagi Seorang Pendeta

4 Agustus 2022
Cerita Penyintas Gangguan Mental yang Dapat Stigma Negatif di Masyarakat terminal mojok.co

Cerita Penyintas Gangguan Mental yang Dapat Stigma Negatif di Masyarakat

19 November 2020
Pengalaman Pertama Mengonsumsi Obat dari Psikiater Sebagai Penyintas Gangguan Mental (Unsplah)

Pengalaman Mengonsumsi Obat Psikiater Sebagai Penyintas Gangguan Mental

23 Desember 2022
Seon-a dan Dong Seok (Akun Instagram TvN)

Our Blues dan Isu Gangguan Mental pada Ibu Rumah Tangga

17 Mei 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ponorogo Cuma Reognya Aja yang Terkenal, Kotanya sih Nggak Terkenal Sama Sekali

Ponorogo Cuma Reognya Aja yang Terkenal, Kotanya sih Nggak Terkenal Sama Sekali

2 Februari 2026
Batik Air Maskapai Red Flag: Delay Berjam-jam, Kompensasi Tak Layak, dan Informasinya Kacau Mojok.co

Batik Air Maskapai Red Flag: Delay Berjam-jam, Kompensasi Tak Layak, dan Informasinya Kacau

5 Februari 2026
8 Kasta Saus Indomaret dari yang Pedas hingga yang Biasa Aja Mojok.co

8 Kasta Saus Indomaret dari yang Pedas hingga yang Biasa Aja

4 Februari 2026
Stasiun Plabuan Batang, Satu-Satunya Stasiun Kereta Api Aktif di Indonesia dengan Pemandangan Pinggir Pantai

Bisakah Batang yang Dikenal sebagai Kabupaten Sepi Bangkit dan Jadi Terkenal?

1 Februari 2026
Pengendara Mobil Nggak Usah Ikut-ikutan Lewat Jalan Tikus, Kalian Nggak Diajak!

Pengendara Mobil Nggak Usah Ikut-ikutan Lewat Jalan Tikus, Kalian Nggak Diajak!

31 Januari 2026
Panduan Bertahan Hidup Warga Lokal Jogja agar Tetap Waras dari Invasi 7 Juta Wisatawan

Jogja Memang Santai, tapi Diam-diam Banyak Warganya yang Capek karena Dipaksa Santai meski Hampir Gila

2 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Surat Wasiat Siswa di NTT Tak Hanya bikin Trauma Ibu, tapi Dosa Kita Semua yang Gagal Melindungi Korban Kekerasan Anak
  • Tak Menyesal Ikuti Saran dari Guru BK, Berhasil Masuk Fakultas Top Unair Lewat Golden Ticket Tanpa Perlu “War” SNBP
  • Tan Malaka “Hidup Lagi”: Ketika Buku-Bukunya Mulai Digemari dan Jadi Teman Ngopi
  • Ironi TKI di Rembang dan Pati: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Karena Harus Terus Kerja di Luar Negeri demi Gengsi
  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan
  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.