Betapa Menderitanya Mahasiswa dari Jurusan Nggak Terkenal, Saat Lebaran Harus Menjelaskan Kuliahnya ke Keluarga Besar

Betapa Menderitanya Mahasiswa dari Jurusan Nggak Terkenal, Saat Lebaran Harus Menjelaskan Kuliahnya ke Keluarga Besar Mojok.co

Betapa Menderitanya Mahasiswa dari Jurusan Nggak Terkenal, Saat Lebaran Harus Menjelaskan Kuliahnya ke Keluarga Besar (unsplash.com)

Mahasiswa dari jurusan nggak terkenal adalah kelompok paling menderita saat Lebaran.

Lebaran menjadi momen sekali dalam setahun yang ditunggu-tunggu mungkin hampir seluruh warga Indonesia. Pasalnya, momen ini menjadi salah satu waktu liburan terpanjang di Indonesia yang mayoritas warganya Muslim. Para pekerja sampai mahasiswa perantau yang lama nggak pulang pun rela menempuh jarak jauh untuk bertemu sanak saudara di kampung halaman.

Momen kumpul keluarga merupakan hal yang menyenangkan, tapi menjadi sedikit berat bagi beberapa kelompok. Salah satunya, mahasiswa yang kuliah di jurusan nggak terkenal. Bagi mereka momen silaturahmi terkadang berubah menjadi interview dadakan. 

Saya salah satunya. Banyak saudara saya nggak mengenyam bangku perkuliahan, itu mengapa mereka penasaran dengan kehidupan kampus. Mau tidak mau saya jadi sasaran pertanyaan. Masalahnya, saya berkuliah di jurusan yang nggak terkenal sehingga penjelasan pun menjadi panjang kali lebar. 

Mahasiswa jurusan nggak terkenal harus mengulang seribu kali jawaban

Pertanyaan yang timbul biasanya terdiri dari dua yaitu basa-basi dan penasaran. Banyak orang yang menganggap pertanyaan basa-basi seperti kuliah di mana, lulus kapan, sampai urusan peluang pekerjaan merupakan pertanyaan yang horor. Namun, bagi saya pertanyaan tersebut nggak menyeramkan sama sekali.

Pertanyaan paling menyeramkan bagi saya justru pertanyaan lanjutan yang datang akibat rasa penasaran. Terlebih jurusan saya cukup asing didengar sehingga orang awam pun pasti nggak langsung tahu. Menjawab seribu pertanyaan yang sama menjadi rutinitas yang harus saya lakukan setiap kali kumpul keluarga dilaksanakan.

Saya sih sebenarnya nggak ada masalah dengan menjawab pertanyaan yang berulang kali. Masalahnya, apabila penjelasannya perlu semakin mendalam, maka pertanyaan dari kerabat pun akan semakin beragam dan nggak berujung. Pertanyaan seperti “Kuliahnya isinya ngapain aja?” sampai “Bedanya dengan jurusan X apa?” merupakan dua contoh pertanyaan yang bagai buah simalakama. Kalau nggak dijawab kok nggak sopan, tapi kalau dijawab kok malah menimbulkan pertanyaan baru. Akhirnya, jawaban paling aman adalah “Iya mirip dengan jurusan X”, biar nggak semakin panjang.

Apapun penjelasannya, PNS adalah kunci

Setelah obrolan ngalor-ngidul sampai ke ilmu yang dipelajari, pada akhirnya kerabat pasti memberikan masukan untuk menjadi PNS. Semua penjelasan yang telah saya berikan seakan sia-sia karena artinya apa yang saya jelaskan sepertinya nggak terlalu memberikan gambaran saking asingnya mahasiswa dari jurusan ini. 

Maksud saya, penjelasannya tadi sudah panjang, lho. Tapi ternyata memang jurusan nggak terkenal memang sulit dipahami. Wajar dong saya kecewa kalau lawan bicara masih kurang paham setelah obrolan yang begitu panjang?

Ya, saya nggak bisa menyalahkan juga sih, toh omongan tersebut juga bisa menjadi doa juga sebenarnya. Apapun penjelasannya, menjadi PNS sepertinya tetap menjadi doa yang masuk akal untuk semua jurusan. Masyarakat awam juga masih punya pemahaman bahwa menjadi PNS adalah pekerjaan yang pasti dan aman untuk jangka panjang.

Berulang lagi di tahun depan

Nggak sampai disitu, pertanyaan yang sama akan kembali dilontarkan tiap tahun karena keluarga besar sulit mengingat jurusan kuliah yang asing di telinga mereka. Bahkan, saat sekarang saya yang sekarang sudah nggak lagi jadi mahasiswa pun masih ditanya dengan pertanyaan yang serupa. Bedanya paling hanya di keterangan waktu dari “Sekarang kuliah jurusan apa?” menjadi “Dulu kuliah jurusan apa?”

Anehnya, saya pun masih bingung bagaimana menjawab pertanyaan sama yang telah dilontarkan selama bertahun-tahun lamanya. Rasanya sulit saja memberikan penjelasan terbaik kepada kerabat agar jurusan asing ini bisa melekat dan mudah diingat.

Saya pun masih bertanya tanya, sampai kapan pertanyaan ini tetap muncul tiap tahunnya. Ya kali nggak berubah, apalagi sekarang saya sudah mulai bekerja, kenapa kok pertanyaannya nggak diubah kesitu saja om dan tante? Ampunnn saya bingung jawabnya ~

Penulis: Muhammad Iqbal Habiburrohim
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA FIB UNAIR Surabaya Dianaktirikan Kampus, Mahasiswa Menderita seperti Kuliah di Universitas Pinggiran

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version