Lika-liku Kurir Paket: Paket Banyak, Sambat. Paket Dikit, Bingung

Lika-liku Kurir Paket: Paket Banyak, Sambat. Paket Dikit, Bingung

Ilustrasi kurir (Pixabay.com)

Jadi kurir paket kadang lucu. Kalau paket yang dateng banyak, kita sambat. Tapi, kalau yang dateng dikit, kita yang bingung.

Jam 14.15 WIB mobil truk rit ketiga datang. Begitu pintu box mobil dibuka, semua mata teman-teman kurir melotot. Bukan perkara isi box mobil itu penuh, tapi sebaliknya. Ditambah lagi tersiar informasi, bahwa nggak ada pengiriman paket untuk rit keempat. Artinya rit ketiga ini adalah delivery terakhir untuk hari ini. 

Informasi dari leader kami, mulai Minggu 24 Agustus sampai akhir bulan, proyeksi dari management load paket ke depannya akan menurun. Meskipun Toko Ijo punya promo bulanan Waktu Indonesia Belanja, tapi load kurir paket yang bertambah nggak terlalu berarti.

“Paket banyak, pada sumeng. Paket dikit, bingung.” Kalimat itu terlontar begitu saja dari seorang teman yang sedang menurunkan dua buah karung berisi paket-paket. Saya rasa kalimat itu nggak ditujukan buat siapapun. Nggak ditujukan buat atasan apalagi buat perusahaan. Saya yakin teman saya sekadar ngedumel perkara dua kondisi yang sering kami hadapi.

Setelah kedua karung itu dibongkar, totalnya ada 64 paket dibagi untuk 22 orang kurir. Hasilnya rata-rata ada yang dapat 4 sampai 3 paket per orang. Saya sendiri cuma dapat tiga paket untuk area delivery saya. Semua teman-teman kurir menertawakan kedatangan paket yang cuma seupil itu.

Tertawa terbahak-bahak setelah menunggu kedatangannya selama berjam-jam. Tertawa dalam keadaan yang sebetulnya sedih. Rasanya memang kayak lagi di-prank. Bedanya kami dapet zonk, bukan uang dari Baim Wong. Sungguh ironi. 

Semenjak sistem upah kurir paket berubah menjadi hitung per paket, kondisi ini sangatlah mengenaskan. Persoalannya, kalau paket yang datang sedikit, cuan yang didapat juga akan sedikit. Sementara saya mesti stand by di gudang dari jam 8 pagi sampai malam–sampai tugas jadwal pickup terakhir.

Memang, situasi sepi kayak gini bikin rasa “haus paket” makin menjadi-jadi. Saking hausnya, saya sampai mencari-cari paket yang nyasar masuk ke cabang saya, terus paket itu saya usahakan langsung dikirim. Bukan dioper ke cabang yang semestinya. Yang penting alamat tujuannya nggak lebih 2 KM dari gudang saya. Jarang banget teman-teman kurir yang mau melakukan hal itu dengan alasan di luar jangkauan dari area operasional kurir.

Belum sampai di situ, sebagai usaha lebih seorang kurir paket yang membutuhkan paket sebagai upahnya, saya selalu coba menghubungi seller langganan buat nanyain ada paket untuk di-pick up atau nggak. Padahal belum masuk request pick up-nya. Tapi hasilnya, seringkali saya mendapatkan jawaban, “Belum ada nih, Bang.”

Dari sekian banyak seller langganan yang saya hubungi, rata-rata memang mengalami penurunan jumlah paket pick up. Dari yang biasanya saya pickup 20-an paket di satu seller, kini saya cuma dapat 3 paket untuk di satu seller. Berapa pun jumlahnya, saya bakal seneng banget. Jangankan cuma 1 paket, 1/2 paket juga bakal saya pick up. Sesegera mungkin saya akan meluncur.

Pertengahan tahun kayak gini kondisi marketplace memang lagi sepi, dan sepertinya semua kurir paket paham akan hal ini. Saat saya sedang jalani tugas pickup, ada seorang seller yang curhat perihal sepinya omzet. Dia sering kali tombok untuk membayar karyawannya. Bahkan sampai “merumahkan” karyawannya. Kemudian tugas admin atau packing di-handle sendiri olehnya.

