Informasi
ADVERTISEMENT

Majalengka berhasil bikin orang Sumedang seperti saya resah hidup di sana

Majalengka berhasil bikin orang Sumedang seperti saya resah hidup di sana Mojok.co

Saya orang Sumedang yang sekarang merantau ke Majalengka untuk bekerja. Bagi yang belum tahu, Majalengka adalah kabupaten kecil di wilayah timur Jawa Barat. Secara geografis kabupaten ini berbatasan langsung dengan Cirebon, Indramayu, Sumedang, Ciamis, Kuningan, Tasikmalaya dan Kabupaten Garut. 

Walau Sumedang dan Majalengka masih sama-sama tanah Sunda, ternyata saya tetap mengalami juga gegar budaya atau culture shock. Di luar ekspektasi saya, ternyata banyak hal di Majalengka yang bikin warga Sumedang seperti saya kaget tinggal di Kota Angin ini. 

#1 Bahasa Sunda di Majalengka ternyata agak berbeda

Walau sama-sama berada di daerah Sunda, Majalengka memiliki bahasa Sunda yang unik. Di wilayah tengah kota ke arah gunung, memiliki bahasa Sunda yang cenderung mirip dengan Sumedang , Kuningan, Ciamis. Namun, ternyata ada beberapa kata yang cuma berlaku atau ada di Majalengka saja. Misal,  ogeh, uing, dewek, sorangan, dan masih banyak lagi.  

Bahasa dan intonasi berbeda mulai terasa pada wilayah utara yang berbatasan dengan Indramayu dan Cirebon. Bahasa yang digunakan bahasa Sunda yang sudah tercampur bahasa Jawa wilayah Indramayu dan Cirebon dengan intonasi yang terkesan lebih keras. Singkatnya, bahasa Sunda yang saya bawa terlalu halus untuk orang-orang Majalengka.

#2 Musim angin lebih kencang dibanding daerah lain

Kecepatan angin di Majalengka nggak main-main. Terlebih di Musim Angin sekitar bulan Juli hingga September 2026, bisa mencapai 60 km/jam.  Angin ini disebut sebagai Angin Kumbang atau angin fohn. Angin terbentuk karena pergerakan udara dari atas gunung ke dataran rendah. 

Akan tetapi, perlu digarisbawahi, angin kumbang di Majalengka lebih kencang dan membahayakan dibanding Cirebon dan Kuningan. Bahkan, tahun ini menyebabkan korban jiwa satu orang karena tertimpa videotron di bundaran Cigasong, Majalengka.

Saya punya cerita yang lucu akibat musim angin ini. Bukan hal yang aneh bila musim angin kumbang tiba, jendela, pintu, pohon, bahkan kabel listrik bergoyang begitu kencang. Bahkan, angin ini pernah menerbangkan toren air milik rumah saya yang kebetulan kosong. 

Lucunya, saya baru tahu bahwa toren rumah saya terbang setelah diberitahu orang yang lewat. Katanya toren saya sudah ada di lahan kosong tak jauh dari rumah saya dalam kondisi sudah pecah bagian bawahnya dan beliau amankan di rumah kosong di belakang rumah saya.

#3 Majalengka ternyata sepi

Kota Pensiun mungkin julukan yang tepat untuk Majalengka. Aktivitas di sana tidak seramai daerah lain. Jalanan perlahan sepi dimulai maghrib. Aktivitas di malam hari hanya terjadi ketika acara-acara tertentu saja saja. 

Selain itu tidak terdapat mal, bioskop, atau tempat-tempat yang hiburan atau rekreasi lainnya menjadi salah satu faktor sepinya Majalengka pada malam hari. Meskipun cukup banyak kafe menjamur, tapi tingkat keramaian konsumen tidak seramai kota tetangga dan lainnya. Tak jarang banyak tempat usaha yang cepat berganti jenis usahanya.

#4 Akses transportasi umum yang sulit

Selain kereta api hanya bisa diakses melalui Stasiun Prujakan dan Stasiun Kejaksan Cirebon, armada bus pun tidak tersedia untuk kota-kota lain secara langsung. Maksudnya seringkali bukan yang sekali naik, jadwalnya di jam tertentu, dan untuk akses ke transportasi tersebut harus ditempuh dengan kendaraan lain. Sehingga tetap menambah lama waktu perjalanan. 

Keberadaan Tol Cipali dan Bandara Kertajati ternyata tidak menjadikan Majalengka mudah diakses. Sebuah realita yang cukup disayangkan. Bahkan, ingin ke Bandara Kertajati pun sangat sulit mendapatkan transportasi umum. Dari rumah naik ojek untuk cari travel ke bandara, itu pun harus perhatikan jadwal. 

Asal tahu saja, transportasi umum dari bandara ke Majalengka pun terbatas, dan ini menyulitkan. Bahkan, lebih mudah travel dari arah Bandara Soekarno Hatta menuju Majalengka. Repotnya lagi, akses transportasi di dalam kabupaten antar desa kecamatannya pun sulit, sehingga memiliki kendaraan pribadi di daerah ini menjadi kunci. 

Hal di atas hanya beberapa keresahan yang saya alami saat pertama kali datang dan tinggal di kota ini. Tapi, bagi yang ingin menikmati hidup dengan santai jauh dari hiruk pikuk kota metropolitan, memilih kota ini untuk tinggal mungkin bisa dipertimbangkan. 

Terlepas dari semua hal di atas, pelan-pelan saya mulai membiasakan diri. Mau bagaimanapun kewajiban saya untuk menyelesaikan amanah untuk bekerja di kota ini masih panjang.

Penulis: Herviani Sri Nurhidayat
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Tegal memang bukan kota yang cocok untuk semua orang.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 10 Oktober 2026 oleh .

Herviani Sri Nurhidayat

Kontributor aktif media opini dan satir.