Informasi
ADVERTISEMENT

Keunikan UIN Jogja, Mahasiswanya seperti Nggak Kuliah di Kampus Islam

Keunikan UIN Jogja, Mahasiswanya seperti Nggak Kuliah di Kampus Islam Mojok.co

#2 Sudah terbiasa dengan mendengar pemikiran “nyeleneh”

Coba sekali-kali kalian mampir ke Masjid UIN Jogja. Kalian akan menemukan kegiatan yang berbeda dengan masjid-masjid pada umumnya. Kegiatan rutin di sana bukan pengajian dari ustaz ternama, tapi berbagai diskusi yang kebanyakan orang pandang “nyeleneh”. Kalian bisa mengikuti diskusi filsafat Islam, kajian pemikiran feminisme, hingga bedah buku kontemporer. Di sinilah tempat kalian bisa mendengar ajaran-ajaran yang banyak orang anggap “nyeleneh” tanpa takut dihakimi. 

Ruang untuk berpikir “nyeleneh” sebenarnya terbuka lebar di UIN Jogja, tidak hanya di masjidnya. Di ruang-ruang akademi pun hal ini juga diterima. Kalian ingat nggak disertasi kontroversial pada 2019 yang membahas konsep milk al-yamin dari Muhammad Syahrur? Iya, yang bikin geger itu. Nah, disertasi tersebut diloloskan di UIN Jogja.

Jangan buru-buru menghakimi. Bagi anak UIN, diskusi soal pemikiran semacam itu adalah hal biasa. Bahkan, ketika Rektor UIN Jogja, Pak Al Makin, pernah bilang agar pelaku penendang sesajen di Gunung Semeru dimaafkan saja, mahasiswa UIN Jogja tidak kaget. Bukan karena setuju atau tidak, tapi karena paham bahwa setiap pemikiran, selama argumentatif, layak untuk didengar.

#3 Singa podium saat aksi

Kalau Jogja ada demo, besar kemungkinan komando lapangan datang dari mahasiswa UIN Jogja. Nggak heran, sejak muda mereka sudah terbiasa latihan orasi, debat terbuka hingga bakar ban di tengah jalan hehehe. 

Dari dalam kampus sendiri, suara mereka sering menggema lebih lantang dari toa musala. Nggak cuma jago ngaji, mereka juga andal dalam menggalang massa, menyusun strategi aksi, dan jadi orator utama yang bikin semangat peserta demo meledak-ledak. Bukan perkara cari panggung, tapi karena memang punya kemampuan. Di forum-forum diskusi, mereka lihai menyampaikan gagasan. Di jalanan, mereka tetap fasih bicara kebenaran—meski harus berhadapan dengan aparat. Kalau mau cari singa podium Jogja, ya cari saja anak UIN.

Tulisan ini bukan bermaksud mengotak-ngotakkan mahasiswa. Kuliah di UIN Jogja bukan soal jadi paling alim atau paling liberal, tapi soal belajar jadi manusia yang berpikir, bertanya, dan berani berbeda. Di kampus ini, kami diajarkan bahwa agama bukan sekadar hafalan, tapi laku hidup yang terus bergumul dengan realitas.

Kami terbiasa saling berbeda tanpa saling mencela. Terbiasa berdiskusi tanpa saling menggurui. Dan yang paling penting, terbiasa berpikir tanpa takut dibilang sesat. Karena bagi kami, iman yang sehat justru lahir dari pikiran yang bebas. Saya yakin, dinamika semacam ini sulit ditemukan di perguruan tinggi Islam lain. 

Penulis: M. Afiqul Adib
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA Jogja Makin Bebas, Mahasiswa Baru Muslim Lebih Baik Tinggal di Pondok daripada Ngekos

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 3 Juni 2025 oleh .

M. Afiqul Adib

Seorang tenaga pendidik lulusan UIN Malang dan UIN Jogja. Saat ini tinggal di Lamongan. Mulai suka menulis sejak pandemi, dan entah kenapa lebih mudah menghapal kondisi suatu jalan ketimbang rute perjalanan.

Exit mobile version