Ada satu hal yang selalu saya sukai dari naik ojek online: kemungkinan tersesat secara tidak sengaja, lalu menemukan sesuatu yang tidak pernah kita rencanakan sebelumnya. Biasanya cuma gang sempit atau warung murah. Tapi sore itu, saya menemukan makam. Bukan makam biasa. Namanya Makam Kembang Kuning Surabaya.
Makam ini lokasi tepatnya di Pakis Sidokumpul, Kota Surabaya. Dan jujur, saya tidak menyangka bahwa salah satu kompleks makam Tionghoa terbesar di Surabaya ternyata berjarak tidak sampai 10 menit dari kos saya.
Sore itu macetnya Surabaya sudah seperti antrean sembako. Bapak driver memilih jalan pintas. Kami masuk ke gang-gang kecil, melewati perkampungan, lalu tiba-tiba saya melihatnya. Hamparan makam. Tapi ini bukan makam yang biasa saya lihat. Makam Tionghoa, dan ketika saya melihat ke sekeliling, saya menemukan tulisan, Desa Pakis Sidokumpul.
Yap, makam Tionghoa inilah yang saya maksud, Makam Kembang Kuning.
Jalur penyelamat dari kemacetan
Makam Kembang Kuning Surabaya ini bentuknya jauh dari kesan sederhana. Tidak ada nisan kecil yang menancap lurus seperti makam pada umumnya, tapi berupa bangunan permanen dari beton dan batu, dengan ukuran yang bisa sebesar kasur king size, bahkan lebih. Bagian utamanya berupa pusara yang ditinggikan, dengan nisan batu berbentuk papan tegak di sisi depan, biasanya bertuliskan nama, tanggal lahir, dan wafat dalam aksara Mandarin maupun Latin.
Yang paling khas adalah struktur melengkung setengah lingkaran yang memeluk bagian belakang makam, membentuk formasi seperti kursi atau tapal kuda. Lengkungan ini bukan sekadar ornamen, tapi bagian penting dari filosofi fengshui, yang dipercaya berfungsi sebagai pelindung, seolah-olah leluhur yang dimakamkan sedang “dipangku” oleh alam.
Di bagian depan nisan, biasanya ada meja altar batu datar, tempat keluarga meletakkan dupa, makanan persembahan, atau bunga saat sembahyang. Membuat keseluruhan bentuknya benar-benar mirip kursi batu raksasa. Kalau tidak ada tulisan nama orang meninggal, mungkin saya akan mengira ini halte pribadi arwah kelas menengah atas.
Yang paling mengejutkan, makam-makam ini tidak tersembunyi di balik tembok tinggi. Kompleks Makam Kembang Kuning ini terbuka. Dan jarak makam dari jalan hanya sekitar dua meter. Pengendara benar-benar melintas di tengah makam itu karena digunakan sebagai jalur alternatif.
Jadi tempat main layangan dan jualan gorengan
Melihat ukurannya besar dan posisinya di ketinggian, permukaan atas makam itu datar dan cukup luas. Itulah sebabnya, sore itu saya melihat anak-anak bisa berdiri di atasnya untuk bermain layangan, dan beberapa orang dewasa dengan santai menggelar terpal di atasnya. Sesuatu yang, jujur saja, sebelumnya tidak pernah saya bayangkan bisa terjadi di atas sebuah makam.
Kekagetan saya belum selesai. Saya tidak bercanda, ada kambing yang ikut numpang teduh di bawah atap makam. Kambing.
Kambingnya terlihat damai sekali. Mungkin dia merasa dilindungi leluhur yang bersemayam di Makam Kembang Kuning. Saya hanya bisa tertegun. Bapak driver, yang mungkin sudah hafal ekspresi penumpang yang baru pertama lewat sini, berkata santai, “Di sini sering buat jualan, Mbak. Kalau malam rame.”
Saya memastikan, “Di makam ini, Pak?”, “Iya, Mbak. Sepanjang sini. Nanti malam lampu-lampu. Orang jualan makanan. Udah biasa.” Udah biasa, merupakan kalimat paling kuat untuk menjelaskan bagaimana manusia bisa beradaptasi dengan apa pun. Bahkan kematian.
BACA JUGA: Makam Sunan Botoputih dan Penarik Pusaka yang Berpura-pura
Makam Kembang Kuning, (solusi) lahan terbuka di tengah keterbatasan Surabaya
Rumah terakhir itu hari ini tidak lagi hanya menjadi tempat menyimpan jasad, tapi juga menjadi bagian dari kehidupan. Diduduki, dinaiki, dijadikan tempat berteduh, bahkan tempat orang mencari penghidupan di kota sebesar Surabaya yang semua lahannya semakin terbatas. Mungkin dulu keluarga membangun dengan harapan akan dikenang selamanya, kini berdampingan dengan rutinitas orang-orang yang bahkan tidak tahu siapa penghuninya.
Dan mungkin, di situlah ironi terbesar sebuah kota bernama Surabaya. Bahwa di kota sebesar ini, tak ada ruang terbuka yang benar-benar untuk warganya. Hingga mereka harus memakai makam untuk tempat berkumpul. Ruang terbuka yang dipunya, ternyata menyita kedamaian para jiwa yang harusnya beristirahat.
Makam Kembang Kuning Surabaya, akhirnya, membuat saya sadar satu hal sederhana: kadang yang perlu kita takuti bukan tempatnya. Tapi cerita tentang bagaimana manusia memperlakukannya.
Penulis: Ferika Sandra
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Jejak Makam yang “Berceceran” di Gang-gang Kampung Peneleh Surabaya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