Dalam banyak bidang usaha, “merumahkan” karyawan di saat produktivitas lagi menurun, atau melakukan sebaliknya, menjadi pola yang sering terjadi. Entah kenapa hal ini menjadi seolah normal-normal saja, padahal karyawan yang “dirumahkan” jelas akan dirugikan.

Hal yang sama juga sedang terjadi kepada kami, para kurir. Di ekspedisi tempat saya bekerja, Senin lalu sudah memutasi dua kurir paket ke cabang lain. Sebab, menurut proyeksi management, di cabang saya kelebihan tenaga sehingga produktivitas menjadi rendah.

Target produktivitas di cabang saya adalah paket delivery + pickup = 110 paket per hari. Minimal harus tercapai 80 persen setiap kurirnya. Yang sering terjadi saat ini, produktivitas kami cuma mencapai di angka 70 persen. Di suatu hari saya pernah cuma dapat 26 paket pickup + 32 paket delivery. Totalnya 58 paket. Itu udah maksimal banget. Kondisi paket delivery dan pick up udah bersih, tapi angka masih jauh dari target.

Managemen mengambil langkah taktis “meliburkan” beberapa kurir secara terjadwal. Jadi saya bisa libur 5-6 hari dalam sebulan yang awalnya 4 hari dalam sebulan atau 26 hari kerja. Tujuannya supaya kurir yang masuk bisa mencapai target produktivitas. Kalau target itu tercapai, nggak cuma upah per paket aja yang kami dapat, ada yang namanya insentif produktivitas. Tapi di sisi lain, kalau kami libur, uang kehadiran juga nggak akan dapat.

Kalau kebijakan “meliburkan” kurir secara terjadwal dan bergantian ini nggak dilakukan, produktivitas setiap kurir akan terus-terusan di bawah target, maka siap-siap kami akan kehilangan teman lagi yang akan dimutasi entah ke cabang mana. Bisa jadi cabang yang jauh di pelosok Wakanda sana

Mendengar kata “mutasi” rasanya itu sedih banget. Secara teori, kurir paket yang produktivitasnya selalu rendah, maka dia yang akan dimutasi. Kalau kayak gini, semua kurir akan berlomba-lomba mencapai target. Pekerjaan semakin kompetitif. Sikut-sikutan sesama kurir paket pasti akan terjadi.

Saling berebut paket adalah satu hal yang kami benci, sebab selama ini lingkungan kerja saya dibangun atas dasar prinsip kebersamaan. Yang namanya teamwork itu sama-sama capek, sama-sama nyantai, sama-sama kerja. Load paket sedikit kami rasakan sama-sama, load paket banyak kami pikul sama-sama. 

Suka nggak suka, kami sepakat dengan kebijakan “meliburkan” kurir secara terjadwal Toh ini sifatnya cuma sementara. Kalau load paket bertambah banyak lagi, kebijakan tersebut akan hilang. Yang pasti kami nggak mau kehilangan teman kongkow, curhat, bercanda, dan berbagi yang sudah terjalin bertahun-tahun. Kami boleh membenci sistem kerja yang sedang berlangsung, tapi kami nggak mau membenci teman kerja akibat kompetisi.

Dari paket sedikit, upah per paket, tetap di target, sampai ada pemutasian adalah kondisi yang sebenar-benarnya melelahkan secara mental dan pikiran. Beda halnya saat load paket banyak. Lelah secara fisik, tapi hasilnya akan sangat terasa. Mungkin saat ini kami memang diminta untuk beristirahat.

Tapi sebentar lagi bulan Agustus berakhir, akan banyak orang yang sudah gajian. Saya berharap kondisi marketplace membaik. Seberapa besar pun load paket yang masuk dari Toko Ijo, itu akan menjadi sebuah lilin yang terang. Apalagi berdekatan dengan 9.9 dari si Oren. Yuks, bisa, yuks~

Penulis: Allan Maullana
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA 3 Perkara yang Bikin Saya Kesal Saat Mengantar Paket COD

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.
Exit mobile version