Legen Tuban kini serba oplosan, tak layak jadi oleh-oleh khas daerah

Tuban, Kota Elite Branding Sulit: Kabupaten yang Takdirnya Memang Sulit Terkenal, Diusahain pun Percuma lamongan legen tuban

Tuban, Kota Elite Branding Sulit: Kabupaten yang Takdirnya Memang Sulit Terkenal, Diusahain pun Percuma (David Kristianto via Unsplash)

Bagi sebagian orang, salah satu hal yang tidak boleh dilewatkan saat berkunjung ke Kabupaten Tuban adalah membeli legen. Minuman klasik yang menyegarkan, manisnya kalem, dan aromanya khas banget. Namun cepat atau lambat, menurut keyakinan saya, minuman ini akan kehilangan peminat.

Minuman tradisional ini dikenal mengandung banyak sekali manfaat bagi tubuh. Sayangnya, bagi saya yang beberapa kali berkunjung ke Tuban, masih sulit mendapatkan legen Tuban yang murni. Banyak oknum nakal yang menjual legen-legen oplosan. Maraknya praktik culas ini seolah dibiarkan liar tanpa pengawasan. Mereka memperdagangkan legen palsu di tepi-tepi jalan dan juga spot-spot wisata utama di Tuban.

Di sisi lain, Tuban memang kelihatan lagi getol-getolnya bersolek demi urusan branding wisata. Salah satu proyek besarnya adalah revitalisasi Alun-alun Tuban yang katanya sampai menghabiskan dana belasan miliar rupiah. Pusat kota dibongkar pasang biar terlihat modern di mata publik. Tapi kalau boleh jujur, bagi saya alun-alunnya tetap biasa saja. Tidak ada yang istimewa.

Kalau dipikir-pikir, memoles daerah dengan memajukan wisata itu mustinya beriringan dengan kuliner khas setempat. Dan pemerintah Tuban sepertinya terlalu fokus memoles fisik untuk memanjakan mata, tapi urusan minuman tradisional yang jadi ikon asli daerahnya malah diabaikan. Dampaknya ya begitu, legen Tuban yang dijual di spot wisata utama pun mutunya jadi liar tanpa kontrol sama sekali.

Kelalaian pengawasan ini akhirnya jadi pengalaman zonk buat saya waktu ikut rombongan ziarah ke makam Sunan Bonang kapan lalu. Meski saya tidak pernah beruntung saat berbelanja legen, tapi tetap saja ingin beli dan berharap kali ini saya tidak salah pilih.

Dan yahh, lagi-lagi pengalaman minum legen ini sangat tidak menyenangkan. Rasanya aneh banget. Manis, memang iya, tapi bukan manis alami. Manisnya terasa sangat pekat dan menetap di lidah sampai kerongkongan. Bukannya menghilangkan haus di tengah terik matahari Tuban, legen palsu ini malah bikin tenggorokan gatal dan memicu reaksi batuk berkali-kali.

Cuan instan dari turis musiman

Saya jadi mikir sendiri kenapa kuliner legendaris se-ikonik legen Tuban, sekarang justru dikepung pedagang nakal. Apalagi kalau bukan karena mereka mengejar untung instan dari pasar konsumen musiman yang tidak pernah mati.

Area makam Sunan Bonang dan alun-alun itu magnet uang yang gila-gilaan karena setiap hari didatangi ribuan peziarah dari luar kota. Para pedagang nakal ini tahu betul kalau sebagian besar pembeli adalah wisatawan yang habis beli langsung pulang ke kota asal. Mereka tahu konsumen tidak bakal balik lagi ke lapak mereka dalam waktu dekat.

Setelah saya cari infonya, katanya apa yang dilakukan oknum pedagang di Tuban demi melipatgandakan stok dan keuntungan, mereka tega mengoplos nira siwalan asli dengan air biasa dan pemanis buatan dosis tinggi. Mereka tidak peduli lagi apakah rasa legennya berubah jadi aneh atau tidak, yang penting barang dagangan laku.

Legen jadi salah satu alasan saya datang ke Tuban

Merasakan badan drop akibat legen palsu akhirnya bikin saya gatal untuk mempertanyakan fungsi kontrol dari pemerintah daerah, terutama dinas-dinas yang mengurusi perdagangan atau pariwisata kota. Karena legen jadi minuman khas daerah, ia adalah representasi pertama yang diingat wisatawan seperti saya saat mendengar kata Tuban.

Sangat disayangkan kalau kondisi menjamurnya pedagang legen nakal ini dibiarkan. Tata kota Tuban bisa jadi lebih baik dengan revitalisasi seperti di alun-alun. Tapi saya yakin tidak semua orang yang datang ke tuban karena itu saja, terkadang kulineran dan berbelanja oleh-oleh khas Tuban juga bisa jadi suatu alasan.

Penulis: Mohammad Mukarom
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA 4 Hal Ciamik di Tuban yang Membuat Orang Lamongan Seperti Saya Iri Dengki

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version